Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 11


__ADS_3

"Bagaimana tadi di dalam?" tanya Jasmine saat Reza baru saja keluar dari kantor polisi. Reza yang di tanyai hanya diam membisu dengan ekspresi wajah sendu membuat Jasmine tersenyum lembut kepadanya.


"Tidak apa." ucap Jasmine sembari mengelus pundak Reza.


"Apa yang kau pikirkan? Reza yang tampannya melebihi para artis papan atas akan masuk kedalam sel penjara?" tanya Reza sembari menarik hidung mancung Jasmine.


"Kau mau membunuhku?! Lepaskan?!" pekik Jasmine sembari memukul tangan Reza karena sudah kehabisan nafas.


"Hidung mu terlalu ekonomis, aku tarik agar bisa maju ke depan." Ucap Reza lalu melepaskan tangannya dari hidung mancung Jasmine.


"Hidung ku sudah sempurna apa adanya. Jadi, apa yang terjadi di dalam?" tanya Jasmine saat mereka melangkah menuju parkiran.


"Nanti akan ku ceritakan segalanya madam Sri menyan, saat ini aku sangat lapar." ucap Reza menarik tangan Jasmine dan menggandengnya sembari tersenyum.


"Plakkk!" Jasmine memukul tangan kanan Reza yang sedang menggenggamnya.


"Lepaskan tangan ku, aku bisa berjalan sendiri." ucap Jasmine lalu berjalan membuka pintu mobil Reza.


"Dasar." gumam Reza dengan tersenyum.


...🍃🍃🍃...


"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Jasmine sembari memasukkan makanan ke mulutnya.


"Aku menyerahkan semua bukti yang tadi pagi di berikan oleh kakak Jessy mu itu, otomatis aku terbebas dari segala tuntutan. Dan untuk masalah kerugian yang di alami perusahaan, itu juga akan di tanggung oleh perusahaan tak beradab itu. Sekaligus aku juga menuntut mereka." Ucap Reza panjang lebar memperhatikan garis wajah sepupunya.


"Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi tetapi sudah besarnya menjadi bajingan seperti ini." Jasmine yang lebih memperhatikan makanannya tidak memperdulikan manusia di hadapannya.


"Itu lah hidup. Terkadang manusia lupa pada segalanya ketika telah mencapai sesuatu, bahkan ia--"


"Sudah selesai? Ayo kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus di tangani saat ini." Ucap Jasmine memotong perkataan sepupunya itu, karena malas mendengar ocehan Reza.


"Sebentar lagi kantor akan tutup. Sebaiknya kita langsung pulang saja." Reza bangkit dari duduknya menuju kasir.


"Kak!" panggil seseorang dari arah belakang Reza.


"Lunna, sedang apa kau disini?" tanya Reza dan Jasmine bersamaan.

__ADS_1


"Tentu saja makan siang, jadi mau apa lagi?" Lunna tersenyum dan mendekat ke arah Jasmine.


"Kak kebetulan sekali, sekalian bayarnya makanan ku yah. Ayo mine." ucap Lunna menggandeng tangan sepupu dinginnya itu. Beberapa orang-orang seperti mencuri-curi pandang ke arah Lunna, seperti mengenali gadis itu.


"Tidak mungkin aku mengatakan memata-matai kalian berdua." batin Lunna.


"Bagaimana keadaan perusahaan sekarang?" tanya Lunna mencondongkan tubuhnya ke arah Jasmine saat mereka di mobil menuju ke apertemen Reza.


"Jika aku menjawabnya apa peduli dirimu? Kau hanya sibuk dengan kegiatan belanja dan berfoya-foya. Apa kau tidak kasihan kepada papa yang mencari uang untuk keluarga?" tanya Reza. Jika orang-orang yang juga sibuk berfoya-foya seperti itu pasti merasa akan tertampar, namun yang di katakan Lunna adalah,


"Harta keluarga kita tidak akan habis bahkan sampai tujuh turunan dan kembali ke tujuh tanjakan. Untuk apa terus mencari uang tanpa menghabiskannya, lagi pula barang-barang ini juga hasil tabungan ku dari bekerja." Ucap Lunna lalu duduk kembali ke kursi belakang seperti sedang merajuk.


"Seharusnya kau sadar jika apa yang kau lakukan selama ini tidak ada gunanya dan hanya menghambur--" apapun yang akan keluar dari bibir lelaki itu tidak jadi terucap karena jari telunjuk Jasmine sedang berada di hadapan bibinya.


"Jangan memperkeruh keadaan." Ucap Jasmine setelah menarik tangannya dari bibir Reza lalu mengelapkannya kepada lelaki itu seperti jijik.


"Sok jijik padahal kau sedang senang menempelkan jari mu di bibir ku." Ungkap Reza menggoda Jasmine. Jasmine yang mendengar perkataan Reza langsung memukul lengan kekar lelaki itu dengan keras.


"Mau aku cekik kau?!" ucap Jasmine membuat Lunna tergelak.


"Jangan! Saat ini kita berada di jalan raya. Jika terjadi kecelakaan bukan hanya kita yang akan celaka dan menanggung akibatnya. Namun banyak orang yang akan di rugikan." Ucap Reza lagi-lagi membuat Lunna menatapnya malas.


"Lun kau tidak ada rencana untuk kuliah S2?" tanya Reza tidak memperdulikan ejekan adiknya itu.


"Tidak. Kalian fikir aku ini seperti kalian yang IQ nya di atas rata-rata. Kau lagi Jasmine, kita ini seumuran tetapi kau sudah lulus S2 menyebalkan!" ucap Lunna membuat Reza tergelak.


"Jasmine apakah kau mengajari kakak ku cara tersenyum dan tertawa, akhir akhir ini aku melihatnya menampakan berbagai ekspresi?" ucap Lunna membuat Reza langsung terdiam lalu berdehem untuk menghilangkan kecanggungannya.


"Lupakan kau juga tidak memiliki ekspresi apapun." Lanjutnya.


"Lunna? Sebenarnya apa tujuan mu datang ke Indonesia? Bukan kah seminggu yang lalu kau mengatakan sedang liburan ke Belanda?" tanya Reza sembari memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran apertemen mewah nya.


"Tentu saja liburan, sekaligus aku juga ingin menemui pacar ku." Reza yang mendengar perkataan adiknya langsung terbelalak.


"Kau pacaran?!" ucap Reza dengan nada yang sangat ketus dan mata tajam nya yang jarang di tunjukkan kepada kedua wanita di hadapannya.


"Tentu saja. Aku bukan manusia dingin seperti kalian yang tidak tahu cara hidup dan bersenang-senang."

__ADS_1


"Dengan siapa?" tanya Reza.


"Tentu saja dengan Nathan. Siapa lagi."


"Kau masih menjalin hubungan dengan bajingan itu?! Sudah berapa kali aku mengatakan kepada mu bahwa dia hanya menjadikan mu sebagai bank berjalan, dan aku sudah menyelidikinya dia adalah pemain wanita." ucap Reza dengan intonasi yang tinggi.


"Itukan beberapa bulan yang lalu, dia juga sudah mengakui segalanya. Dan jika kakak tidak suka kepadanya jangan memfitnahnya seperti itu!" seru Lunna lalu membuka pintu mobil kakaknya itu dengan kasar lalu langsung berjalan cepat tanpa memperdulikan panggilan kakaknya.


"Lunna!" panggil Reza dengan nada tinggi membuatnya menerima pukulan di lengan kirinya.


"Sudah di dalam saja nanti bicaranya malu di lihat orang." ucap Jasmine lalu melangkah keluar menyusul Lunna.


"Lun." panggil Jasmine lembut sembari mengetuk pintu kamar adik manjanya Reza itu. Lunna yang mendengar panggilan lembut Jasmine langsung membuka kan pintu kamarnya lalu menarik Jasmine masuk ke dalam.


Bukan tisu yang bertebaran akibat tangisan dari sepupunya itu, Jasmine malah melihat bongkahan tas belanjaan Lunna yang berisi tas, baju, dan segala aksesoris yang baru saja di beli oleh Lunna.


"Aku kira kau kau menangis ternyata kau sedang unboxing." Ucap Jasmine membuat Lunna tergelak.


"Sekali-kali aku memang harus menangis seperti ini jika menyangkut hal Nathan. Kakak selalu tidak setuju dengan dia, papa saja tidak masalah. Dia sebenarnya tahu jika Nathan sering bermain di luar sana, dan selalu memperingati ku. Tetapi aku tidak pernah percaya padanya." Lunna tetap memfokuskan dirinya kepada tas keluaran terbaru yang di incarnya tiga bulan yang lalu, dan baru rilis pagi tadi.


"Apakah Reza pernah marah besar kepada mu?" tanya Jasmine, dan dengan jujur Lunna menceritakan segalanya kepada sepupu nya itu.


"Pernah, saat aku melihat Nathan bermain di apertemen nya dengan mata kepala ku sendiri. Saat itu aku masih kuliah dan kebetulan kakak sedang menjalan kan proyek di Prancis. Saat dia menjenguk ku, dia melihat aku menangis. Setelah ku cerita semuanya ke kakak dia marah besar dan langsung mengajak Nathan bertemu. Bukannya berbicara baik-baik, kakak justru menghajarnya dengan brutal. Ini bagus bukan?" tanya Lunna memperlihatkan tasnya dengan rasa bangga.


"Iya bagus, lalu apa yang terjadi?"


"Tentu saja Nathan babak belur. Kau tidak tau bagaimana kekuatan otot kakak ku itu? Dia tidak tergores sama sekali."


"Aku rasa dia menjadi seperti itu karena dulu kau pernah membantingnya."


"Aku tidak akan membantingnya jika dia tidak mengejek ku."


"Ya aku ingat bagaimana culunnya kau dulu." Ucap Lunna mengenang kembali masa kecil mereka yang tidak pernah akur.


"Jika begitu kenapa sampai sekarang kau masih berhubungan dengan kekasih mu itu?" tanya Jasmine, lagi-lagi mengalihkan topik. Dia sangat tidak suka jika membahas masa lalunya yang terbilang menjengkelkan.


"Kisah asmara ku itu rumit, panjang jika di ceritakan."

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2