
"Kau sedang apa Mine?" tanya Reza yang saat ini sedang melihat Jasmine mondar-mandir bak setrikaan.
"Sudah beberapa hari ini ayah tidak pernah menelfon ku, aku khawatir terjadi sesuatu padanya." Ucap Jasmine dengan nada bergetar seperti menahan tangis. Reza terdiam sejenak ketika mendengar perkataan Jasmine.
"Jangan mendrama mine, mungkin uncle juga sedang sibuk di fikir positif saja." Ucap Lunna yang baru saja kembali ke apertemen kakaknya.
"Dari mana kau?" tanya Reza menatap selidik pada adiknya.
"Hanya jalan-jalan untuk menghirup udara malam yang segar." Ucap Lunna sekenanya lalu pergi melangkah ke kamarnya.
"Tidak mungkin aku mengatakan baru saja diner dengan Nathan, bisa di giling habis aku sama kakak."
"Ada apa sayang." Ucap ayahnya Jasmine dengan suara parau. Jasmine yang tadinya senang ayahnya menjawab panggilan telefon nya langsung terdiam saat mendengar suara ayahnya yang tertahan.
"Ayah, apa kau baik-baik saja?" tanya Jasmine mulai merasa ada yang tidak beres di sana.
"Ayah baik-baik saja Mine. Baik-baik lah disana sayang, ayah selalu menunggu mu kembali ke pangkuan ayah."
"Ayah, apa yang terjadi dengan mu sebenarnya?" tanya Jasmine dengan suara tertahan, namun air matanya kini mengalir deras di pipinya. Bagaimana tidak, ayahnya sedari tadi berkata seperti seseorang yang sedang mati-matian menahan rasa sakitnya.
"Ayah...." Panggil ayahnya Jasmine menggantung dari balik telepon, dan tadi dapat terdengar jelas suara ayahnya Jasmine yang semakin melemah.
"Ayah... Ayah!" panggil Jasmine.
"Nanti Ibu kabari kembali ya Mine." Ucap ibunya Jasmine lalu memutus telfon begitu saja.
Jasmine frustasi dengan keadaan seperti ini, bukan hanya kali ini dia menghadapi masalah yang sama dimana ayahnya tidak pernah mengatakan keadaan tubuhnya. Jasmine masih ingat betul dimana hari kelulusan universitas jenjang S1 di Amerika. Dan saat itu hanya ayah dan ibunya Reza yang hadir di sana. Setelah pulang ke Jerman, barulah ia tahu bahwa ayahnya sedang meregang nyawa menghadapi penyakit nya.
"Aku mau pulang." Ucap Jasmine menghapus air matanya lalu berjalan ke arah lemarinya.
"Jasmine jangan kekanakan."
"Kau bilang apa? kekanakan? Bisa jadi ayah ku kini sedang terbaring lemah di rumah sakit, aku tidak mau kejadian tiga tahun lalu terulang. Ayah ku selalu saja manja kepada ku ketika dia hanya terserang demam. Tapi pada saat ayah sedang meregang nyawa, dia tidak pernah mengatakannya kepada ku. Dia meminta semua orang tutup mulut di hadapan ku mengenai penyakitnya, dan sekarang kau bisa mengatai ku kekanakan?! Bahkan saat itu kau juga tutup mulut bukan? Katakan!" Bentak Jasmine.
__ADS_1
"Baiklah aku mengaku salah, tapi kau mau apa? Pakaian mu yang ada di sana sepuluh kali lipat lebih banyak. Sudah cepat bersiap, kita akan pergi menggunakan pesawat pribadi keluarga." Ucap Reza.
"Lun... Tok... Tok... Tok..." panggil Reza mengetuk pintu kamar adik semata wayangnya.
"Ada apa kak?" tanya Lunna saat gadis itu membuka pintu kamarnya.
"Apa kau ikut dengan kami ke Jerman?" tanya Reza.
"Tidak, aku di sini saja. Cukup berikan aku kartu masuk apertemen."
"Kau kan sudah tau password nya, untuk apa kartu lagi?" tanya Reza.
"Untuk berjaga-jaga jika aku lupa, sekarang mana kartunya?" ucap Lunna.
"Ada di kamarku, di laci nakas." Ucap Reza lalu pergi berlalu ke kamarnya untuk bersiap.
"Uncle hanya sakit biasa bukan sekarat kenapa kalian begitu mendrama sih." gumam Lunna lalu masuk kembali ke kamarnya.
"Kenapa lama sekali!" geram Jasmine.
"Hei, Hei! Kau mau kemana?" tanya Reza menghentikan gerakan Jasmine yang akan pergi ke pusat kendali.
"Aku mau menyuruh mereka cepat." Ucap Jasmine.
"Pletakkk..." Sentilan kecil dari Reza membuat Jasmine meringis.
"Auh! Sakit!" pekik Jasmine.
"Itu hanya sentilan kecil, ini baru... Pletakkk!" Reza menyentil kembali dahi Jasmine lebih keras dari sebelumnya membuat Jasmine memekik, antara kaget dan sakit.
"Aku ingin memukul mu!" ucap Jasmine. Reza dengan senang hati memberikan telapak tangan kirinya.
"Plakkk!"
__ADS_1
"Auh! Benar di pukul?!" ucap Reza dengan pandangan tidak percaya ke arah Jasmine.
"Biar kau puas!" ucapnya membuang muka.
Reza yang melihat wajah kesal Jasmine hanya tersenyum, setidaknya ia berhasil mengalihkan pikiran Jasmine untuk sementara waktu. Dia pun sebenarnya tidak tau pasti apa yang terjadi dengan Unclenya di Jerman, yang ia tahu saat ini ayahnya Jasmine sedang di rawat di rumah sakit keluarga mereka. Dan Reza juga terpaksa merahasiakan hal ini dari Jasmine atas permintaan Uncle kesayangannya.
"Mina cupu?"
"Diam lah aku tidak mau berdebat dengan mu." ucap Jasmine tidak mau terlibat pertengkaran konyol dengan Reza. Saat pikiran nya masih berkelana tentang ayahnya.
"Sudah dingin, datar, cupu lagi." ejek Reza membuat Jasmine kembali tersulut emosi. Reza yang melihat Jasmine mengepalkan tangannya yang berada di pangkuan gadis itu hanya tersenyum, dugaannya benar jika sifat sepupu kecilnya yang berponi kini masih berada di dalam tubuh Jasmine yang sekarang. Masih bertempramental buruk.
🍃🍃🍃
"Untuk apa kita datang ke rumah sakit?" tanya Jasmine saat mobil yang mereka kendarai terparkir rapi di rumah sakit keluarga mereka. Setelah mereka mendarat, Reza langsung menuju ke mobil yang sudah di siapkan anak buahnya agar lebih mudah bepergian.
"Tentu saja menjenguk ayah mu. Sudah jangan banyak bicara, ayo masuk." Ucap Reza membuka seat belt nya.
"Reza bagaimana kau bisa tau ayah ku sedang di rawat inap di rumah sakit?" tanya Jasmine saat mereka berjalan menuju kamar rawat ayahnya.
"Aunty yang memberi tahu ku satu minggu yang lalu." Reza melihat jam tangannya. Saat ini pria itu berjalan penuh kharisma saat melewati beberapa orang.
"Jadi kau sudah tau ayah ku sedang sakit?! Tetapi mengapa kau tidak pernah mengatakan apapun kepada ku?!" geram Jasmine.
"Membicarakan itu nanti saja, saat ini yang lebih penting adalah menemui ayah mu." Ucap Reza melangkahkan kaki panjangnya dengan cepat membuat Jasmine kewalahan menyeimbangkan langkah mereka.
"Tadi kau sangat tenang, kenapa sekarang kau terlihat terburu-buru seperti itu?" tanya Jasmine.
"Saat kita tadi mendarat ayah mu sedang drop." Ucapnya membuat Jasmine membeku seketika. Reza yang tidak mendengar derap langkah kaki Jasmine juga menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun kepada ku?!" Jasmine mengatakannya dengan mata yang berkaca-kaca. Reza yang melihat Jasmine ingin menangis hanya tersenyum. Jika tidak berkaitan dengan ayahnya, Jasmine tidak akan mungkin mengeluarkan ekspresi sebenarnya yang di pendam gadis itu. Baik itu senang, sedih ataupun dalam masa terpuruk Jasmine akan mengekspresikan itu hanya kepada ayahnya dan hanya tentang ayahnya.
To be continued...
__ADS_1