Mr Mafia Terjerat Cinta Gadis Tomboy

Mr Mafia Terjerat Cinta Gadis Tomboy
Part dua satu


__ADS_3

Keempatnya pun merasa terkejut dengan permintaan dari para preman tersebut karena sudah kepala tanggung, terpaksa mereka pun menyanggupinya, dan jika gagal mereka harus menerima bayaran dari setengah


Setelah mereka menyewa beberapa preman yang mereka bayar, dan saatnya para preman itu menunggu perintah kembali dari para primadona itu.


Kembali lagi dengan Raya yang tengah sibuk membaca beberapa bahan yang akan dirinya persiapkan, tanpa sadar waktu telah cepat berlalu suasana kampus itu pun telah menjadi sore hari meskipun sepi tapi di luar masih terlihat ada keramaian.


Menengok sebuah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, tanpa sadar dirinya menjadi lupa waktu karena terlalu fokus diperpus.


“Bagaimana aku bisa lupa waktu. Bisa-bisa sampai di mansion mama mengomeliku,” gumamnya pada diri sendiri. Sambil kakinya melangkah ke arah gerbang kampus.


Dari arah lain terdapat beberapa preman yang telah dibayar oleh primadona kampus tersebut, sambil mengangguk kepala mereka pun melakukan tugasnya dengan membekap dan membawanya ke tempat sepi.


Tanpa disadari oleh Raya Amanda saat akan menghubungi sang sopir, ada salah satu dari preman itu yang tiba-tiba datang membekap mulutnya dari belakang sampai dirinya pingsan, dan setelah itu dirinya pun tak mengetahui ke arah mana para preman tersebut membawanya.


Para preman yang mendapat tugas tersebut langsung menghubungi orang yang telah berani menyuruh mereka. “Nona kami semua sudah membawanya ke tempat sepi. Lalu tugas apa lagi yang harus kami lakukan, Nona?”

__ADS_1


“Kerja bagus!” puji Eva dengan bangga. “Tugasmu seperti yang aku bisikan sebelumnya. Apa kau masih ingat?”


“Baik, Nona akan saya lakukan!”


“Aku juga tak ingin mendengar alasan kalian gagal melakukan itu. Paham!”


Tanpa bisa menjawabnya preman tersebut sedikit mengumpat kesal dengan tingkah laku dari arah seberang.


“Si'alan berani sekali mereka menindas kita,” umpatnya dengan geram.


“Lalu kita sekarang kita apa 'kan dia?” tanya yang lain sembari menunjuk ke arah Raya yang tengah dibekap itu.


“Mau tak mau kita harus melakukan apa yang diperintahkan oleh mereka. Sebab, aku sungguh tak ingin berurusan lagi dengan organisasi misterius itu,” jawabnya sedikit meragu.


Kening semua preman itu pun mengernyit heran dengan jawaban dari salah satu rekannya.

__ADS_1


“Apa maksudmu itu, hah?”


“Kalian dengarkan baik-baik karena aku tak akan mengulang kembali. Dia yang kita tangkap ini pasti mempunyai sesuatu benda yang berhubungan dengan sinyal, dan aku sangat yakin benda tersebut telah mengirimkan ke arah lain. Jadi kita tak bisa gegabah dalam bertindak.” Salah satu dari bos preman itu pun menjelaskan sesuatu hal pada rekannya itu.


Mengingat dirinya benar-benar sedikit curiga pada gadis yang mereka tangkap.


Di tempat lain Alana yang tengah melamun itu pun mendadak kesal, saat dirinya tak sengaja mendengar nada panggilan darurat yang berasal dari alat lacak milik Raya Amanda.


“Sinyal ini … Si'alan siapa yang telah melakukannya pada Raya.” Mengumpat geram Alana pun bergegas menyelamatkan sahabatnya tersebut, ditambah dirinya akan meminta bantuan untuk menyelidiki siapa yang telah berani bermain-main dengannya.


Saat Alana tengah bergegas, dirinya pun berpapasan dengan Gerry yang menatap heran ke arahnya. “Kamu mau ke mana, Lan?”


“Bang aku ingin kamu menyelidiki sesuatu. Apa bisa?” pinta Alana tanpa menjawab pertanyaan dari Gerry.


“Oke-oke nanti biar Abangmu yang mengurusnya. Hati-hati dijalan, jika butuh bantuan segera hubungi, Abang.” Tak lupa Gerry pun memberi pesan pada Alana untuk berjaga-jaga jika membutuhkan bantuan.

__ADS_1


__ADS_2