Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 8


__ADS_3

"Mine kau--" ucapan Reza terhenti saat jari telunjuk Jasmine menempel di bibirnya. Tampak wanita di hadapannya ini sedang menghubungi seseorang.


"Ya mine ada apa." ucap seseorang dari sebrang telefon.


"Speaker." bisik Reza membuat Jasmine melihatnya jengah. Tapi walaupun begitu, Jasmine tetap melakukan apa yang di minta pria itu.


"Kak, bisakah kakak membantu Jasmine?" tanya Jasmine ramah dengan senyum manis tidak di buat-buat.


"Tentu saja, aku akan membantu mu dan mengerahkan semua kemampuan ku." ucap wanita di sebrang telefon.


"Jadi apa yang bisa aku bantu Mine?" lanjutnya kembali.


"Bisakah kakak menyelidiki apa penyebab kebakaran pabrik wascott dan siapa pelakunya." ucap Jasmine.


"Pabrik perusahaan wascott yang berada di negara mana mine?" tanya wanita itu.


"Pabrik wascott yang berada di Indonesia." ucap Jasmine.


"Gampang, tunggulah dua atau tiga hari lagi. Saat itu aku akan memberikan hasil yang aku dapat." ucap wanita itu.


"Apa kakak sedang berada di luar negri? Maaf telah merepotkan." ucap Jasmine.


"Saat ini aku sedang berada di Barcelona. Tidak masalah, aku akan membantu mu sebisa yang aku bisa." ucap wanita misterius itu.


"Baik kak Terima kasih." ucap Jasmine lalu menutup sambungan telefon itu.


"Siapa dia?" ucap Reza saat Jasmine melemparkan benda pipih itu ke ranjang.


"Kak Jessy." ucap Jasmine.


"Hah siapa?"


"Sudah lah, mari kita bereskan masalah rentang pemasaran produk yang akan kita publikasikan." ucap Jasmine menarik Reza keluar dari kamarnya.


"Kau dingin, datar dan tidak berperasaan. Bagaimana bisa kau memiliki kamar penuh dengan gambar kartun seperti itu?" ucap Reza.


"Pindah kan adik mu yang manja itu ke kamarnya." ucap Jasmine sembari membersihkan bungkus jajanan yang berada di meja ruang tengah itu.


"Baik lah." ucap Reza lalu dengan hati-hati ia mengangkat tubuh adiknya menuju ke kamar gadis yang seumuran dengan Jasmine itu.


"Sebenarnya dia menyayangi adiknya, tetapi egonya terlalu besar untuk menyadari hal itu." batin Jasmine sembari tersenyum melihat kasih sayang begitu besar dari Reza untuk sang adik.

__ADS_1


"Za piano yang berada di sana sekarang di mana?" tanya Jasmine yang baru menyadari jika piano yang berada di sudut ruangan di dekat balkon sudah tidak ada.


"Bagaimana mungkin aku mengakui jika aku membuang piano itu karena kejadian tidak masuk akal beberapa hari yang lalu. Mau di taruh di mana wajah tampan ku." batin Reza.


"Tadi siapa wanita yang kau hubungi?" tanya Reza mengubah topik pembicaraan.


"Jessy."


"Dia adalah seorang mata-mata wanita yang sangat berharga untuk perusahaan Weasley." ucap Jasmine sembari melihat kembali data-data handphone yang akan mereka rilis pada dua bulan lagi.


"Weasley? Mustahil!" ucap Reza tidak percaya.


"Kau kira aku ini berbohong? Tunggu! Apakah perusahaan Weasley adalah musuh perusahaan Wescott?" tanya Jasmine sembari menutup mulutnya sendiri.


"Bukan itu bodoh, Weasley dan Wescott adalah dua perusahaan besar di dunia. Dan owner dari kedua perusahaan itu adalah sahabat." ucap Reza sembari meminum birnya dengan santai.


"Maksud mu kakek dan pemilik perusahaan Weasley bersahabat?"


"Ya tentu saja, bahkan CEO perusahaan Weasley itu mengenal ku sudah cukup lama. Dia adalah pemegang kedudukan sebagai orang terkaya di Indonesia." ucap Reza.


"Benarkah kenapa aku tidak tahu menahu tentang itu."


"Seumur hidup mu kau tidak pernah tinggal di Indonesia tetapi sangat fasih berbahasa Indonesia. Kau tinggal di Jerman dan selalu mengurung diri di kamar dengan membaca puluhan buku perharinya. Aku tidak perlu harus segiat itu belajar, tetapi lihat lah saat ini." ucapnya dengan kenarsisan yang tiada punya bandingnya.


Reza yang melihat kejadian itu di tv merasa sangat bersalah karena tidak memperhatikan keamanan dan keselamatan para karyawan. Yang ia sesali saat ini bukanlah kerugian perusahaan namun para nyawa staf yang melayang. Dan tak terasa sekali lagi air matanya menetes.


"Za jangan kaya orang stres dan cengeng begitu. Semuanya akan terungkap dua atau tiga hari lagi. Bersabarlah, saat ini ada yang perlu kita perhatikan dari pada meratapi kejadian ini."


"Apa?!" ucap Reza.


"Gue malu sampe ke ubun-ubun. Ya Tuhan bisa-bisa aku menangis di hadapan wanita ini. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke dasar laut terdalam atau melayang ke langit tertinggi agar dia tidak melihat diriku kembali."


"Kita perlu mengurus jenazah para karyawan yang menjadi korban, dan yang masih selamat namun memiliki luka di tubuhnya harus segera mendapatkan pengobatan." ucap Jasmine.


"Untuk itu tidak usah khawatir, semua sudah aku bereskan sebelum kembali ke sini tadi." ucap Reza sembari meminum kembali bir kalengan di tangannya itu.


"Baik lah bagaimana rencana mu tentang ini." ucap Jasmine menunjuk laptop di depannya.


"Dua bulan lagi ini akan rilis, dan entah itu kebetulan atau tidak perusahaan lain juga mengeluarkan handphone merek seperti ini namun akan di rilis bulan depan dengan harga yang lebih murah." ucap Reza, kepalanya kembali merasa pusing.


"Baiklah--"

__ADS_1


"Baiklah ayo kita tidur, kepala ku seperti mau pecah." potong Reza sembari menaruh kaleng bir itu ke meja.


"Kau sudah minum terlalu banyak. Istirahat lah." ucap Jasmine. Gadis itu melihat dua botol bir kosong dan beberapa bir kalengan di atas meja.


...🍃🍃🍃...


"Kenapa bisa seperti ini!" ucap tegas pria tua berwajah blasteran Inggris. Dan dia adalah kakek kandung Jasmine.


"Saya juga tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Bukti dan saksi saat ini sedang di kumpulkan oleh para anak buah saya pak." ucap Reza dengan bahasa formal kepada kakeknya itu. Bagaimanapun juga kakeknya dia adalah ayah tiri ayahnya dan itulah akibat ia dan Jasmine menjadi sepupu tanpa ada ikatan darah sama sekali.


"Kakek tidak mau tahu, bagaimana pun juga masalah ini harus terungkap. Entah itu dari pelaku orang lain atau keteledoran para karyawan bodoh mu." ucap kakek mereka lalu berdiri dan beranjak keluar dari ruangan cucunya itu.


"Princess kecil jika ada waktu berkunjung lah kerumah, nenek mu sangat merindukan mu." ucap kakek mereka.


"Dia nenek ku!" pekik Reza tidak terima.


"Diam lah, pergilah jika kau mau." ucap pria itu sebelum dirinya benar-benar pergi.


"Huh pria tua itu." ucap Reza menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya.


"Setidaknya kau meminta maaf kepada kakek mu za." ucap Dika yang memang dari tadi menjadi bagian dari pembicaraan kakek dan cucu-cucu nya dalam bahasa formal.


"Maaf?" kata Reza dengan alis terangkat sebelah.


"Ya maaf."


"Coba kau katakan Lo siento." ucap Reza menatap tajam pada Dika.


"Los Lo" ucap Dika sembari mengingat ingat kata apa yang di ucapkan Reza.


"Salah!" ucap Reza membuat Jasmine tergelak.


"Tentu saja itu sulit, ini pertama kalinya aku mengatakan hal itu."


"Begitu juga dengan kata maaf untuk ku aku tidak pernah mengucapkan kata itu."


"Apa kah kau yakin?" tanya Jasmine menatap tajam ke arah Reza.


"Tentu saja, aku perfact dalam segala hal." ucap Reza kumat dengan jiwa narsistik nya.


"Kalau begitu apa kau bisa menjamin akan masuk ke dalam surga? Kata mu kau tidak memiliki salah bukan!" geram Jasmine membuat Reza terdiam. Sedangkan Dika yang tidak pernah melihat Reza bungkam akan ucapan orang lain menjadi terkesima.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2