
"Kalian tidak kasihan dengan pria tua ini? Apa aku tidak bisa duduk." Ayana langsung bangkit dari sofa itu dan mempersilahkan Tuan Handrick duduk.
"Baiklah, cucu manjaku yang manis, pergilah berlatih dengan dokter ini, walaupun sakit lawanlah, bukan kah kau masih ingin melanjutkan profesi mu menjadi model?"
"Sejak kapan dia bijak?" bisik Lunna.
"Entahlah. Lekas pergi, tidak baik menentang pria tua ini."
"Dokter cerewet! Bantu aku pindah ke kursi roda ku." Tanpa banyak bicara, dokter Aditya menggendong Lunna dan membawanya ke kursi roda, setelah itu Ayana membantu mendorong kursi roda Lunna menjauhi ruang tengah dan langsung disusul oleh Renata dan dokter Aditya.
"Ada apa?" tanya Jasmine to the poin tidak ingin membuang waktu. Tuan Handrick dan Reza hanya bisa menghela nafas melihat sikap Jasmine yang seperti ini, percaya atau tidak sikap itu sepertinya telah mendarah daging di dalam tubuh wanita itu.
"Kau ini tidak bisa di ajak basa-basi sedikit. Baiklah tidak ingin membuang waktu kata mu. Aku ingin memberi tahu kondisi perusahaan almarhum ayah mu saat ini." Reza duduk di samping Jasmine dan menaruh tangannya di sandaran sofa yang terdapat tepat di balik punggung Jasmine.
"Sejak perusahaan Thinder milik ayah mu di pegang alih oleh paman mu, perusahaan terancam bangkrut karena sikap uncle mu dan keluarganya itu. Mereka memanfaatkan jabatan Uncle mu untuk berfoya-foya dan memperkaya dirinya dengan mengeruk uang perusahaan. Untung saja mertua mu itu cepat menangani masalah ini." Jasmine langsung syok saat mendengar pernyataan satu ini, bagaimana bisa, seseorang yang sangat di percaya mereka dan ayahnya menghianati keluarganya.
"Saat ini perusahaan telah kembali stabil, namun kali ini kalian harus turun tangan untuk mengontrol perusahaan. Bisa saja kami mengontrol segalanya dengan memasukkan orang dalam di dalam perusahaan, tapi--"
"Tidak perlu, aku akan turun tangan sendiri untuk mengurus perusahaan." potong Jasmine, lalu memukul tangan Reza yang tengah merangkul mesra pundaknya.
"Lagi pula, perusahaan di sini masih tahap perkembangan. Reza harus mengawasi semua perkembangan dari perusahaan di sini, dan juga pabrik dalam masa pembangunan, tidak mungkin dapat di tinggal begitu saja." lanjut gadis itu.
"Kau benar, tetapi apakah kau bisa mengatasi perusahaan itu sendiri?" tanya kakeknya masih ragu untuk melepas sang cucu.
"Akan ku buktikan kemampuan ku pada mu Kek, hari itu akan segera tiba." ucap Jasmine dengan mantap.
__ADS_1
"Pak, sepertinya kita harus pergi sekarang." ucap seseorang yang berdiri tegak di belakang tubuh pria tua itu.
"Baiklah, seperti aku harus segera kembali. Sampai jumpa." ucap Tuan Handrick lalu mencium pipi Jasmine dan pergi begitu saja saat Reza ingin memeluknya.
Setelah Tuan Handrick pergi, Jasmine bergegas ke kamarnya untuk bersiap terbang ke Jerman. Saat gadis itu memegang knop pintu kamarnya Reza langsung menggendong Jasmine dan membawanya ke dalam kamar pribadinya.
"Reza apa yang kau lakukan?! Hei pergilah, aku harus bersiap!"
"Kau akan pergi berapa lama? Apa kau tidak pernah memikirkan suami mu ini?" tanya Reza menaruh perlahan tubuh istrinya di atas ranjang.
"Ah! Dasar dokter mesum!" pekik Lunna hingga ke kamar Reza. Jasmine langsung mendorong kuat tubuh suaminya dan bergegas pergi melihat apa yang sedang terjadi di luar.
"Hei ada apa?" tanya Jasmine saat gadis itu sampai di dekat balkon tempat Lunna biasa berlatih.
"Kau itu, dari sini ke kamar ku itu seperti jarak antara gawang kiper lapangan bola dan gawang lawan di stadion besar, kenapa bisa sampai ke kamar ku, mengganggu saja!" kesal Reza.
"Kak, aku mau dokter mesum ini di pecat sekarang juga!" rengek Lunna, Reza hanya memandang wajah adiknya dengan tatapan malas.
"Hei hei nona manis, memang kesalahan dia itu apa?" tanya Jasmine mencoba mengkonfirmasi masalah yang sedang terjadi.
"Aku tidak mau tau pokoknya aku mau dokter lain yang merawat ku! Kak Ayana tolong bawa aku ke kamar!" ucap Lunna tidak bisa di ganggu gugat.
"Hei apa yang kau lakukan?" tanya Reza dengan tatapan tajamnya mengintimidasi dokter Aditya Dokter tampan itu sama sekali tidak menggubris pandangan mata Reza, ia hanya mengangguk kepada Jasmine tanda penghormatan lalu berjalan pergi ke luar.
"Hei!" Panggil Reza. Jasmine yang kesal atas kebodohan suaminya langsung menendang kaki suaminya, Reza yang tidak siap akan serangan tiba-tiba itu langsung terjatuh ketika Jasmine menendang ringan lutut bagian belakangnya.
__ADS_1
"Kau itu bodoh sekali, apa aku tidak bisa melihat di cctv? Untuk apa kau memasang kamera pengintai jika kau tidak pernah mengecek isinya." Baru saja Jasmine ingin berbalik badan berniat meninggalkan suami narsisnya, Reza langsung memanggil Jasmine untuk meminta bantuan gadis itu.
Dengan kesal Jasmine mengulurkan tangannya untuk membantu Reza berdiri, namun bukan Reza yang berdiri, justru dirinya lah yang tertarik dan tersungkur di atas tubuh suaminya. Saat Jasmine ingin menarik diri, Reza dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggang Jasmine.
"Kau jangan yang aneh-aneh, coba lihat dulu apa yang terjadi dengan Lunna tadi." Jasmine masih berusaha untuk keluar dari cengkraman si binatang buasnya itu, namun hasilnya nihil ia sama sekali tidak bisa bergerak karena Reza semakin erat melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu.
"Astaga!" pekik Bi Mar kaget karena melihat kedua manusia yang sedang tiduran di lantai tengah bermesraan. Jasmine langsung bangkit dan pamit ke kamarnya pada Bi Mar, dengan cepat Reza mengejar istrinya itu agar Jasmine tidak mengunci kamar sebelum ia masuk.
Jasmine tidak masuk ke kamarnya, melainkan pergi ke kamar Lunna untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Karena Reza melihat Jasmine memasuki kamar adiknya, pria itu lebih memilih menunggu di kamarnya sembari mengecek cctv untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Lunna." Ayana dan Renata langsung pamit pergi ketika melihat Jasmine memasuki kamar Lunna. Jasmine menunduk lalu tersenyum kecil untuk menghargai senyuman kedua perawat itu yang di lontarkan kepadanya.
"Kau kenapa." tanya Jasmine mendekat ke ranjang adik iparnya.
"Tidak!" jawab Lunna ketus.
"Kau itu di tanya bagus-bagus, jawabannya membuat orang jengkel. Kau itu kenapa? Wajah mu tampak sangat memerah." Andai saja kaki gadis itu tidak lumpuh, pastinya Lunna akan langsung menendang Jasmine dan mengusirnya.
"Tidak terjadi apapun." ucap Lunna dengan wajah semakin memerah.
"Kau kira aku percaya? Teriakan mu itu sampai ke kamar Reza, tidak mungkin tidak terjadi apapun."
"Aku di cium oleh dokter itu."
To be continued.
__ADS_1