
“Rencana apa? Aku pun tak melakukan rencana seperti yang kamu tanyakan.” Alana berkilah dengan santai. Nyatanya raut wajahnya menunjukkan ia sedang menyembunyikan sesuatu yang tak diketahui oleh Whepi.
Whepi yang tak ingin berdebat memutuskan untuk tak menanyakan kembali pada adiknya itu. Namun, fokusnya kali ini pada sebuah misi yang akan mereka lakukan.
***
“Bagaimana apa pengkhianat itu sudah kau tangkap, Boy?” Arion berkata sambil terus mengingatkan sang tangan kanannya ini.
Lama menunggu akhirnya Boy menyeringai senang saat mendengar laporan salah satu anak buahnya berhasil menangkap pengkhianat tersebut.
Yang mana di markas tersebut terdapat salah seorang yang disinyalir sebagai pengkhianat sampai harus membuat Arion mengalami kecelakaan.
“Siapa yang menyuruhmu melakukan itu pada diriku?” Arion menatap dingin ke arah pengkhianat yang telah babak belur dihajar oleh anak buahnya yang lain.
“Ketua sedang bertanya denganmu! Kau seharusnya bisa menjawab jangan bilang kau tak tahu apa pun.” Boy tak ketinggalan dia juga menambahkan api kemarahan di dalam diri Arion.
__ADS_1
Mereka pun tak mendapat jawaban dari pengkhianat tersebut. Sampai-sampai kesabaran ketua Black King Mafia pun habis. Dia yang sedang diselimuti api kemarahan pun tak ada yang bisa menenangkannya.
Sorot mata dingin yang tak dapat dipungkiri jati diri lain Arion, dan ternyata berasal dari seorang pria berdarah dingin Jackson. Ia menurunkan semua sikap dari sang papa yang terkenal kejam dan sadis di zamannya.
Arion pun tak main-main untuk pengkhianat seperti anak buahnya. Ia akan sedikit bermain dengannya menunjukkan tanpa rasa belas kasih. Menyiksanya tanpa ampun.
Sebab, bagaimanapun ia tak ingin ada pengkhianat lain yang telah berani membangunkan macan yang tertidur. Ibarat kata Arion sendiri yang menjelma menjadi macan yang kapan saja mengaum.
“Seharusnya kau berpikir dulu bila ingin mengkhianatiku!” ucap Arion dingin. Tak lupa ia menyiksa tubuh pengkhianat dengan siksaan yang tiada henti.
Sambil terbata-bata pengkhianat tersebut masih berani meminta ampun pada Arion yang sama sekali tak digubris oleh dirinya.
“Kau pikir aku akan mengampunimu begitu, hah!” bentak Arion nada satu oktaf tak lupa tangannya semakin gencar menyiksa pengkhianat tersebut. “Aku paling benci dengan yang namanya pengkhianat! Sekali kau berkhianat dariku. Maka selama itu tak ada kata ampun untuk pengkhianat sepertimu. Paham!”
Siksaan yang diberikan Arion tak membuat hatinya merasa lega dengan keringat yang mulai membasahi sebagian wajah tampannya tak menyurutkan niat ia lebih menyiksa dalam pada pengkhianat itu.
__ADS_1
“Boy ….”
“Apa kau ingin aku menggantikanmu, hm!”
“Lanjutkan sesukamu setelah itu kau temui aku di kamar.” Arion berkata tanpa menolehkan ke belakang.
Melangkahkan kakinya meninggalkan Boy yang bersiap menggantikannya menyiksa pengkhianat tersebut.
Di apartemen milik kakek Alana yang masih di tempat seorang pria paruh baya tersebut saat ini sedang merenungkan kesalahan yang dilakukan oleh putri kandungnya yang tak lain Sarah.
“Tuan ….” Asisten pribadi pria yang bernama Samuel itu memanggil Tuannya.
“Aku sedang tak ingin mengobrol.” Samuel benar-benar enggan mengobrol dengannya.
“Jika, Anda seperti ini terus mau sampai kapan Anda dibohongi oleh wanita itu?” Ia yang sudah lama mengikuti Samuel begitu geram dengan tindak-tanduk dari wanita yang telah melahirkan penerus Tuannya.
__ADS_1
“Sudah ku' katakan-kan aku sedang malas mengobrol denganmu.”
“Maaf atas kelancangan saya, Tuan ....”