
Beberapa orang yang menyaksikan ledakan itu pun, menghampirinya yang tengah memapah pria tersebut, sambil terus memeluk tubuh tinggi tetap. Yang mana membuat ia sedikit kesulitan karena tubuhnya tak bisa mengimbangi tinggi badan dari pria yang ia tolong. Ditambah dirinya sedikit menahan luka serpihan yang mengenai punggungnya.
(Aku gak mau berbasa-basi ya karena dialognya sudah ada di awal pertama ya! Dan di bab ini Alana memberikan suatu barang peninggalan sang mama tercinta karena ia hanya mau orang yang di tolong itu mampu menjaganya dan ia sangat yakin barang tersebut pasti di jaga dengan baik)
Tanpa berbasa-basi orang yang berkerumunan itu pun merasa kagum dengan aksinya! Di tambah mereka semua sangat berterima kasih sebab tanpanya, pria yang ia tolong tak akan pernah bisa selamat dari maut.
Beberapa dari kerumunan orang-orang itu pun menanyakan tentang kondisinya, tetapi ia pun mampu menahan semua luka di punggungnya, bahkan tak luput darinya juga yang meminta pada beberapa dari mereka, untuk memanggil ambulans agar pria yang berwajah pucat yang sedang dipelukannya itu pun harus segera mendapatkan pertolongan pertama untuk di bawa ke rumah sakit berada.
Selang lima menit kemudian ambulans itu pun tiba, dengan dibantu oleh petugas ia berhasil memindahkan tubuh lemah tersebut yang tengah berbaring di atas brankar, sambil menggenggam erat tangan kekar yang hampir melemah.
Setelah tiba di pelataran rumah sakit, beberapa dari mereka pun mulai memindahkan tubuh pria itu dari brankar lain ke brankar yang akan di gunakan untuk operasi, sampai seorang petugas staf menegur dirinya.
__ADS_1
Yang mana membuat ia merasa kesal dengan peraturan rumah sakit, tanpa banyak dengan amarah yang meledak ia meninju sebuah tembok hingga tanpa sadar melukai punggung tangannya, sampai di mana ada seorang dokter tampan yang kebetulan tak sengaja lewat di antara lorong UGD tempatnya berdiri.
Lalu para petugas tersebut mendapat cecaran dari dokter tampan, dan secara tak terduga dokter itu pun yang membantunya untuk menyelamatkan pria yang ia tolong. Yang mana ia di suruh untuk menunggu, sambil mengobati luka dipunggungnya itu.
Kini ia berada di tempat lain dari sang korban sebab luka dipunggungnya harus segera mendapat perawatan, sambil menanyakan keadaan korban tersebut pada seorang suster yang tengah membersihkan luka punggung, yang tak sebanding dengan luka hatinya.
“Apa dia akan sembuh, Sus?” tanya gadis berambut panjang hitam sepunggung itu. “Sebab, saat aku berusaha mengeluarkannya dari mobil itu, kedua kakinya terjepit di antara badan mobil yang ringsek sebelah meledak!”
Suster yang mendengarnya itu pun menghela napas panjang, bukan tanpa alasan ia tak bisa menjawabnya, melainkan ia sebagai suster sangat kagum dengan keberanian dari gadis yang tengah mengobati sebuah luka di punggung, yang harus mendapatkan sebuah jahitan akibat serpihan dari mobil meledak menancap sempurna di punggung mulus tersebut.
Menganggukkan kepala, Alana pun merasa sedikit lega dengan penjelasan dari suster tersebut, lalu selang beberapa detik kemudian, ada seorang suster lain yang masuk ke dalam ruangan seorang suster yang tengah mengobatinya.
__ADS_1
“Ada apa denganmu? Mengapa kau terlihat terburu-buru begitu?”
“Itu, dokter David memintaku mencarikan sebuah darah, untuk di transfusikan pada pasien yang tengah di tangani oleh beliau. Dan aku kesulitan mencarinya, sebab stok darah yang sama sudah habis semua karena pasien itu harus segera mendapatkan darah itu.”
Alana yang kebetulan tak sengaja mendengar obrolan dari dua orang suster itu dengan tanggap ia menanyakan golongan dari pria yang berstatus menjadi pasien. “Apa golongan darahnya, Sus?” sela Alana cepat.
Suster tersebut pun menjawabnya, lalu kemudian tanpa berpikir panjang ia pun menyuruh suster itu untuk mengambil darahnya. “Kalau begitu ambil darahku, Sus! Kebetulan golongan darahnya sama denganku.”
“Tapi, Nona kondisi anda saat ini tak memungkinkan untuk melakukan transfusi darah.”
“Ambil saja, Sus! Nyawanya lebih penting dari pada luka dipunggung ini!” Alana pun menegaskan pada seorang suster yang tengah berdebat dengannya.
__ADS_1
Tanpa banyak kata suster itu pun menjalankan perintahnya dengan mengambil darah dari seorang gadis yang sangat tak dikenalnya, tanpa berpikir panjang akan kesehatan yang dialami oleh gadis tersebut.
Beberapa jam kemudian setelah operasi pasien itu dilakukan, dengan Alana sendiri yang masih menahan sakit di punggungnya, tanpa berbasa-basi ia menanyakan langsung keadaannya pada dokter tersebut yang diketahui ...