
Namun, Alana tak pernah sedikit pun memedulikan tentang orang yang selalu memandangnya sebelah mata, sebab baginya hanya akan membuang waktu.
Kedatangannya ke rumah sederhana tersebut, mendapat pertanyaan kembali dari sang abang tercinta, yang tengah membuyarkan lamunan Alana itu sendiri.
“Kau, datang kemari pasti punya maksud bukan?” tanya Gerry sambil mengacak-ngacak rambut adiknya ini.
“Bang, bisa tidak untuk tak bermain-main dengan rambutku. Apalagi dengan mengacak-ngacaknya, seperti tak ada kerjaan saja!” gerutu Alana dengan mengerucut kesal.
Mendengar gerutuan dari adiknya ini membuat, Gerry merasa gemas dengan sikap asli yang sedang di tunjukkan didepannya langsung.
“Katakan pada Abangmu ini, Sayang.” dengan nada yang terlihat serius, Gerry sebagai abang pun langsung peka dengan kedatangannya ke rumah sederhana tersebut. “Apa yang membuatmu datang kemari dengan tergesa-gesa? Apa ada yang sedang mengusikmu?”
“Ah iya itu … Tujuanku datang kemari untuk meminta tolong padamu, Bang … Bisakah kau menutup semua akses identitas asliku?” pinta Alana sambil menjawab pertanyaan dari abangnya ini.
__ADS_1
“Damn! Maaf, Lana sepertinya beberapa akhir-akhir ada seseorang yang sedang melacak identitasmu, bahkan juga ada yang membobol akses yang aku tutup itu. Tapi aku berhasil menghadangnya. Apa kau punya musuh di tempat ini, Lana?”
Alana pun menggeleng kepala. Bukan musuh yang sedang melacak identitasnya, akan tetapi sahabat pria di kampus itulah yang ingin mengetahui segalanya yang ia punya.
“Dia bukan musuhku, Bang! Dan orang yang sedang membobol akses itu adalah sahabatmu di kampus, dan juga tentunya aku sangat mengenal baik dengan orang itu!”
“Lalu apa kau ingin aku menutup semua akses yang masuk ke dalam akses pribadimu begitu, hm?” Gerry pun berkata sambil bertanya pada adiknya ini.
Mengangguk kepala, Alana pun meminta abangnya untuk selalu menutup semua akses pribadi, yang mana semua hal tersebut merujuk pada kehidupan pribadinya. “Oh iya sekalian juga, jangan biarkan wanita sundal itu menemukan keberadaanku sebab aku mempunyai firasat kalau sampai saat ini, dia tak pernah berhenti dan selalu berusaha menemukan di mana aku berpijak. Apa kau bisa melakukannya, Bang?”
“Kau memang selalu mengerti yang kumau, Bang.” puji Alana dengan senang. “Ya sudah kalau begitu aku mau ke kamar dulu ya, Bang!” pamit Alana dengan berjalan meninggalkan sang abang, yang masih sibuk dengan laptop pribadinya.
Tibalah, Alana di sebuah kamar sederhana pribadinya, dan begitu saat ia masuk ke dalamnya. Sorot pandangan mata Alana pun berubah menjadi raut wajah yang sangat rapuh, dibalik penampilannya yang terlihat sangat maskulin.
__ADS_1
Mengapa hari itu sangat menyakitkan, Pa? Apa kau tak pernah sedikit pun memahami perasaanku? Bahkan kau begitu tega dengan anak kandungmu sendiri, sampai mengusirku dari mansion. Jika saja kau tak termakan hasutan wanita sundal itu! Dia, yang telah merebut dan merenggut semua yang telah menjadi milik mama dan milikku. Bahkan, Dion saja tak luput dari incarannya! Sekarang aku sangat benar-benar mengetahui peringai dari dua wanita sundal itu.
Ia pun juga teringat pada seorang pria sekitar lima tahun yang lalu. Sebelum ia di usir dari mansion oleh papanya tercinta.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Beri dukungan karya ini dengan like dan komen tiap bab
See you next time