Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 27


__ADS_3

Jasmine termenung di mejanya, menatap kosong pada layar komputer di hadapannya. Perkataan Hanna ketika mereka berbincang di kamar mandi terus terngiang-ngiang di benak Jasmin. Ketika Jasmine masih asik dengan lamunannya...


"Cup." Seseorang mencium pipinya membuat mata Jasmine terbelalak kaget. Jasmine yang menyangka jika yang melakukan hal itu adalah Reza hanya diam saja karena tidak ada satu orangpun yang ada di sana kecuali mereka, saat ini dirinya sudah bertekad untuk diam dan berbicara seperlunya saja kepada Reza, tidak ada Jasmine yang cerewet dan bertempramental buruk, tidak ada Jasmine yang arrogant, dan tidak ada Jasmine yang akan tersenyum ramah kembali kepada suaminya itu, yang ada hanya Jasmine yang dingin nan datar tanpa ekspresi.


Pria di sampingnya kembali mengecup pipi Jasmine agar wanita di sampingnya itu memperhatikannya. Saat Ia ingin kembali mengecup pipi wanita itu, Jasmine berbalik dan membuat bibir mereka berdua menempel satu sama lain, membuat Jasmine terbelalak karena itu bukan suaminya. Saat Jasmine ingin menarik diri, pria di hadapannya langsung menarik tengkuk Jasmine dan menciumnya lebih ganas, Jasmine setengah mati menjauhkan tubuhnya namun nihil karena tubuhnya di dekap erat oleh pria itu.


Tangan kiri lelaki itu memeluk erat tubuh Jasmine, dan tangan kanannya tetap berada di tengkuk Jasmine. Ketika mereka berdua asik bercumbu, keduanya tidak menyadari kehadiran seseorang yang tengah menyaksikan permainan panas kedua makhluk di hadapannya. Kilatan kemarahan seakan terpancar dari kedua mata elangnya, kedua tangan pria itu terkepal erat hingga membuatnya menjadi putih.


"Buk!" Reza memukul kuat wajah pria yang sedang bercumbu dengan istrinya. Jasmine langsung menjauhkan tubuhnya dari pria itu dan menatap Reza dengan nafas tersengal mencoba menetralkan kembali nafasnya.


Gilang tersimpuh kelantai dari tempat ia terduduk, ujung bibirnya robek karena Reza memukulnya dengan sangat keras. Gilang menyeka ujung bibirnya yang dengan tangan kiri yang terkepal erat.


"Bastard!" teriak Gilang bersiap meninju kembali orang yang meninjunya. Namun tangan pria itu terhenti ketika menyadari siapa orang yang di makinya.


"Ada apa?" ucap Reza dingin ketika tangan Gilang berhenti, mata tajam pria itu seakan-akan siap menghunus tubuh Gilang, kilatan kemarahan jelas terpancar di matanya.


"Maaf pak." ucap Gilang menundukkan kepalanya. Reza tidak memperdulikan perkataan Gilang dan langsung menarik kasar tangan Jasmine agar ikut dengannya. Jasmine yang merasa akan di interogasi hanya diam dan mengikuti langkah suaminya.

__ADS_1


Reza menghempaskan tubuhnya istrinya ke sofa namun dirinya tidak memikirkan untuk melawan suaminya. Suaminya itu menutup jendela ruangannya yang menghadap ke meja Jasmine. "Apa kau bisa menjelaskannya!" ucap Reza mencampakkan remote itu di meja yang ada di hadapan Jasmine. Kilatan kemarahan tampak jelas di katanya, namun Jasmine hanya diam lalu menatapnya dengan malas.


"Kau melihatnya sendiri bukan? Apa yang harus di jelaskan?" ucap Jasmine dengan nada tak kalah dinginnya. Reza melayangkan telapak tangannya hendak menampar wajah Jasmine, namun tangannya itu terhenti seketika, Reza meremas telapak tangannya lalu mengembalikan ke tempat semula.


"Kenapa kau ingin menampar ku? Silahkan! Aku tahu perbuatan ku itu salah, tapi aku tidak pernah melakukan hal menjijikan seperti yang kau lakukan." Ucap Jasmine menantang Reza.


"Jika kau bisa melakukan hal itu, kenapa aku tidak? Aku memang salah, tetapi kesalahan itu terjadi karena aku meminta mu menikahi ku. Bodohnya aku, ya aku memang bodoh." lanjutnya, Jasmine tidak ingin menjadi seseorang seperti pemeran suara hati istri yang di khianati, yang bodoh tanpa melakukan apapun, dirinya ingin menjadi wanita tegar yang menghadapi setiap masalah.


"Betapa bodohnya aku." ucap Jasmine menarik dasi suaminya, membuat Reza mau tidak mau memajukan tubuhnya. Jasmine menatap keseluruh wajah suaminya itu, mengabsen setiap inci wajah Reza dan saat ia menatap ke bibir Reza wanita itu hanya tersenyum penuh arti lalu menatap manik mata suaminya, Jasmin mengabaikan tatapan mata Reza yang menatap manik matanya gadis itu lebih memilih membereskan rambutnya yang berantakan.


"Benar bukan?" ucapnya melepaskan dasi Reza dan mengusapnya bagai membersihkan dasi itu. Jasmine berjalan keruang ruangan itu, matanya di penuhi kilatan mengingat Gilang mencium bibirnya dengan rakus.


"Mine, apa kau baik-baik saja?" tanya Gilang ketika Jasmine keluar dari ruangan Reza. Bukannya merasa kasihan kepada Gilang, Jasmine justru menampar keras pipi Gilang yang tadi di tinju oleh Reza.


"Bajiangan! Apa yang kau lakukan!" pekik Jasmine Ketika pukulan pertama terlayangkan. Gilang yang menerima tamparan Jasmine hanya terdiam dengan wajah tertunduk. Jasmine kembali menampar pipi Gilang dengan sangat kuat, lebih kuat dari tamparan pertama. Gilang yang mendapatkan tamparan itu langsung berdiri dari duduknya. Baru saja ia berdiri, Jasmine dengan keras meninju hidung Gilang dengan sangat keras membuat hidung lelaki itu berdarah, bisa di pastikan hidung Gilang saat ini patah.


Gilang ingin menampar Jasmine, namun tangannya di cegat lebih dahulu oleh seseorang.

__ADS_1


"Dasar bedebah! Apa yang kau lakukan kepada Jasmine!" pekik Hanna menghempas tangan Gilang, lalu menendang keras adik kesayangan para pria. Gilang memekik kesakitan, belum rasa sakit di hidungnya mereda kini ia harus merasakan sakit kembali dari benda pusaka miliknya.


"Hei apa yang kalian lakukan?" terdengar suara seorang pria dari arah belakang kedua wanita itu, secata refleks Jasmine dan Hanna melihat ke arah sumber suara.


"Brukkk!" Gilang ambruk karena tidak kuasa menahan rasa sakit dan perih yang kedua wanita itu berikan. Dirinya lebih baik di tinju hingga babak belur oleh atasannya itu dari pada di serang kedua wanita di hadapannya.


"Astaga! Apa yang kalian lakukan!" ucap Dika ketika melihat Gilang ambruk dengan kedua tangan memegang benda pusaka miliknya.


"Astaga! Gilang!" pekik kedua wanita itu ketika melihat Gilang ambruk di belakang mereka. Namun mereka meringis ketika mereka melihat Gilang tengah memegangi adik kecilnya.


"Apa semenyakitkan itu?" ucap Hanna memandang aneh pada manusia yang ambruk di hadapannya.


"Cepat panggil ambulans!" ucap Jasmine. Wanita itu menepuk pipi Gilang agar pria itu bangun, namun hasilnya nihil. Gilang sama sekali tidak sadar membuat ketiganya panik setengah mati.


Dika memanggil dua orang office boy, mereka berdua membopong tubuh Gilang hingga ke parkiran. Untungnya tubuh Gilang tidak terlalu besar dan kekar, jadi kedua office boy itu tidak terlalu kesulitan.


"Gilang bangun dong! Gue gak mau masuk penjara." ucap Hanna saat Jasmine membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2