Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 59


__ADS_3

"Tidak jangan cinta pertama tetapi mantan kekasih pertama." Ucap Jasmine dengan tangan memukul lengan kekar suaminya karena sudah bertamasya dengan bebasnya ke bagian depannya.


"Mantan kekasih? Seumur hidup aku hanya pernah menjalin hubungan satu kali."


"Apakah itu aku?" tanya Jasmine dengan semangat.


"Tentu saja tidak, jangan terlalu percaya diri. Kau kira aku seperti apa sampai pacar saja tidak punya."


"Jadi katakan siapa itu mantan kekasih mu." Ucap Jasmine malas, kesal dan ketus tetapi tangannya masih melingkar erat di pinggang suaminya.


"Kau tahu bukan jika aku itu lompat kelas dan belajar di kelas akselerasi, jadi tentunya aku satu kelas dengan para senior. Kekasih ku itu tiga tahun lebih tua dari ku, ralat mantan kekasih." Ulang Reza ketika melihat perubahan wajah istrinya yang terlihat muram.


"Terus?"


"Dia cantik, bodynya juga oke, tubuhnya tinggi semampai dengan bagian tubuh berisi di bagian-bagian tertentu. Senyumannya yang sangat menggoda, dia dewasa dan mandiri, bahkan dirinya adalah seorang model." Reza membayangkannya mantan kekasihnya kembali, kedua tangannya ia jadikan bantal hingga membuat Jasmine tidak mendapatkan bagian. Matanya tetap menatap lurus ke langit-langit dengan senyuman manis membuat Jasmine jengkel setengah mati.


"Lalu kenapa kalian bisa putus?"


"Aku selingkuh dan hobi bermain di atas ranjang, namun bukan dengannya." Ucap Reza membuat Jasmine terbelalak kaget.


"Apa maksud mu?!" ucap Jasmine tidak menyangka jika dirinya memakai benda bekas pakai oleh banyak wanita lain. Matanya menatap tajam kearah Reza, pikirannya kini berkeliaran memikirkan apakah Reza masih melakukan hal itu kepada wanita lain ketika dirinya berada di Berlin.


"Aku bercanda sayang, memang aneh tetapi entah lah, nafsu dan hasrat ku hanya tumbuh jika kau ada di dekat mu." Reza mengecup bibir istrinya mengetahui adanya kemarahan besar dari tatapan mata yang di pancarkan istrinya.


"Jadi kenapa kau bisa putus dengan kekasih mu itu?"


"Ralat, mantan kekasih karena kini kekasih dunia dan akhirat ku hanyalah kamu." Jasmine menatap malas pria dihadapannya, bagaimana bisa Reza mengatakan hal itu dengan entengnya sedangkan dua hari yang lalu dia gagu untuk berbicara kata cinta.


"Seperti yang aku katakan, namun itu adalah kebalikannya. Aku mengatakan dia dewasa? Ya dia memang sangat dewasa, aku pernah memergoki wanita sialan itu bermain di apertemennya dengan seorang pria, goyangannya sangat hot hingga aku iri dan berfikir kapan kau bisa melakukan apa yang di lakukan dia. Dia bahkan pernah secara terang-terangan mengajak ku melakukan hal menjijikan itu."


"Kenapa kau tidak menyentuhnya jika dia saja memberikan tubuhnya secara sukarela?"

__ADS_1


"Aku memang mencintainya, tapi cinta itu bukan berarti bisa seenaknya merenggut harga dirinya sebagai wanita. Dulu aku sangat mencintainya, namun cinta itu langsung berganti rasa malu dan kecewa, rasa itu telah menguap secara mendadak ketika aku melihatnya seperti jalang di atas ranjang."


"Kau tidak marah?"


"Tentu saja, tetapi aku juga tidak bisa menyalahkan dia karena itu juga salah ku. Salahku yang berekspektasi terlalu tinggi dengannya. Menurut ku, wanita terbaik di seluruh dunia itu adalah cinta pertama ku. Baik, cantik, cerdas dan juga penyayang." Jasmine mendadak panas, ketika Reza menceritakan mantan kekasihnya Jasmine merasa biasa saja, namun ketika Reza memuji cinta pertamanya Jasmine benar-benar merasa cemburu. Ingin wanita itu menerkam Reza dan menyuruh Reza mengatakan siapa wanita itu.


"Aku sangat merindukannya, gadis kecil manis yang ternyata omongannya tak seperti suara dan wajah cantiknya."


"Jika kau bertemu dengannya saat ini, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan memeluknya dengan sangat erat,"


"Dan aku akan mencium seluruh wajahnya seperti ini." Reza langsung mencium seluruh wajah Jasmine tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


"Lalu aku akan melepaskan rindu dengan cara bercinta saat ini juga denganya." Jasmine langsung mendorong sekuat tenaga tubuh suaminya hingga membuat Reza tersungkur dan jatuh dari ranjang itu.


...🍃🍃🍃...


"Kenapa kisah percintaan ku itu selalu berakhir bahkan sebelum memulainya? Aku juga ingin seperti orang-orang." Lunna merebahkan tubuhnya ke ranjang lalu mengambil ponselnya, siapa tahu ia mendapatkan hiburan dari sosial media.


Ketika sedang asik dengan dunianya, seseorang mengirimkan pesan. Lunna hanya mendengus kesal ketika melihat notifikasi pesan dari siapa.


"Dasar bocah! Aku juga pemilih jika menyangkut pria, tapi dari pada bosen di penginapan lebih baik aku terima ajakannya."


Dengan cepat ia mengganti jubah mandinya, memoles sedikit wajahnya dengan make up natural dan sederhana. Ketika ia berjalan dan berpas-pasan dengan beberapa orang, tidak jarang mereka meminta foto bersama Lunna.


"Sudah lama?" tanya Lunna.


"Tidak, baru juga sampai." Baru saja mereka berbincang singkat sepasang kekasih tengah berjalan mendekat ke arah Lunna yang sedang berbicara dengan lawan mainnya di film kali ini.


"Lunna." Panggil seorang wanita yang sedang merangkul mesra pundak kekasihnya.

__ADS_1


"Hai kak Rasya, sedang apa di sini?" tanya Lunna bersikap sesantai mungkin ketika melihat Aditya yang memasang wajah datarnya saat di rangkul Rasya, tidak menolak tidak juga menerima.


"Mencari makan malam, kalian benar pacaran yah?" tanya Rasya teringat isu yang sedang beredar jika Lunna dan Aldi sedang menjalin hubungan khusus.


"Tidak. Ya." Ucap Lunna dan Aldi bersaman.


"Benarkah?" tanya Rasya girang seperti sedang mendapatkan harta berharga yang terpendam dari dasar bumi.


"Apa yang kau katakan?!"


"Bukan kah kita memang menjalin hubungan khusus baby." Ucap Aldi lalu membisikkan sesuatu di telinga Lunna membuat gadis itu mendengus kesal lalu tersenyum.


"Tolong jangan di sebarkan di media. Kami memang sedang menjalin hubungan." Ucap Aldi merangkul pundak Lunna dan mengelus bahu membuat gadis di sampingnya kaget bukan main.


"Baiklah semoga langgeng sampai ke pelaminan yah, ayo sayang." Ucap Rasya lalu menarik Aditya agar menjauh dari mereka berdua.


"Jangan peluk-peluk juga kali." Lunna menghempaskan tangan Aldi karena tangan pria itu sudah berani mengambil kesempatan.


"Ya masa rezeki kaya gitu di tolak. Oh iya bagaimana dengan kakak ipar mu itu?"


"Sekarang kondisinya sudah mulai membaik meskipun dokter belum mengizinkannya banyak bergerak, aku ingin kembali ke New York tetapi aku juga tidak bisa membatalkan projek ini begitu saja. Kasihan yang lain jika harus memulai dari awal."


"Perusahaan Kakak mu?"


"Kak Dika yang menghandle, ternyata benar tidak semua orang dipertemuan untuk menjadi teman hidup. Ada juga yang di pertemukan hanya untuk menjadi pengalaman hidup. Astaga mirisnya kisah hidup ku." Lunna memijat perlahan pelipisnya membuat Aldi terkekeh.


"Beberapa pria yang singgah di hidup mu itu hanya akan menjadi pewarna di kisah kehidupan kita nanti." Ucap Aldi lalu memanggil pelayan untuk memanggil pelayan.


To be continued.


Kalau mau author kasih visual figuran lainnya (Kalau mau) kalau enggak ya gak author up, author kan bukan orang yang egois dan mikirin pendapat sendiri. Kita kenalan di next chapter yah...

__ADS_1


__ADS_2