
"Hei, aku ini sudah jadi suami yang baik loh. Siaga setiap saat, selalu ada di manapun dan kapanpun. Masa panggilannya gitu. Za, Reza? Apaan." Nyinyir Reza tidak terima.
"Maunya apa?" Tanya Jasmine malas berdebat karena sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Sayang kek, honey, baby, hubby."
"Malas, lebay tau. Kalau Za itu kan panggilan sayang dari dulu." Jasmine mencoba memberikan alasan yang cukup masuk akal karena malu dan masih kaku untuk memanggil Reza seperti itu.
"Alasan terus, jadi semua orang yang manggil nama aku Za itu kesayangan aku semua lah ya?" Tanya Reza sedikit geli.
"Ya enggak lah!" Protes Jasmine lalu menggigit dada suaminya.
"Nah marah kan? Bilang sayang aja susah. Biar apa kaya gitu? Biar keliatan kalau aku gak bisa hidup tanpa kamu dan kamu bisa hidup tanpa aku. Gengsi kok di pelihara."
"Lovely." Ucap Jasmine spontan. Namun ketika di pikir-pikir ia sedikit geli dengan panggilan itu.
"Tidak buruk, ya sudah ayo tidur." Jasmine memeluk erat tubuh Reza, kepalanya mendongak lalu memberikan kecupan ringan pada suaminya.
"Kau mau menidurkan ku atau membuat ku begadang semalaman?" Tanya Reza lalu mengukung tubuh Jasmine.
"Za, ingat pesan dokter?"
"Aku tidak melakukan satu itu kok." Elak Reza lalu melanjutkan kembali aksinya. Apa yang mereka lakukan biarlah menjadi privasi untuk melunasi keduanya.
...🍃🍃🍃...
Satu bulan telah berlalu, semua kembali berjalan dengan normal. Reza juga kembali kepekerjaannya yang super sibuk.
"Aku kembali bekerja jadi sekretaris ya?" Tanya Jasmine memasangkan dasi Reza.
Setelah kembali dari rumah sakit sejak pendarahan telah terhenti, Reza memang menjadi sedikit prosesif pada Jasmine. Seluruh kegiatan didalam apertemen harus dilaporkan secara keseluruhan tanpa adanya terkecuali, padahal pria itu bisa saja melihat cctv. Tidak boleh keluar apertemen tanpa pemberitahuan dan izin dari suami. Pengawal siap siaga 24 jam menjaganya, para pelayan yang tadinya hanya dua kini ditambah menjadi sepuluh.
"Jadi Sifa? Jangan aneh-aneh, tetap di rumah!"
__ADS_1
"Suami ku tercinta, aku sangat bosan satu tiga hari di rumah hanya duduk diam, makan, tidur dan menunggu mu pulang."
"Mine, jangan membuat amarah ku muncul kepermukaan."
"Baiklah aku akan kembali ke Jerman, urusan di sana banyak dari pada tidak melakukan apapun di sini." Jawab Jasmine namun Reza tidak nampak menunjukkan ekspresi apapun.
"Jangan membuat ku melawan suami ku sendiri Za."
"Hei nona, bukan kah dari dulu kau juga sering membantah ku? Lalu apa bedanya sekarang."
"Sekarang kan udah cinta." Ucap Jasmine lalu mengecup bibir Reza sekilas.
"Oh istri ku ini manisnya, kau kira dengan berkata seperti itu akan merubah peraturan untuk mu?"
"Terserah mu lah. Cepat pergi atau kau akan terlambat." Jasmine memberikan kecupan kecil di bibir Reza, sejauh ini yang berani ya lakukan hanya lah mengecup pipi, bibir dan dadanya. Untuk hal yang lebih lanjut? Kita pikirkan nanti.
Apertemen Reza memang hanya memiliki empat buah kamar, tapi itu kamar utama yang besarnya lebih dari lapangan bola. Untuk kamar tamu, apertemen itu memiliki lima kamar tamu. Kamar yang lainnnya di rombak Reza menjadi tempat fitness, ruang kerja, perpustakaan, dan ruangan yang di desain dengan interior mewah membuat siapapun akan terpukau, terpana dan tak bisa berkata apa-apa ketika melihatnya.
Dilain tempat, dua pasang manusia tengah duduk beristirahat sejenak karena pengambilan adegan yang panjang dan tiada henti dari pagi tadi.
"Emm! Boo, Kebiasaan!"
"Sedikit yang! Pelit banget, lagian aku itu baik. Kalau kamu kelepasan makan banyak gimana? Tuh liat badan kamu udah melar." Ya, sejak dua minggu yang lalu Aldi dan Lunna terjebak dengan yang namanya cinlok, cinta lokasi. Benih cinta tumbuh di antara keduanya karena sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
"Enak aja, tubuh ku ini elastis. Mau di masukin apa aja pasti bentuknya akan seperti semula."
"Yang, kamu gak mau apa kaya gitu?" Tanya Aldi menunjuk pada sepasang kekasih yang asik bercumbu di dekat menara Eiffel yang berdiri gagah di hadapan mereka.
"Yang, yang. Kepala lu peyang. Gak ah malu, lagian kamu kalau nyium gak bisa terkontrol." Ucap Lunna kembali memakan es krimnya dengan santai.
"Eh mas mau kemana? Emang udah selesai?" Tanya Lunna saat beberapa kameraman beranjak dari lokasi membawa beberapa peralatan.
"Enggak Lun, ada kesalahan teknis tadi. Pak Deni marah besar, jadi suruh break sampe besok."
__ADS_1
Didalam hati, Aldi sedang bersorak kegirangan. Ia membayangkan waktu berdua, quality time bersama sang kekasih yang manja dan cerewetnya tidak ada bandingannya.
"Nonton? Makan? Jalan-jalan? Kemana Ayuk, aku siap 86 untukmu nona manis."
"Balik ke apertemen deh, capek banget soalnya. Makan siang sekalian nonton nanti." Ucap Lunna. Bukannya sedih karena gagal jalan bersama sang kekasih, Aldi justru tersenyum girang. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
"Ck, jangan aneh-aneh Al." Tolak Lunna ketika Aldi merangkul pundaknya saat mereka sedang menonton film action romantis di apertemen sewaan produser yang ditempati Lunna.
"Hanya rangkulan Boo. Pasangan lain bahkan banyak yang melakukan lebih dari ini, sampai bagian tubuh wanuta yang dimasuki apapun akan elastis kembali." Protes Aldi.
"Aku bukan wanita murahan Al."
"Hanya rangkulan sayang, tidak lebih. Aku juga berjanji akan menjaga mu, dan mahkota mu sampai kita menikah nantinya. Ciuman pertama kita saja aku juga meminta izin dulu." Ucap Aldi membuat Lunna meringis. Lunna masih ingat kejadian di pulau tempat mereka syuting satu bulan lalu. Lunna saat itu merasa harga dirinya terinjak-injak oleh seorang dokter yang membantu memulihkan keadaannya dahulu, dan dengan santainya setelah ciuman itu dia pergi menemui kekasihnya.
Lunna melingkarkan tangannya di pinggang Aldi, tubuh kekasihnya satu ini memang tidak lebih bagus dari tubuh Dika ataupun Aditya, tapi setidaknya Aldi bisa menjaga dan menghargai perasaannya.
"Oh cinta ku." Ucap Aldi membalas pelukan hangat Lunna.
"Ucapan ku tidak di balas ini?" tanya Aldi sembari terkekeh.
"Aku suka kamu, belum cinta ingat?"
"Sekedar suka saja sudah lebih dari cukup, jangan mengecewakan ku ya?" ucap Aldi. Ketika keduanya selesai uwu-uwuan, pandangan mereka kembali kepada televisi di hadapan mereka.
"Kok filmnya? Ih dasar mesum!" ucap Lunna mendorong tubuh Aldi agar menjauh darinya.
"Tidak sayang, aku juga tidak tahu. Aku kira hanya film action, ternyata bukan hanya aksi dengan senjata ternyata aksi di atas kasur juga." Ucap Aldi terkekeh ketik melihat Lunna menutup kedua matanya.
Aldi melepaskan kedua tangan Lunna lalu meletakkan kedua tangannya kepipi Lunna. Perlahan tapi pasti, wajahnya mendekat. Lunna yang tahu arahnya kemana ikut memejamkan mata, menikmati bibir lembut yang melu**t bibirnya perlahan. Sangat jauh berbeda dengan apa yang di rasakannya pada saat di pulau dengan laki-laki brengsek yang sebentar lagi akan menjadi suami orang.
To be continued.
Dan merekapun hidup bahagia selamanya, tamat... Eh siapa bilang? itu gak liat ada kata TBC? ya berarti lanjut dong. Jangan komen yang enggak-enggak, tenang, dendam kalian akan terbalaskan dengan hancurnya dia nanti. Kim seneng banget kalau kalian komen, rasanya kaya penyemangat aja gitu. Meskipun gak di balas tapi Kim baca kok, bahkan berulang-ulang^^
__ADS_1
Aditya? Mati, tenggelam di segitiga bermuda.