
Sarah pun mengumpat geram pada anak buahnya karena hampir membuat dia menunggu tentang laporan penyelidikan itu.
Menunggu kabar dari anak buahnya dengan terpaksa Sarah pun bergegas kembali ke mansion. Yang mana begitu dia tiba di mansion, seketika itu sang papa pun menyambut dan menanyakan tentang rapat yang dihadiri olehnya.
“Bagaimana dengan rapat yang kamu pimpin hari ini. Apa sudah berhasil memenangkan tender itu, Sayang?” tanya seorang pria paruh baya pada Sarah.
“Oh, Papa membuatku kaget saja!” jawab Sarah dengan ekspresi kaget.
“Mengapa ekspresimu harus sekaget ini, Nak? Seperti sedang mencuri saja. Membuat Papa heran dengan tingkah lakumu!” sahutnya sambil terkekeh lucu dengan ekspresi dari putrinya ini.
Namun, tiba-tiba bayangannya yang bercengkrama dengan Alana terlintas dipikirannya. Sarah yang melihat sarat kerinduan di diri papanya itu pun hanya bisa mengepalkan tangan sambil menahan amarah yang berada diubun-ubun.
Sarah pun akhirnya mengalihkan pikiran sang papa untuk tak terlalu merindukan seseorang yang dia sebut sebagai pembawa sial, biarlah dia menganggap dirinya egois yang terpenting apa pun yang diinginkan. Harus selalu masuk ke dalam genggam tangannya, termasuk dengan pria dingin itu.
“Eh, Papa aku tadi hanya kaget saja denganmu yang tiba-tiba menanyai tentang rapat itu,” ucap Sarah dengan berpura-pura mengerucut kesal.
Mendengar ucapan putrinya, membuat pria paruh baya itu pun mengacak pucuk kepala sang putri tercinta dengan gemas. “Jangan kesal ya, Sayang. Papa hanya bercanda.”
“Papa, sih segala macam pertanyaan malah kau tanya kan padaku!” sahutnya merasa puas mengalihkan pikiran pria paruh baya didepannya ini. Lalu Sarah pun teringat lagi dengan kalung yang dipakai oleh seseorang yang membuat dia merasa tertantang untuk mendapatkannya. “Oh iya, Pa. Tadi saat rapat aku melihat sebuah kalung yang sangat mirip dengan punya, kakak.”
Deg
__ADS_1
Kaget itulah yang dirasakan oleh pria paruh baya tersebut, bagaimanapun kalung yang pernah dia berikan pada mendiang istrinya tercinta, merupakan sebuah benda yang sangat berharga untuk mendapat cinta dari seseorang yang pernah dirinya cintai di masa lalu.
Untuk memastikannya dirinya justru bertanya pada Sarah. “Apa kamu tak salah lihat, Nak? Kamu tahu sendiri, kan! Kalau kakakmu itu selalu menjaga apa yang dia punya, lalu apa kamu akan mengklaim kalung itu sebagai milikmu begitu, hm?”
Sarah pun mengangguk.
Sebuah celah untuk mendapatkan kalung yang sejak dulu dia incar tapi dia harus menguburnya, saat sang papa mengatakan bahwa dirinya tak akan pernah bisa mendapatkan kalung tersebut.
“Sayang, sekali lagi Papa minta maaf padamu. Bukan tak ingin memenuhi permintaanmu yang satu ini, hanya saja kalung itu tak bisa kau klaim dengan gamblang. Papa juga harus memastikannya terlebih dahulu.”
“Apa benar begitu, Pa?”
Mengangguk kepala, pria paruh baya tersebut pun tak bisa berbuat banyak saat harus selalu mau menuruti keinginan dari putrinya ini tapi, tidak untuk sebuah kalung yang menjadi saksi perjuangan cintanya tak akan pernah bisa berpindah tangan kepada siapa pun. Termasuk putrinya sendiri.
Sebab, kalung berharga tersebut tak akan pernah dia lupakan, dan isi dari kalung itu hanya sebuah nama inisial putrinya tercinta Alana, serta juga berupa sebuah foto masa muda mendiang istrinya tercinta. Yang tak akan pernah bisa diganti kan oleh siapa pun yang berusaha mengklaimnya, termasuk Sarah itu sendiri.
“Ya sudah kalau begitu aku mau masuk ke kamar dulu ya, Pa,” pamit Sarah dengan wajah berpura-pura memelas.
Maafkan Papamu ya, Sayang. Sampai kapan pun kalung itu tak akan pernah bisa kau dapatkan, mengingat isi dari kalung itu juga tak akan bisa diubah oleh apa pun. Sekalipun kau berusaha mendapatkannya.
Sarah yang masuk ke dalam kamarnya itu pun menghancurkan semua barang yang ada didepannya itu, cepat atau lambat dirinya harus mendapatkan sebuah kalung yang dulu sempat incar itu.
__ADS_1
Sialan! Kenapa harus selalu gagal merayunya … Dulu dia begitu mau membantu untuk merebut kalung itu tapi sekarang mengapa justru sebaliknya dia melarangku … Ini tak boleh dibiarkan begitu saja … apa pun yang terjadi kalung itu harus sampai dalam genggaman tanganku.
Dari arah di depan pintu kamar milik Sarah, masuklah seorang wanita paruh baya yang tengah menghampirinya, dan menatap bingung ke arah sang putri tercinta seperti sedang menahan amarah.
“Sayang,” panggilnya dengan nada lembut. “Mama tadi dengar suara barang yang pecah dari kamar sebelah, begitu ingin mengetahuinya ternyata berasal dari kamarmu. Memangnya apa yang sedang terjadi?”
“Ma!” Lirih dan pelan tapi masih terdengar dari wanita yang telah melahirkannya itu. Sarah pun mengadukan semua tentang pertemuan dengan pria dingin, dan juga tentang sebuah kalung yang selalu dia incar. Bahkan dirinya menjadi kesal dengan orang yang dia panggil papa itu.
“Jadi kamu sedang kesal dengan pria tua itu, hm?” tanya mamanya dengan heran.
“Bagaimana aku tak kesal dengannya, Ma! Bahkan sekarang seperti enggan membantuku lagi, padahal dulu sebelum anak pembawa sial itu pergi dari mansion pria tua itu selalu memanjakan, dan menyayangi lebih dari apa pun lalu sekarang mengapa seperti ada jarak di antara kita,” jawab Sarah sembari mengadu pada mamanya.
Astaga, Sayang! Kamu jangan terlalu bodoh dan naif begitu. Jelas saja kalian ada jarak penghalangnya karena darah yang berada dalam tubuhmu itu tak mengalir darah di dalamnya. Kau harus tahu satu hal, bahwa Mamamu inilah yang membunuh adik dan ibu dari pembawa sial itu, Sayang.
“Sayang, sudah ya. Jangan selalu membahas tentang kalung itu!” sahutnya dengan geram. Dia pun tak mengerti jalan pikiran putrinya yang selalu ingin merebut kalung murahan itu. “Mengapa kamu selalu mengincar kalung itu, sih? Bukankah tahu sendiri kalung yang selalu menjadi target, kita selalu gagal mendapatkannya. Jadi berhenti mengeluh tentang kalung murahan itu, kalau untuk membantu mendapatkan pria yang sedang menjadi targetmu, Mama sendiri yang akan turun tangan. Apa hatimu merasa senang, hm!”
Sarah sedikit kesal dengan mamanya mendadak tersenyum, saat wanita cantik ini akan turun tangan langsung dalam perihal kelicikan yang selalu menjadi andalan sang mama tercinta.
“Mama, serius, kan? Akan membantuku untuk mendapat pria itu!” kata Sarah sambil memastikan ucapan dari mamanya.
“Ck, kamu ini mengapa tak percaya dengan mamamu, hah?” Mama Sarah itu pun geram dengan perkataan dari putrinya ini. “Mama, serius dengan apa yang akan Mama lakukan untukmu.”
__ADS_1
“Oke-oke, maaf telah meragukanmu, dan aku percaya mama selalu tahu apa yang ku mau,” ucap Sarah sembari meringsek ke dalam pelukan seorang yang telah melahirkannya.
Kalau Mama sudah turun tangan begini … aku pasti sangat yakin dan cepat atau lambat kita akan bertemu kembali … wahai pria dingin.