
“Maaf, Lana aku masih belum kepikiran untuk magang!” jawab salah satu seorang sahabat wanita bermaskulin itu, yang bernama Sean Mahendra. “Lalu kamu sendiri mau magang ke mana?”
Wanita bermaskulin itu pun justru tak menjawab pertanyaan dari sahabatnya tersebut. Ia pun tengah berpikir apakah saatnya ini, untuk kembali ke Kota, tempat di mana ia berasal.
Apakah aku harus kembali ke sana? Aku sangat yakin kalau, wanita busuk itu tak pernah sedikitpun berhenti mencari keberadaanku, bahkan ia pun memberi tugas pada anak buahnya untuk melacak keberadaanku. Kau, jangan terlalu naif, Sarah! Sampai kapanpun, kau tak akan pernah bisa menemukan keberadaanku. Aku akan membayar mahal, atas perbuatanmu yang menghasut papaku, dan membuatnya mengusirku dari mansion
Pertanyaan lain pun terlontar dari bibir sahabatnya yang lain. “Apa kamu berencana akan kembali ke Kota, Lana?”
“Kalaupun harus kembali ke Kota, aku sendiri pun tak masalah. Sebab ini sudah waktunya aku menuntut balas, atas perbuatannya!” jawab Alana dingin.
“Apa aku boleh ikut, Lana?”
“Aku, juga!”
__ADS_1
“Bukankah ke mana-mana, kalian berdua selalu ikut denganku! Jadi tanpa harus bilang pun, kalian pastinya akan menempel seperti perangko!” cetusnya dengan sarkas, sembari beranjak meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Tanpa memedulikan teriakan dari keduanya. “Kamu mau ke mana, Lana?”
Alana, itu pun semakin menghilang dari pandangan dua orang sahabatnya.
“Sebenarnya, Alana mau ke mana, sih!” keluh Raya Amanda dengan bibir mengerucut kesal. “Dia seperti kulkas berjalan saja!”
“Bukankah, dia memang seperti itu, Nda?” tanya Sean dengan menggeleng kepala, sembari memikirkan perkataan yang dilontarkan oleh sahabatnya ini. “Sudahlah, Nda, kamu tak perlu mencemaskan berlebihan begitu! Alana, tak akan selemah yang kita kira. Sebaliknya kita harus selalu mendukung, apa pun kekurangan sahabat kita.”
“Oke, Nda, hati-hati kalau mau ke tempat itu!” peringat Sean.
Kedua sahabat itu pun terpisah, dengan seorang Raya Amanda yang tengah berjalan menuju perpustakaan.
__ADS_1
Setelah tak melihat punggung sahabatnya itu, sorot mata Sean Mahendra pun menjadi dingin, dengan gerakan cepat ia mengambil ponsel pintarnya, untuk menghubungi seseorang yang tengah ia tugaskan melacak jati diri di dalam salah satu sahabatnya. Yang sialnya, ia adalah seseorang yang mampu membuat hatinya gundah gulana.
Sebab, tak banyak semua orang pun tahu, bahwa Sean Mahendra mememdam perasaan cinta pada salah satu sahabatnya, terutama pada seorang wanita berpenampilan sangat maskulin itu yang tak lain ialah Alana Stevanya Lucier.
Bahkan ia sendiri pun tak begitu mengenal kepribadian dari, sahabatnya itu sendiri.
“Apa kau dan rekanmu itu sudah berhasil melakukan apa yang telah, aku minta?” tanya Sean dingin tanpa berbasa-basi.
“Maafkan saya, Bos. Orang yang ingin anda lacak itu sangat susah di jangkau, bahkan menurut saya pribadi sepertinya, orang itu terlalu misteri dari identitas yang anda maksud.”
Sean Mahendra mendengkus kesal, saat menerima laporan dari anak buahnya itu. “Aku tak mau tahu apa pun alasanmu itu! Lacak terus identitas aslinya, aku beri waktu kau panjang untuk bisa melacaknya sampai dapat. Paham!”
Tanpa menunggu jawaban dengan geram Sean pun langsung memutuskan panggilan.
__ADS_1
Alana, siapa sebenarnya dirimu itu? Mengapa aku, sangat susah sekali untuk mendapatkan identitas aslimu!