Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 4


__ADS_3

"Alex!" Suara bak sambaran petir itu seakan menyambar kesadaran Reza maupun Jasmine.


Jasmine bergegas untuk bangkit, namun tidak bisa karena sebelah tangan Reza yang memeluknya dengan sangat erat.


"Brengs*k! Lepaskan tangan mu!" Teriak Jasmine tepat di telinga Reza. Sadar akan perbuatannya, Reza langsung menarik tangannya dari pinggang dan benda yang kenyal milik sepupunya.


"Dasar anak ini!" Geram wanita yang sedari tadi berdiri di pintu masuk kamar putranya.


"Anne! Aw, astaga sakit!" Teriak Reza saat telinganya di tarik paksa oleh sang ibu.


"Hei apa yang kau lakukan pada Angel! Aku menyuruhmu untuk menjaganya bukan merusaknya!" Teriak Ibunya Reza sembari menambah tarikan di telinganya Reza yang sudah tampak memerah.


"No! Aku tidak melakukan apapun padanya Tante, sampai kapanpun aku tidak akan sudi." Elak Jasmine.


"Ck, ck, ck! Belum satu Minggu saja sudah seperti ini, bagaimana tiga bulan?" Ucap seorang pria paruh baya yang masih berdiri di tengah pintu dengan layar ponsel menyala di tangannya.


Reza berdecak kesal ketika mendengar ayahnya mencoba memanas-manasi suasana. Lihatlah, di mata semua orang ayahnya itu bagaikan sebuah bintang yang menyala dengan penuh karisma, tetapi bagi dirinya ayahnya itu hanyalah seorang pria manja yang selalu menempel pada ibunya.


Jasmine melebarkan matanya tidak percaya. "No Onkel! kami tidak melakukan apapun dan Angel tidak akan pernah mau disentuh oleh anak kurang ajar ini, jadi tolong, berhentilah berfikiran macam-macam."


"Tidak macam-macam, hanya satu macam. Benar bukan?" Jasmine ingin sekali mencubit Deniz, ayah Reza yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.


Keinginan terpendam Jasmine ternyata terkabulkan lewat Tantenya. "Jadi apa yang kalian lakukan dengan posisi seperti itu?"


Jasmine langsung saja menatap horor kearah sepupunya


Kilas balik kejadian malam tadi yang begitu menjengkelkan. Jasmine membawakan semangkuk bubur hangat dan satu kantung plastik berisikan obat-obatan untuk Reza.


"Tuan muda terhormat, makan bubur mu dan setelah itu minum obatmu." Ucap Jasmine sembari meletakkan nampan kecil di atas nakas kamar Reza.


"Aku tidak mau!" Ucap Reza cepat lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


"Apa yang kau lakukan? Buka selimut mu itu, memakai selimut tebal akan memerangkap udara panas dalam tubuh, dan itu akan membuat suhu tubuh mu tak kunjung turun." Jasmine menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Reza secara paksa, namun hasilnya nihil. Tenaganya kalah jauh dengan tenaga Reza, bahkan saat pria itu sedang sakit.


"Dingin, iya dingin! Jadi biarkan aku memakai selimut ku." Ucap Reza di balik selimut tebal yang dipakainya.


Jasmine berjalan menuju lemari berukuran besar milik pria itu. "Jika dingin dan tubuh mu menggigil gunakan selimut yang tipis dan minum air hangat di sebelah mu itu." Ucap Jasmine sembari memeriksa isi lemari pakaian Reza yang berisikan pakaian formal, baju tidur, dan sedikit pakaian santai untuk pria itu.


"Tingkah dan tubuh besar mu itu tidak seimbang, buka selimut itu! Jangan membuat ku murka, Za!" Pria itu langsung membuka selimutnya dan menendangnya hingga teronggok ke lantai.


"Sudah?" Tanya Jasmine ketika pria itu selesai meminum obatnya.


"Sudah, pahit."


Jasmine berdecak sebal ketika mendengar penuturan manusia luar biasa di hadapannya. "Obat mana ada yang manis!"

__ADS_1


"Mine tunggu! Aku mau ke kamar mandi."


"Kau itu hanya demam biasa, bukan lumpuh! Meskipun mengatakan hal kejam itu, Jasmine tetap memapah Reza ke dalam kamar mandinya.


"Sudah, selesai!" Teriak Reza dari balik pintu kamar mandinya.


Ketika kembali memapah Reza ke ranjangnya, Jasmine merasakan beban tubuh Reza bertambah. "Aku tau obat itu akan menyebabkan kantuk berat bagi pemakainya, tapi tidak sekarang juga bereaksi!" Rutuk Jasmine kembali memapah Reza dengan kekuatan Ekstra.


Setelah menyelimuti Reza dengan selimut tipis Jasmine kembali menghidupkan AC dengan suhu rendah agar pria itu tidak mengoceh kepanasan di tengah malam.


"Hal apa lagi yang kau perbuat besok?" Ucap Jasmine membelai lembut rambut Reza lalu mematikan saklar lampu yang berada di atas kepala ranjang sepupunya.


Baru saja ia berbalik, tangannya tiba-tiba ditarik Reza. Tidak siap dengan tarikan tangan Reza, Jasmine jatuh ke ranjang dengan kepala menghantam dada bidang milik Reza.


"Aish! Ini dada atau beton sih?" Ucap Jasmine sembari mengusap keningnya. Saat ingin bangkit dari tubuh sepupunya, pinggang gadis itu justru di tahan oleh Reza. Dengan sekuat tenaga Jasmine berusaha melepaskan pelukan pria itu, namun hasilnya nihil. Bukannya melepaskan, pria itu justru makin mengeratkan pelukannya. Jadilah ia terjebak dalam pelukan hangat sepupunya, terjebak dengan aroma perpaduan aroma Citrus dan Mint yang begitu memabukkan.


Jasmine menatap horor pada Reza yang sedang bersandar di kepala ranjang. Namun, yang di tatap hanya diam saja seakan tidak peduli dengan apa yang telah di lakukannya.


"Siapa yang tau?" Tanya Reza berusaha menghindari tatapan tajam sepupunya.


"Tante, Onkel kenapa ada di sini?"


"Tidak, hanya mampir. Tante baru saja mengunjungi Alexa di Amsterdam." Ucap ibunya Reza sembari tersenyum.


Oooo_oooO


Akhir minggu yang sendu, langit hari ini seakan tidak mau menghentikan guyuran airnya. Tidak jauh berbeda dengan keadaan langit hari ini, wajah Reza juga tampak sendu di kamarnya. Sudah dari kemarin ibu dan ayahnya kembali, namun bukannya makin membaik, keadaan Reza justru memburuk karena stres yang berkepanjangan.


Jasmine membuka pintu kamarnya "Minum obat mu, setelah hujan reda aku akan mempertinjau lapangan kerja yang longsor itu." Ucap Jasmine datar sembari meletakkan air hangat kemudian meraih botol kecil berisi obat di laci samping tempat tidur Reza.


"Jangan seperti anak kecil Za, semuanya sudah teratasi. Kuli bangunan yang mengerjakan proyek itu sudah di tangani, tidak ada korban jiwa. Lagi pula siapa suruh kau tidak memperhatikan perkembangan pembangunan itu ketika rapat bulanan kemarin? Minum obat ini, jangan menyusahkan ku atau ku cincang habis tubuhmu itu!" Tegas Jasmine.


"Iya-iya, kejam sekali." Gerutu Reza.


"Lagi pula kemana kekasih liar mu itu? Aku kesini untuk menggantikan sementara sekretarismu bukan menjadi pembantumu." Kesal Jasmine kemudian beranjak ke meja kerja yang ada di ruangan Reza.


Jasmine mengecek email yang di berikan Gilang pagi ini, email yang berisi kelakuan bejat seorang tua bangka yang tidak tahu malu. "Bodoh, kenapa kau itu bisa selalai ini? Lihatlah berapa kerugian yang di peroleh perusahaan dan dana yang termakan di perut yang salah."


Ocehannya malah makin membuatku stres. Batin Reza kesal lalu meminum obat yang di berikan Jasmine.


Terdengar suara bel berbunyi dari luar sana."Siapa lagi itu?" Kesal Jasmine membuat Reza terkekeh.


Setelah hujan reda, Jasmine pergi mempertinjau pembangunan hotel yang roboh akibat longsor. Bersama dengan Gilang, asisten pribadi Reza yang baru saja kembali dari kantor cabang yang berada di pulau Sumatera.


"Sayang sekali, jika pembangunan ini berhasil, pasti akan luar biasa. Lihatlah hamparan laut itu, sungguh menakjubkan." Ucap Gilang yang berdiri di atas puing-puing bangunan yang tak jadi.

__ADS_1


Jasmine melirik pria yang tampaknya hanya selisih umur berapa tahun darinya. "Hah! Bodoh, seharusnya pembangunan ini akan perfact jika tanah yang di gunakan padat, ya minimal bukan timbunan tanah liat yang asal seperti ini."


"Tidak ada yang bisa membaca takdir, jika memang sudah terlanjur seperti ini, kita mau buat apa? Aku tidak pernah melihat Bos depresi dan stres seperti itu. Ini adalah satu-satunya proyek yang gagal ia jalankan." Ungkap Gilang sembari berjalan menghindari tanah liat becek yang mengotori sepatu hitamnya.


"Jika pondasi gedung tak jadi ini kuat pasti tidak akan ambruk seperti ini." Gumam Jasmine.


Gilang kembali menatap Jasmine yang masih berdiri menatap hamparan lautan luas dengan tatapan kosong. "Hei Nona manis, mari pulang. Kau mau kehadiran mu menjadi konsumsi publik?" Tanya Gilang menunjuk beberapa wartawan, dan reporter.


Matahari kini kembali menampakkan dirinya dengan sombong, setelah beberapa hari bersembunyi di balik awan mendung. "Ayo kembali ke perusahaan, bereskan pria bau tanah itu." Ucap Jasmine mengambil kaca mata hitam dari tas yang ia bawa.


Gilang mengambil langkah untuk menyeimbangkan pergerakannya dengan Jasmine. "Hei Nona, apakah bibir manis itu selalu mengeluarkan kalimat pedas?" Namun Jasmine tampaknya bungkam, malas mendengarkan ocehan Gilang yang menurutnya tidak penting sama sekali.


Oooo_oooO


"Wow, lihatlah wanita cantik ini. Cantik di luar namun tak tahu dalamnya seperti apa. Jauhi Reza, urus saja bisnis gelap dan keponakan mu itu." Ucap Jasmine menghampiri Chika yang duduk di sebelah Reza.


"Hei jalang sialan, diam Lo! Keponakan yang Lo maksud itu anak dari bos Lo, mau Lo di pecat karena ngejelekin anak bos Lo sendiri?"


Jasmine menepis kasar tangan Chika yang mendorong-dorong bahunya. "Don't touch me!"


"Hei, aku tahu betul jika itu bukanlah anak kandung Reza. Dan jikapun iya, masa ada adik yang dengan tega menikung kekasih kakaknya yang telah mati, dan menggunakan keponakannya untuk hidup dengan fasilitas mewah." Lanjut Jasmine dengan sarkasnya.


"Sialan!"


"Don't touch me!" Bentak Jasmine sekali lagi ketika Chika ingin menampar wajah datar Jasmine. Jasmine yang kesal akhirnya memutar tangan wanita itu hingga sang empu meringis kesakitan.


Macan bunting di lawan, aku aja gak berani lah elu malah datang nantang. Batin Reza sedikit meringis melihat wanitanya sedang di aniaya Jasmine.


"Jasmine sudah, lepaskan dia." Ucap Reza akhirnya tidak tahan melihat Chika terus merengek minta bantuannya.


Malas berdebat, Jasmine melepaskan cengkraman mematikan nya.


"Pulanglah, urus keperluan Aera." Ucap Reza dari atas tempat tidurnya.


Jasmine yang mendengar perkataan Reza hanya "Kau kok mau sama dia? Sudah jelas-jelas gadis kecil itu bukan anak mu tapi kau tetap peduli?!"


"Sudahlah Mine, biarkan saja dia. Lagi pula ketika aku melihat gadis kecil itu aku teringat Dara."


"Bukan itu bodoh! Maksudnya mengapa kau mau dia menjadi kekasih mu?!"


"Oh itu bukan aku yang mau, dia sendiri yang melemparkan diri ke atas ranjang ku. Dia yang mau di gempur bukan aku, dan kalau ada kesempatan kenapa tidak di ambil? Lumayan untuk penghematan kantong dari pada membayar Jalang" Ucap Reza santai lalu kembali fokus ke laptopnya.


"Bedebah gila!"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2