
Di sinilah Arion Orlando Alexander Azkalezy berada, di ruangan rapat besar ini, dengan ia yang tengah mengeluarkan aura ketegasan dalam jalannya memimpin. Serta jangan lupakan dengan wajah datar dan dingin itu, mampu membuat salah seorang wanita di ruangan tersebut, terhipnotis dengan apa yang ia lakukan itu.
Namun tak banyak yang diketahui oleh dua perusahaan lain, bahwa sejujurnya Arion sangat malas menggantikan sang papa tercinta untuk mengatur jalannya rapat tersebut karena, ia tak bisa menerima bantahan dari papanya tercinta.
Arion pun tak menyadari keberadaan seorang wanita yang sedari tadi tak berkedip saat menatapnya. Wanita yang bernama Sarah tersebut menatap ke arah pemilik perusahaan AOA Grup, bagi Sarah sendiri pria didepannya itu tak bisa ia lewatkan begitu saja, setelah mengetahui CEO asli.
Ia akan menjadikan Arion sebagai mangsa baru sebab, kekasihnya Dion Adi Fanani sudah tak dibutuhkan kembali karena sejatinya, Sarah merebut Dion dari Alana semua itu atas dasar rasa iri hati yang begitu besar. Ketika mengetahui Alana lebih baik dan pintar dalam segala hal. Tak menutup kemungkinan kini Arion yang akan menjadi target selanjutnya.
Netra pandangan Sarah menatap ke arah sebuah kalung yang dipakai oleh Arion sendiri, ia pun mulai berpikir dengan bentuk kalung tersebut, sembari membagi pikirannya dengan rapat dan arah kalung itu.
Setelah memastikan penglihatan dalam bentuk kalung tersebut, ia pun terkejut bukan main ketika mengetahui pemilik asli dari kalung itu, merupakan kalung yang selama ini ia incar, bahkan sampai harus berpura-pura menangis di depannya sang papa agar Sarah dapat memiliki kalung itu. Akan tetapi sang pemilik tak akan pernah sudi memberikan segala yang pemilik itu punya.
__ADS_1
Aarrgghh sialan … Tak mungkin kalung itu miliknya? Lalu mengapa kalungnya bisa dipakai oleh pria di depanku ini? Aku harus memastikan sesuatu! Jika memang benar bukti itu kalung milik, wanita sial itu. Ini kesempatan yang tak boleh terlewati, untuk mendekati pria dingin yang tengah menjadi incaran mangsaku.
Namun, Sarah pun tak menyadari diam-diam senyum liciknya itu mendapat sorotan dingin dari seorang sekretaris dari Arion, yang tengah menatapnya sebagai sinyal berbahaya yang mengintai sahabatnya tersebut.
Ada apa dengan wanita ini? Mengapa ia menatap terus ke arah kalung yang dipakai oleh, Arion? Dan tatapan mata itu bukan tatapan yang tulus, sepertinya wanita ini tengah merencanakan sesuatu tapi. Apa? Cih … Dari pakaiannya pun bisa ketebak, dia tak berbeda jauh dengan mantan Arion, pasti wanita ini mendekatinya karena sesuatu. Aku harus menyelidikinya.
Setelah rapat mulai kondusif, dengan berjalan lancar tanpa hambatan, ketiga perusahaan tersebut mulai membubarkan diri, tak lupa dengan Sarah yang berusaha menarik perhatian dari Arion. Tentunya ia sengaja melakukan hal tersebut, untuk memastikan sebuah kalung yang dipakai oleh pria yang tengah menatap dingin ke arah sekitarnya.
Suara yang dilembutkan oleh Sarah, membuat Arion risih mendengarnya, ia sendiri pun sebenarnya sudah mengerti dan memahami gelagat dari wanita tak tahu malu itu, akan tetapi ia berusaha untuk tak bermain kasar jika saja wanita tersebut tak mengganggunya.
“BOY!”
__ADS_1
“Ya, Tuan.” Dengan wajah dinginnya tak kalah dari Arion. Boy yang dipanggil itu pun berusaha menahan tawa, ia merasa puas jika Tuan sekaligus sang sahabat ini, merasa senang tak menggubris godaannya.
“Antarkan wanita ini ke depan lobi!” nada dingin tanpa bantahan itu pun langsung mendapat tanggapan dari sekretarisnya tersebut. “Kalau perlu kau saja yang makan siang dengannya, aku ada perlu dengan adikku.”
Sarah yang mendengar penolakan langsung itu pun, merasa kecewa dengan pria yang baru saja menolak tawaran darinya, ia pun tak menduga ada seorang pria yang baru kali ini menolak pesona kecantikan yang selalu ia banggakan sejak dulu.
“Mari, Nona silakan, saya akan mengantar anda ke depan lobi! Dan mohon maaf atas ketidaknyamannya, Tuan saya memang ada sedikit perlu.” suara dari Boy membuyarkan lamunan Sarah.
“Terima kasih banyak, tak perlu mengantarku. Aku bisa jalan ke depan sendiri!” ucap Sarah ketus, tak lupa ia berjalan sambil menghentak kakinya dengan kesal.
Lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut, Arion.
__ADS_1