Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 16


__ADS_3

"Dasar brengsek! Laki-laki gak tau malu! Bajingan kau Nathan!" pekik Lunna menggema ke seluruh apertemen kakaknya. Ratusan tisu bekas berserakan di hadapannya rumah sudah seperti kapal pecah, Pring kotor menumpuk, pakaian kotor belum di laundry, bekas makanan dari delivery berserak di atas meja makan membuat lelaki di sampingnya pusing tujuh keliling.


"Hei gadis manja itu jas ku!" pekik Dika saat Lunna memakainya untuk mengelap ingusnya.


"Jas jelek dan murah seperti ini saja sampai membuat telinga ku pecah, seribu pun bisa ku beli itu." ucap Lunna mencampakkan jas bekas ingusnya kepangkuan Dika.


"Kenapa kau tidak membelinya untuk mengelap ingus mu itu? Oh iya, apakah sepupu mu itu tinggal disini? Kemana dia?" tanya Dika penasaran.


"Balik ke Jerman, Uncle sakit. Itulah sebabnya kak Reza ikut ke Jerman, gadis datar itu jika sudah menyangkut ayahnya pasti tidak bisa tenang." Ucap Lunna mengambil kembali jas Dika lalu memakainya untuk mengelap ingusnya.


"Baik lah kau ambil saja itu. Back to your cousin, apakah dia tidak jadi bekerja di perusahaan?" ucap Dika mencoba mengorek informasi tentang sepupunya Lunna.


"Dia sudah bekerja di sana? Kau tidak tahu kak? Wanita dingin, datar dan arogan itu bekerja sebagai sekretaris kakak ku?" tanya Lunna membersihkan kembali hidungnya yang tampak sangat merah karena wajahnya yang putih bersih bahkan bisa di katakan sangat bening bagaikan kristal.


"Sekertaris Reza? Jasmine?!" pekik Dika, dan Lunna langsung menganggukkan kepalanya. Bukan lah tidak mungkin bahwa orang-orang tidak mengenali cucu asli kakeknya. Jasmine sendiri adalah anak semata wayang Unclenya yang sangat di jaga dan di sayangi oleh banyak orang, namun di perlakukan seperti itu tidak membuatnya menjadi manja seperti Lunna, dia tetap lah Jasmine yang dingin dan kaku.


"Ternyata sepupu mu itu jauh lebih cantik di bandingkan diri mu." Ucap Dika membuat Lunna menatapnya dengan sangat tajam.


"Aku hanya berbicara yang sejujurnya, dia bule, sedangkan kau itu paras ayu ketimuran, dengan mulut Indonesia, gaya hidup Amerika, tapi otak anak desa." Ucap Dika lalu tertawa dengan sangat kencang sedangkan Lunna hanya menatapnya jengkel bercampur malas dan juga dendam.


"Sudahlah aku mau pulang, buang saja jas ku itu."


"Kau kira aku mau jas busuk seperti ini." Ucap Lunna melempar jasnya Dika yang menjadi sasaran tempat tampungan ingus Lunna. Dika yang menerima jasnya itu langsung melemparkan kembali ke Lunna.


"Sudahlah jangan membuat keributan di hari yang sudah larut malam ini. Aku mau pulang, kucing ku belum ku beri makan. Dia pasti sangat merindukan ku."


"Kau punya kucing kak?" tanya Lunna melihat kepergian sahabat baik kakaknya itu.


"Tentu saja, kau kira aku ini kau yang memelihara buaya. Yang sudah menelan mu hidup-hidup lalu kau berikan kesempatan lagi, jadi begini lah, kau tahu sendiri bukan? Di hianati. Dan yang selalu menjadi sasaran mu untuk meluapkan emosi mu itu kakak mu, karena dia pergi jadi aku yang mendengarkan ocehan mu tadi. Sungguh membuang waktu. Beres kan apertemen ini, di antukkan nanti kepala mu di dinding kalau dia melihat apertemen kebanggan nya ini seperti kapal pecah."


"Ya kau benar kakak membeli ini setelah jungkir balik di perusahaan." Ucap Lunna menatap pada alam sekitar. Piring kotor yang bersinar, dengan barang-barang yang berserak lainnya.


"Gue harus lupain Nathan! Ayo Lun! Ayo kamu pasti bisa." ucap Lunna tangan kanan di pelipisnya seperti adegan Roy kiosi anak Betawi, maaf anak indigo maksudnya. Maaf om Roy, jangan kirim setan ke rumah ku, cuma typo tadi, tapi typo yang mengandungnya niat.


"Ayo Lun! Ah gak bisa makin nempel." ucap Lunna membuat Dika jengah lalu pergi meninggalkan adik sahabatnya begitu saja.

__ADS_1


"Nathan Lo kok brengsek sih! Coba Lo jelek pasti gak akan main sama perempuan-perempuan gila itu. Tapi kalau Lo Jelek' gue juga gak mau sama Lo! Aaaa!" teriak Lunna menggema ke seisi ruangan.


...🍃🍃🍃...


Reza yang melihat Jasmine tergelak ikut tertawa, padahal di dalam hatinya ia sedang bertarung dengan pikiran mengenai kemana perginya sepupu dingin nan kaku itu.


"Tidak boleh, putri ku hanya milik ku."


"Hei tanpa adanya aku juga istri mu tidak akan ada."


"Hei pria tua, kau itu! Meskipun istri ku itu terlahir ke dunia karena ulah mu, tapi Jasmine tetap saja baby kecil yang aku buat dengan kerja keras ku sendiri. Lihat betapa cantiknya dia, Ayahnya saja tampan pasti putrinya juga cantik." Ucap ayahnya Jasmine tidak mau kalah.


"Kok malah bahas yang tidak-tidak sih, sudah saat ini dia adalah sekretaris ku, banyak pekerjaan yang menumpuk dan harus aku selesaikan melalui daring. Ayo Mina." Ajak Reza menarik tangan Jasmine.


"Hei ingat aku tidak jadi menikahkan mu dengan putri ku dasar menantu kurang ajar!" ucap ayahnya Jasmine lalu tergelak disusul dengan pria tua yang duduk di sampingnya.


"Bagaimana keadaan mu menantu ku?" tanya kakeknya Jasmine.


"Sudah mau mati." Ujar ayahnya Jasmine tersenyum membuat mertuanya itu tersenyum lemah.


"Aku ingin membuat Jasmine bahagia di saat terakhir ku Dad." Ucap ayahnya Jasmine membuat mata mertuanya itu berkaca-kaca.


...🍃🍃🍃...


"Benar ada meeting?" tanya Jasmine kepada Reza karena pria itu membawanya ke kantin rumah sakit.


"Tentu tidak, aku hanya mau mengeluarkan mu dari ke posesifan kedua pria tua itu."


Pagi Harinya.


Lunna mengambil spons untuk mencuci piring dan menaruh banyak sabun di sana. Kejadian kemarin terulang kembali, karena sabun yang terlalu banyak, Lunna kesusahan memegang piring itu hingga membuatnya jatuh berserak di lantai.


"Ini gak cocok sama gue, oke kita ke pekerjaan yang lain." Lunna mengambil bungkusan bekas delivery yang sudah bau busuk ke keranjang sampah dengan asal. Lalu menyapu apertemen satu lantai kakaknya.


"Mereka baru pergi dua hari, kenapa rumah ini seperti tidak pernah tidak ada penghuninya selama 2 tahun lebih, lebih mirip hunian setan. Hacuh!"

__ADS_1


Dari menyapu lanjut mengepel lantai, sama dengan piring-piring kotor itu, Lunna juga menaruh banyak sabun untuk mengepel lantai membuat apertemen itu menjadi sangat licin.


"Brukkk! Auh!" Pekik Lunna saat dirinya jatuh karena lantai basah dan sangat licin akibat ulahnya sendiri.


"Aku tidak tahu di mana laundry pakaian, tapi pakaian favorit ku sedang berada di keranjang kotor, aku mau memakainya nanti malam." Ucap Lunna setelah mengganti pakaian nya yang basah.


"Cara menggunakan nya bagaimana yah?" tanya Lunna memperhatikan dengan seksama mesin cuci di hadapannya.


"Kau itu bodoh sekali Lunna cantik, kan ada brainly tinggal tanya saja padanya." Ucap Lunna membuka aplikasi google untuk melihat bagaimana cara mencuci pakaian.


"Ini sangat mudah." Ucap Lunna masih menyaksikan video orang sedang mencuci.


"Jika sabunnya sedikit tidak akan bersih, aku akan memberikan banyak busa kedalam nya, ahhh Lunna kau memang sangat pintar." Ucap Lunna memberikan banyak detergen ke dalam mesin cuci. Baru saja mesin itu berputar, busa yang dihasilkan dari mesin cuci itu sudah sangat banyak.


"Ah Lunna kau ini pintar sekali." Ucap Lunna sembari menepuk tangannya, seperti membersihkan sesuatu tetapi tampak tidak ada apapun di tangan Lunna. Gadis itu melangkah dengan santainya keluar dari kamar mandi.


"Mengapa jadi seperti ini?!" pekik Lunna saat menghampiri cuciannya, busa berhamburan dimana-mana dengan mesin cuci yang masih berputar. Perlahan gadis itu melangkah kan kakinya mendekati mesin cuci, dan saat ia menyentuh tombol mesin cuci itu tangannya yang basah, ia langsung tersengat listrik dan membuatnya langsung memekik.


Gadis itu langsung pergi berlari ke kamar untuk menghubungi seseorang, dan saat telefon itu diangkat...


"Kak Dika tolong bantuin Lunna." Pekik Lunna saat telefon itu terjawab.


"Lun Gue lagi meeting." bisik Dika, untungnya pria itu tidak menyalakan speaker. Jika tidak hancur sudah rapat kali ini.


"Kak please, ini menyangkut hidup dan mati. Lunna gak bisa ngelakuin sendiri, kak please tolong lah." ucap Lunna memohon kepada Dika, karena saat ini harapan Lunna satu-satunya hanya Dika. Hanya pria itu yang bisa membantu nya sekarang.


"Baik lah, tunggu sepuluh menit lagi. Aku sedang rapat, jika menghentikan di pertengahan itu gak profesional Lun, sebentar ya." bujuk Dika, karena nyatanya dia memang sedang meeting dengan client yang sangat penting menggantikan posisi Reza.


"Baik lah lima belas menit lagi sampai." ucap Lunna memutus sambungan telepon itu.


"Gila, dari sini ke apertemen Reza hampir setengah jam, ya kali sampe lima belas menit." gumam Dika.


"Maaf pak bisa kita lanjutkan?" tanya seseorang yang sedang berpresentasi.


"Maaf, silahkan." ucap Dika tidak enak karena membuat client-nya menunggu.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2