Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 24


__ADS_3

Baru setengah jam Jasmine pergi, Reza sudah tampak gelisah di tempatnya. Sudah satu bulan ia menahan diri untuk tidak menegur Gilang, padahal dirinya adalah atasannya. Apa lagi sejak pertama kali Jasmine dan Gilang di pertemukan.


Flashback on


Setelah kembali dari rumah sakit, Reza dan Jasmine menuju ke perusahaan. Dalam heningnya mereka, masing-masing sedang merencanakan sesuatu untuk kelanjutan pernikahan mereka.


"Aku mau pernikahan kita tidak akan ada yang tahu sama sekali jika di kantor." Ucap Jasmine dan Reza hanya mengangguk mengiyakan kemauan istrinya itu.


"Kedua aku mau kita pisah kamar, aku di kamar ku dan kau di kamar ku." Ucap Jasmine. Reza yang mendengar itu langsung melotot tidak terima.


"Gak bisa gitu dong! Ingat pernikahan kita sah di mata agama dan sebentar lagi juga akan sah di mata hukum!" Ucap Reza tidak terima.


"Ya bisa kenapa gak bisa?" tanya Jasmine cuek. Sebenarnya gadis itu mau tidur di kamar Reza, namun kebiasaan tidurnya yang buruk yang merugikan kedua belah pihak, seperti hanya merugikan dirinya dan menguntungkan Reza. Dirinya tidak ingin lagi di peluk oleh pria di sampingnya, namun jika tidak di peluk seperti itu oleh suaminya maka dia akan menjelma menjadi sebuah gasing, bisa saja kejadian pertama kali mereka tidur bersama terulang.


"Oke aku turuti permintaan mu tetapi jika aku meminta itu kau memberikannya." Ucap Reza.


"Itu apa?" ucap Jasmine dengan gaya cueknya, menatap ke jendela dengan tangan bersedekap namun pendengaran masih siaga mendengarkan perkataan suaminya.


"Kebutuhan biologis ku." Ucap Reza santai membuat Jasmine menatapnya secara Refleks.


"Enggak!" ucap Jasmine penuh dengan penekanan.


"Ya gak bisa gitu dong Mine! Kalau bukan kau yang menuhin itu terus siapa? Jika aku mencari kesenangan di luar itu dosanya besar, sangat besar. Bagaimana Jika aku poligami?" ucap Reza membuat darah Jasmine mendidih.


"Jika kau berani silahkan, akan ku cincang halus tubuhmu dan akan ku berikan kepada anjing jalanan." Ucap Jasmine. Reza yang mendengar perkataan Jasmine hanya bisa menelan salivanya.


"Cantik namun kejam." Gumam Reza.


"Terserah ku! Jadi kau benar ingin mendapatkan asisten pribadi?" tanya Jasmine mengalihkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Ya, aku membutuhkan seseorang seperti Uncle Mike yang selalu mendampingi Papa. Kau tahu, bahkan Mama pernah cemburu melihat kedekatan kedua pria tua itu." ucap Reza lalu terkekeh.


...🍃🍃🍃...


"Za, perkenalkan dia Gilang. Asisten pribadi mu, dia adalah kondidat yang paling tepat dan bisa di percaya." Ucap Dika memperkenalkan Asisten pribadinya Reza di dalam ruangan pria itu.


"Tok... Tok..." Seseorang tengah mengetuk pintu ruangan Reza.


"Masuk." Ucap Reza dingin dan datar membuat Asisten pribadinya itu merinding, namun bagi Dika itu adalah hal yang biasa. Jasmine memberikan sebuah berkas yang cukup tebal berbalutkan sebuah map hitam.


"Pak ini--"


"Kau Jasmine bukan? Jasmine Angelina anak dari jurusan bisnis di MIT yang sekarang baru berusia 22 tahun namun sudah lulus S2?" ucap Gilang.


"Ya." Ucap Jasmine menoleh ke arah pria di sampingnya. Tampak pria itu menatap kagum padanya, bukan karena kepintaran wanita di hadapannya namun kecantikan Jasmine yang seolah menyihir para kaum Adam.


"Ehem!" Reza berdehem dengan sedikit keras agar memutuskan kontak mata kedua manusia di hadapannya, sedangkan Dika yang melihat adanya kecemburuan pada mata Reza hanya menahan tawanya.


"Baiklah, apa yang harus saya kerjakan pak?" tanya Gilang yang sedari tadi pandangan matanya mengiri langkah Jasmine yang keluar ruangan.


"Tidak ada, keluarlah dari ruangan ku!" ucap Reza dan langsung di angguki oleh Gilang.


"Kau cemburu wahai manusia?" tanya Dika saat Gilang pergi dari pandangan mereka.


"Cemburu? Cih!" ucap Reza lalu membuka berkas yang di beri Jasmine tadi.


"Baiklah aku pergi dulu, masih ada tumpukan berkas di meja ku yang meminta diperhatikan." ucap Dika.


"Enyahlah kau dari pandangan ku!" hardik Reza dan hanya di balas gelengan kepala dari Dika.

__ADS_1


Saat keluar dari ruangan Reza, Dika melihat Jasmine dan Gilang langsung akrab. Dika sendiri sangat terkejut melihat hal itu, di saat dulu ia mencoba mendekati Jasmine wanita itu langsung berubah menjadi manusia kutub yang irit bicara. Namun yang di lihatnya saat ini jauh berbeda dengan apa yang dialaminya dulu.


"Gilang kemari lah." Panggil Dika dan Asisten pribadi barunya Reza itu mendekat.


"Dekati terus dia, kalau bisa buat dia jatuh cinta padamu juga. Aku melihat adanya getaran-getaran cinta diantara kalian berdua." ucap Dika lalu menepuk pundak Gilang lalu pergi melangkah ke ruangannya. Namun belum 5 meter ia pergi dari sana, pria itu langsung tergelak dan menjadi perhatian banyak orang.


"Hei cantik, apakah kalian sudah tidak memiliki pekerjaan?" tanya Dika membuat para karyawan wanita yang melihatnya langsung bubar. Sementara para karyawan laki-laki di sana langsung beranjak dari tempatnya saat melihat pandangan kilat dari Dika.


"Kau tidak boleh seperti itu!" ucap seseorang memikul pundak Dika. Pria itu langsung berbalik badan dan mencium sekilas bibir wanita yang ada di belakangnya lalu melangkah cepat meninggalkan tempat itu. Untungnya para karyawan tadi telah pergi.


Flashback off


"Hei kalau mau menjadi setrika rusak jangan di kamar ku! Merusak mata ku saja." ucap Lunna mengusir kakaknya yang dari tadi mondar-mandir gelisah di hadapannya.


"Hei mau aku mondar-mandir ke seluruh ruangan ini itu adalah hak ku, apertemen ini adalah milikku, tempat yang aku beli dengan kerja keras ku sendiri, tidak meminta kepada Papa seperti diri mu." ucap Reza lalu pergi dari kamar adiknya. Bukan mendapatkan konsultasi malah menjadi bara api di dadanya.


Malam semakin larut, jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Reza belum makan malam sama sekali karena menunggu Jasmine. Reza mematikan seluruh lampu ruangan tengah membuat rumahnya gelap gulita.


Pintu apartemen terbuka menandakan sang istri telah pulang kembali ke rumah. Gadis itu menutup pintu menyalakan lampu senter di handphonenya. Dan saat wanita itu membalikkan badan...


"Aaaa! Astaga!" pekik Jasmine saat melihat suaminya menatap dirinya dengan tatapan yang sangat tajam namun wajah datar tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ditambah wajah pria itu di soroti lampu senternya membuat Jasmine terkejut bukan main.


"Za apaan sih, awas!" ucap Jasmine setelah mengontrol rasa terkejutnya.


"Ini sudah jam berapa?" tanya Reza. Wanita itu lebih menyalakan layar handphone dan melihat jam di sana.


"Jam sepuluh memang kenapa?" tanya Jasmine membuat Reza menatapnya tidak percaya.


"Kenapa kau bilang? Ini sudah jam berapa dan apakah makan malam membutuhkan waktu hingga tiga jam empat puluh lima menit delapan detik?" tanya Reza melihat jam tangannya.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2