
"Ayolah sampai kapan kau akan terus membuat suami mu ini tersiksa." Ucap Reza lalu kembali naik ke atas ranjang istrinya.
"Jangan cari gara-gara dengan ku atau kau enyah dari sini." Tegas Jasmine sedikit menggeser tubuhnya agar memberikan sedikit ruang untuk suaminya berbaring.
Reza kembali memeluk tubuh Jasmine, mengangkat kepala istrinya lalu mengambil bantal yang mereka pakai, di rebahkannya kembali kepala Jasmine ke lengannya dan bantal ia jadikan pembatas di samping Jasmine.
"Besok kita pindah rumah sakit, dan untuk sekarang tidur lah." Reza memiringkan tubuhnya dengan lengan kiri untuk bantalan istrinya dan tangan kanan memeluk pinggang Jasmine.
"Ceritakan dulu siapa cinta pertama mu." Rengek Jasmine dengan mata terpejam menikmati aroma tubuh suaminya yang bahkan satu harian ini tidak mandi karena terus menjaganya.
"Nanti aku ceritakan, saat ini aku sangat lapar. Kau tidur lah dulu." Jasmine tidak menghiraukan perkataan Reza dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reza.
"Reza badan ku terasa lengket, tolong belikan pakaian untuk ku. Pakaian yang di hotel sudah habis dan belum di cuci."
"Baiklah, ada lagi? Pakaian apa yang harus ku beli?" tanya Reza terus menciumi pucuk kepala Jasmine.
"Terserah mu, dan juga belikan pakaian dalam ku."
"Apa?!" Reza kaget bukan main ketika mendengar permintaan istrinya. Ayolah, dia seorang calon pengganti CEO dari perusahaan besar di dunia, apakah dia benar-benar harus membelikan keperluan wanita seperti itu?
"Kau yang selalu menikmatinya bukan? Tapi kenapa untuk membelikan penutupnya tidak mau? Hm! Mau beli tidak?" ucap Jasmine sembari mencubit pinggang suaminya membuat Reza meringis dan terpaksa mengiyakan.
"Iya Mine, lepas dulu. Auh! Sakit." Jasmine memang melepaskan tangannya dari pinggang Reza, namun sebelum ia lepaskan ia mencubit kuat pinggang Reza yang sudah dipastikan pinggang suaminya itu akan membiru.
__ADS_1
Untuk beberapa menit ia menemani Jasmine agar wanita itu tertidur terlebih dahulu. Setelah Jasmine tidur, Reza bangkit dan membenarkan posisi tidur istrinya dan menaruh bantal yang tadi kembali ke tempat semula. Memang sudah menjadi ciri khas Jasmine yang tidak bisa tidur dengan rapi kalau tidak di peluk suaminya, berkali-kali Reza menyelimuti Jasmine selimut itu pasti akan berantakan dalam sekejap.
"Kau mau melihat batas kesabaran ku ya?" bisik Reza lalu mengecup lembut kening istrinya kemudian pergi dengan selimut yang ia pasangkan seperti seprai di ranjang.
Reza menepis rasa lapar dan sakit di pinggangnya untuk membelika istrinya ganti nanti. Saat dirinya berdiri depan sebuah toko pakaian, Reza hanya terdiam dengan pikiran yang berkelana entah kemana. Betapa bodohnya ia tidak bertanya ukuran berapa pakaian yang biasa di pakai istrinya. Dengan langkah tegapnya Reza menghampiri salah satu pelayan di sana.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan yang di hampiri Reza. Mata pelayan itu menatap intens ke arah pria yang menghampirinya, badan kejar dan lengan yang besar karena ototnya sangat menggiurkan untuk di peluk, bulu-bulu yang tumbuh di rahang tegasnya membuat pelayan itu menggigit bibir bawahnya, namun semua pikiran itu buyar ketika menatap mata hazel Reza yang menatapnya dengan tajam bak seekor elang yang sedang mengintai mangsanya.
"Dua set pakaian tidur wanita." Ucap Reza membuat pelayan itu menatapnya dengan kecewa. Ayolah, sangat langka pria yang rela memberikan perhatian seperti itu untuk kekasihnya, di tambah Reza termasuk orang yang sempurna untuk tubuh dan juga parasnya membuat pelayan itu ingin memukul kepalanya sendiri.
"Ukurannya berapa?" tanya pelayan itu membuat Reza bingung. Ingin ia menelfon Jasmine dan menanyakan ukuran pakaian istrinya, namun ia tidak tega jika membuat istrinya terbangun. Ketika ia mendapatkan ide untuk menelfon ibu mertua, panggilan yang ia tuju tak kunjung menerima.
Tidak mungkin seorang Reza mencoba untuk melihat satu-satu ukuran pakaian yang di kenakan Jasmine, pria itu meminta seluruh pelayan yang ada di sana dan berbaris rapi agar ia bisa mencocokkan dengan ukuran istrinya. Pilihannya jatuh kepada seorang pelayan cantik, tinggi semampai dan sedikit berisi di bagian tertentu, namun tidak lebih berisi dengan istri tercintanya.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan ketika Reza menghampirinya.
"Tolong dua set pakaian dalam wanita." Membuat beberapa pelayan yang mendengarnya tertawa termasuk pelayan yang di hadapannya.
"Baiklah ukuran berapa? Atau kami harus menunjukkan bagian tubuh private kami untuk anda nilai?"
"Tubuh kalian bahkan tidak lebih baik dari tubuh istri ku." Gumam Reza.
Reza mencoba memutar otak untuk memastikan ukuran pakaian dalam istrinya, sepertinya tuhan memang sayang kepadanya dan tidak membuat pria ini malu lebih jauh. Reza mengingat ketika beberapa kali dirinya memunguti pakaian yang ia campakkan sendiri ketika selesai bermain dengan istrinya. Setelah yakin dengan pemikirannya, Reza memesan pakaian dan ****** ***** yang ukurannya sama persis dengan yang biasa di pakai istrinya.
__ADS_1
"Beruntung sekali kekasihnya, sudah tampan, kaya, penyayang lagi, lihat bagaimana dia rela membelikan pakaian menggelikkan itu." Ucap seorang pelayan ketika melihat Reza pergi dengan mobil yang berharga fantastis.
"Dia ada duplikatnya tidak ya?" tanya pelayan yang satunya dengan tersenyum.
...πππ...
"Mine, bangun yuk mandi dulu." Ajak Reza ketika istrinya masih tidur dengan liarnya di atas ranjang.
"Sayang mandi dulu yuk, setelah ini baru makan." Ajak Reza sekali lagi namun tidak ada tanda-tanda Jasmine terbangun dari tidurnya.
Reza meminta perawat mengambilkan air hangat di dalam mangkuk besar, setelah itu
mengunci rapat ruang inap istrinya. Dengan perlahan Reza melucuti pakaian Jasmine, dengan sabar Reza mengelap tubuh istrinya yang tidak terbalut apapun, hasrat dan nafsunya ia tepis karena ucapan dokter yang tidak mengijinkannya bermain dengan sang istri sebelum Jasmine mens yang berarti masih satu bulan lagi karena masih jauh tanggal datang bulan istrinya.
"Kau itu tidur atau mati? Sampai sejauh ini pun kau belum juga terbangun." Ucap Reza lalu mengecup kening istrinya ketika selesai memakaikan pakaian di tubuh Jasmine.
"Aku makan dulu ya sayang." Pamit Reza kepada istrinya yang masih tertidur pulas, mengecup singkat pipi Jasmine lalu beranjak pergi.
Sedangkan di atas ranjang itu, tampak seorang wanita yang menyunggingkan senyumannya.
"Tunggu! Dari mana dua tahu ukuran pakaian ku? Apa dia pergi ke hotel dulu untuk melihat contohnya?" tanya Jasmine pada dirinya sendiri lalu menatap pakaian yang ia kenakan begitu pas di tubuhnya.
To be continued
__ADS_1
Nah dari dulu itu kan gak ada yang author translatekan ke bahasa Prancis, Jerman dan juga Inggris. Itu mereka ngomong pakai bahasa dari negaranya masing-masing, kaya Jeniffer, itu selalu pakai bahasa Jerman tapi gak author translatekan karena nambah-nambahin kata di chapternya. Author kalau nulis satu bab paling kenceng ya cuma 1100 kata, sampai di situ bubar, karena sibuk sama dunia real. Jadi anggap aja mereka pakai bahasa mereka yah, soalnya kemaren author di tegur. Selain itu author juga malasπββοΈ