
Sementara itu di tempat lain begitu tiba di markas Boy segera memeriksa seluruh tubuh Arion. Apakah ada luka yang serius selain luka disudut bibir dan juga pelipis dari ketuanya. Namun, dia tak menemukan luka-luka tersebut.
“Boy!” Arion semakin mendesis saat sang asisten atau lebih dikenal dengan tangan kanan mengobati luka disudut bibirnya. “Aku merasa ada seorang pengkhianat yang bertugas menjadi mata-mata. Apa kau tak tahu hal ini?”
“Aku tak kepikiran arah sana, Yon. Kalau memang ada mata-mata seharusnya mereka tak akan bisa lepas dariku.”
“Baguslah kalau kau sadar kan hal itu. Aku ingin tahu dan melihat musuh mana yang membuatku kecelakaan. Apa tak ada kabar dari anak buahmu?” Nada dingin Arion terdengar jelas. Bahwa dia sangat membenci yang namanya pengkhianat.
“Bukankah aku sudah mengerahkan mereka untuk menangkapnya?” Boy bergumam lirih sambil bertanya. Mengapa anak buah yang ia tugaskan tak berhasil memberinya laporan.
Arion yang mendengarnya pun tersenyum sinis. “Jangan sampai aku mendengar mereka gagal menangkap orang yang menyerangku!”
Selesai memberi perintah ultimatum Arion meninggalkan sang tangan kanan untuk mengistirahatkan tubuhnya saat ini masih merasakan sakit akibat kecelakaan yang di alam oleh dirinya.
__ADS_1
Sementara itu di tempat Boy berdiri dengan setia hingga hampir satu jam menunggu kabar dari anak buah yang ditugaskan. Namun, begitu dia akan membuat perhitungan datanglah dua orang sedang tergesa-gesa melaporkan bahwa ada seseorang yang lebih dulu menangkapnya.
“Kalian terlalu lambat dan menangkap mereka saja tak becus!” Boy yang melihatnya menjadi geram dengan kegagalan dari anak buah yag di tugaskan itu.
“Maaf, Bos!”
“Aku tak butuh maafmu bo'doh!” Boy mengumpat geram dengan marah tanpa sadar ia meninju tembok sehingga membuat darah mengalir di sela-sela jarinya.
“Begini, Bos, maaf kami gagal menangkap karena su–”
Anggukan kepala dari anak buahnya itu. Seketika membuat rahang gigi Boy menggeretak gemuruh saat ia tak sengaja mendengar laporan tentang seseorang yang mendahului langkahnya.
“Apa kalian tahu siapa yang mendahului langkahku?” tanya Boy dingin.
__ADS_1
“Maaf, Bos, kami tak mengetahui siapa yang mengambil langkah ini.”
“Kalau begitu lacak sekarang. Aku ingin mendapatkan informasi itu.” Boy memberi perintah pada anak buahnya yang gagal tersebut untuk melacak seseorang yang mendahuluinya.
Sambil menunggu laporan emosi dari Boy belum mereda sebelum ia mengetahui seseorang dibalik gagalnya anak buah yang ditugaskan tersebut.
Beberapa menit kemudian Boy telah mengetahui orang itu tak lain dari suatu organisasi rahasia yang dibentuk oleh sahabat tuan besar. Sungguh kejutan yang begitu menyakitkan untuk dirinya.
Seperti yang dia duga anggota dari organisasi tersebut tak terlalu menyukai jika ada seseorang yang melacak identitasnya. Lalu sebuah nama berhasil mereka dapatkan dan melaporkan hal tersebut pada tangan kanan ketua mereka.
“Yang menangkapnya orang suruhan dari anggota organisasi rahasia Dark Angel. Perintah apa yang harus kami lakukan?” lapornya seraya mengajukan pertanyaan.
“Kalian tak usah mengusik mereka terlebih dahulu. Organisasi tersebut sedikit berbahaya jika diusik.” Boy tak menjawab pertanyaannya. Namun, ia memberi peringatan keras karena organisasi yang dipimpin oleh Alana Stevannya Lucier sedikit berbeda dari pendahulunya.
__ADS_1
“Lalu untuk orang yang mencelakai ketua itu kami harus bagaimana?”