
“Tak perlu banyak tahu darimana aku bisa mengetahuinya.” Alana berkata tegas sembari menyembunyikan sesuatu yang hanya ia sendiri mengetahuinya. “Yang jelas ini ada hubungannya denganmu.”
Kening Sean mengernyit heran saat mendengar perkataan dari sahabatnya itu. “Aku, kenapa memangnya, Lan?” tanyanya sambil menunjuk ke arah diri sendiri.
“Apa dirimu itu tak merasakan perasaan cinta dari orang lain?” tanya Alana balik.
Sean menggeleng, sejujurnya hanya satu wanita yang disukai ialah Alana sendiri. Namun, sampai sekarang dia masih belum berani mengungkapkannya.
Orang yang ku’ suka sejak pertama kali bertemu hanya kamu seorang, Lan. Maaf atas sikapku yang terlalu pengecut. Bahkan sampai sekarang diri ini belum berani mengungkapkan perasan ini untuk dirimu selalu. Sean membatin sambil melamunkan tentang perasaannya seorang diri.
“Aku tak mengerti dengan maksud perkataanmu itu karena wanita yang ku’ sukai i–” sebelum Sean melanjutkan perkataannya.
Ia sedang melihat Alana yang tengah bergegas meninggalkan tempat mereka bertemu.
Alana tak menyangka bisa mendapat sinyal kembali dari Raya. Yang saat ini tengah di bawa oleh Eva ke tempat gudang yang sangat sepi.
__ADS_1
Bergegas menyusul Raya sekaligus memberinya peringatan keras untuk berhenti mengganggu sang sahabat tercinta.
Namun, Alana tak menyadari bahwa saat meninggalkan tempat sebelumnya, dari belakang terdengar langkah Sean yang sedang mengikutinya.
Sampai pada akhirnya ia menyadari keberadaan Sean yang mengikutinya tersebut. “Mengapa harus membuntutku dari belakang!” tegur Alana dingin.
“Aku tak bermaksud seperti, Lan.” Sean menyahut sambil berkilah. Agar ia sendiri dapat mengerti mengapa Alana bisa sampai ke tempat ini.
Tak menggubris sahutan dari Sean. Alana semakin menajamkan pendengarannya. Sayup-sayup ia mendengarkan suara yang sangat dikenalnya.
“Apa kau yang kau lakukan padanya.” Sean dengan maju mendekati sahabatnya. Akan tetapi di cegah oleh Alana.
“Mundurlah. Biarkan aku yang menanganinya. Tunggu di luar sana.”
Terpaksa Sean mengalah, dan membiarkan Alana mengurusnya seorang diri.
__ADS_1
“Apa kau tak tahu dia sama sekali tak membencimu,” ucap Alana dingin sambil menurunkan tangannya. Yang memang sedari tadi telah menekan tombol dilehernya.
Eva yang mendengar suara asing mendadak tercengang. Saat mengetahui suara tersebut yang berasal dari Alana.
“Jadi, ka–” Belum sempat melanjutkannya. Eva mendapat teguran dari Alana secara langsung.
“Sudahlah akhiri obsesi untuk melukai hatinya. Apa kau tak tahu bisa melukai hati seseorang yang begitu mencintai, dan menyayangimu. Pasti paham dengan apa yang ku’ katakan, kan!” Nada dingin Alana berusaha menyadarkan kesalahan yang dibuat oleh saudari Eva.
“Tahu apa kau tentang kehidupanku. Cih, sampai mati pun aku tak akan sudi mau menerima kenyataan bahwa papa, dan wanita itu telah menikah.” Tanpa merasa takut Eva membalasnya dengan nada yang lebih sinis.
“Kau benar-benar dibutakan oleh cinta. Tanpa pernah mau menyelidiki apa dia benar menyukai priamu itu. Jangan naif terlalu naif. Bisa tanyakan sendiri padanya. Sekarang!” Alana berkata sambil menantang Eva untuk berani bertanya pada Sean yang kini tengah berada di depan yang sedang menunggu.
Eva tak begitu percaya dengan perkataan yang dilontarkan oleh Alana. “Aku tak begitu memercayai perkataanmu itu.”
“Aku tak butuh kau percaya atau tidak. Yang jelas di luar itu ada pria yang kau suka, dan sekarang bisa langsung tanyakan tentang siapa wanita yang disukai olehnya.” Alana pun mengulang kembali tantangan. Yang ditunjuk oleh Eva.
__ADS_1
“Oh iya satu hal lagi di luar sana banyak seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu, dan ada yang mencintai tanpa syarat malah kau sia-siakan, bahkan tak pernah sedikit membalasnya. Seharusnya berterima kasihlah pada orang yang tak pernah melahirkanmu tapi kasih sayangnya melebihi rasa kasih pada anak kandungnya. Ingat, dan camkan itu.”