
“Ha? Apa sih, Kak!” beo sang adik yang terlihat gugup. Ternyata sang kakaknya ini justru mendengar nada lirihan yang terlontar dari bibirnya. “Sudah ya, Kak! Aku mau ke kamar dulu, dan bisakah besok siang untuk menemani 'ku dan mama jalan-jalan di Mall? Mumpung papa sedang ada di luar negeri.”
Arion yang sadar adiknya tengah mengalihkan pembicaraannya dengan terpaksa dia membiarkan sang adik tercinta untuk kembali ke dalam kamar, dan akan menepati janji pada kedua orang yang Arion sayangi.
“Oke-oke besok Kakak akan meluangkan waktu denganmu dan mama! Sekarang apa puas, hm?”
Berjingkrak-jingkrak tak lupa meninggalkan kecupan di pipi kedua kakaknya itu, tanpa menghiraukan Arion yang tengah menatap punggung tersebut.
Apakah mereka saling mengenal? Sialan sepertinya aku benar-benar kecolongan kali ini. Sepertinya dia dan gadis itu ada suatu hubungan, dan aku harus mencari tahu semuanya.
Tanpa memedulikan sang mama yang tengah menyapanya dengan bergegas Arion menuju ruangan kerja pribadinya karena, setiap ruangan mansion yang sangat luas itu, mempunyai tempat kerja masing-masing untuk membawa pulang, sebuah berkas dari perusahaan tempat dirinya dan papanya memimpin itu.
Setelah sampai dirinya pun tak mengindahkan Boy yang tengah menatap heran ke arahnya. “Ada apa, Yon? Mengapa kau terlihat seperti marah begitu?”
“Cari tahu latar belakang adik perempuanku saat bersekolah itu, Boy!” titah Arion dingin. “Ku` merasa dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang tak aku tahu, dan kali ini aku benar-benar merasa kecolongan.”
“Oke aku akan meminta mereka untuk menyelidikinya, dan kau tak perlu cemas ya, Yon.” Boy menyahutnya sambil menghibur kegelisahan dan kegundahan dari seorang Arion Orlando Alexander Azkalezy. Menunggu hampir satu jam lebih, Boy pun berhasil mendapatkan apa yang diinginkan oleh sahabatnya tersebut.
“Jadi mereka pernah satu sekolah dan bersahabat dekat? Lalu mengapa adikku terlihat seperti merasa bersalah begitu?” gumam Arion lirih.
“Yang pasti mereka berdua masih ada masalah yang belum bisa terselesaikan dengan baik,” sahut Boy. Yang mana dirinya sempat mendengar lirihan dari Arion. "Seharusnya sebagai seorang kakak jangan terlalu mencurigainya. Yang terpenting dekati dia, tanya kan langsung dengan adikmu itu. Mengapa harus merasa bersalah begini dengan gadis itu. Dan ku tak menyangka dunia ini begitu sempit.”
__ADS_1
“Hei, Boy ingat kau jangan macam-macam. Hanya aku yang boleh memikirkan gadis itu! Ingat batasanmu.”
Boy mencebik bibirnya dengan kesal. Yang tak mengerti jalan pikiran Arion, belum ketemu dengan gadis tersebut. Justru sahabatnya ini mengklaim sesuatu yang harus dia punya. “Aku tak berminat mencintai seorang wanita, Yon! Wanita hanya bisa membuat kepalaku pusing mendengar tiap rengekan ini dan itu.”
“Apa kau sedang menyindirku, Boy?” tanya Arion sembari menatap dingin ke arah sang sahabat.
“Jika memang kau merasa, aku akan dengan senang hati mendengarnya.” Boy tergelak lucu mendengar pertanyaan tersebut. “Apa yang sedang ingin kau bahas denganku sekarang?”
“Bagaimana dengan persiapan misi kita kali ini?”
Wajah kedua pria dingin itu pun menjadi serius setelah mereka memutuskan membicarakan perihal tentang misi mereka.
“Persiapan misi kita tinggal 90% saja, Yon karena aku tengah membagi waktu, antara misi dengan beberapa rapat dari perusahaanmu.”
“Jika itu memang keinginanmu aku sangat tak keberatan. Biarlah kau fokus dengan rapat untuk beberapa minggu ke depan.”
“Ya sudah kembalilah ke kamar pribadimu! Aku akan menemui mama dan meminta beliau untuk menemaniku makan malam.”
Kedua pria dingin itu pun memutuskan untuk menyudahi arah pembicaraannya tentang mengenai misi mereka.
Begitu halnya yang akan dilakukan oleh Arion sendiri, dirinya pun akan menemui sang mama tercinta, dan meminta maaf atas sikapnya yang tak menyapa beliau.
__ADS_1
“Ma,” panggil Arion dengan nada lembut.
“Sudah mulai ingat sama mamamu ini, hm!” sindirnya dengan bibir yang mencebik.
Nada sindiran itu pun membuat Arion meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Maaf ya, Ma,” rayu Arion sambil meminta maaf pada sang mama tercinta.
“Kamu itu, Xan. Tak pernah berubah seperti papamu saja, pulang-pulang dalam keadaan marah. Sebenarnya apa yang sedang terjadi, hm?” tanya sang mama pada putranya.
“Justru itu yang ingin aku sampaikan pada, Mama.” Arion menjawab dengan raut wajah yang terlihat serius. “Mengapa mama sama papa mencampuri urusanku? Untuk apa mencari keberadaan gadis yang pernah menolong Arion, Ma?”
Mamanya tercinta itu pun kaget setelah sang putra menanyakan langsung pada dirinya. Bukan tanpa alasan dia sebagai seorang ibu mencampuri urusan Arion, hanya saja kalung yang dipakai oleh putranya itu pun mengingatkan akan semua hal kenangan tentang orang itu.
Masih teringat dengan jelas bagaimana orang itu membuat dirinya sendiri yakin untuk menerima cinta dari pria berhati dingin yang telah berhasil membawanya ke dalam kehidupannya yang sekarang.
Bahkan jangan di tanya bagaimana posesifnya orang itu pada dirinya, membuat dia sendiri yakin kalung yang kini dipakai oleh sang putra tercinta merupakan kalung berharga milik orang itu. Seseorang yang selalu membuat dia merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan nyawa, di saat dirinya mendapat kabar yang begitu sangat menyakitkan.
“Ma.” Arion memanggil sang mama yang tengah menatap sendu ke arahnya. “Apa yang sedang Mama pikirkan? Apa pertanyaanku salah?”
Mendengar nada panggilan dari putranya, membuat dirinya menghela napas panjang, bukan untuk memikirkan hal yang lain. Hanya saja saat ini dia sendiri sedang merindukan seseorang yang selama ini di anggap meninggal dunia, bahkan dirinya merasa kecewa saat mendengar kabar yang menyakitkan itu.
“Kamu tak salah bertanya seperti itu, Xan. Hanya saja Mama sedang merindukan sahabat Mama yang sudah lama meninggal.” Cerita dari wanita yang telah melahirkannya ini, membuat dirinya tertegun. Sesedih ini hati seorang wanita yang Arion cintai ini.
__ADS_1
“Lalu apa sahabat Mama tak pernah memberi kabar untukmu, Ma?” tanya Arion yang sedikit tertarik dengan kehidupan masa lalu mamanya tersebut.
“Sejak menikah dengan papamu, tak pernah sedikit pun Mama mendengar kabar tentangnya. Bahkan yang harus menyakitkan untuk hati ini adalah yang tiba-tiba mendengar kabar tentang kematian dari sahabat Mama, Xan.” Tak kuasa menahan air matanya yang berkaca-kaca tangisannya itu pun pecah saat dia harus menceritakan sedikit tentang seseorang yang telah dia anggap sebagai kakak. “Tanpanya Mama tak akan pernah bisa menikah dengan papamu. Dia bukan sekedar sahabat bagi Mama tapi, semua kenangan itu tak pernah sedikit pun terlupakan ….”