
Sementara itu mama kandung dari Raya Amanda pun hanya bisa menghela napas panjang. Sejak pertama kali menikah dengan pria yang telah menjadi suaminya itu, tak pernah sedikit pun berpikir untuk mengganti posisi mendiang istri pertamanya. Namun dirinya selalu berpasrah diri sampai pada akhirnya nanti putri kandung sang suami tercinta mau menerima pernikahannya yang kedua.
Saat tengah asyik melamun seketika itu dirinya pun mendengar suara berat dari sang suami tercinta. “Ada apa, Ma?”
Dirinya pun hanya menjawab dengan gelengan kepala karena, perdebatannya kali tak ingin membuat sang suami tercinta berpikir tentang kedua putrinya.
“Apa Eva masih suka mendebatkan suatu hal yang tak selalu aku mengerti, Ma?” tanya seorang pria paruh baya. Yang tak lain papa kandung dari Eva. “Papa minta maaf padamu ya, Ma.”
Kening istrinya mengernyit heran dengan permintaan maaf yang terlontar dari bibirnya itu., “Maaf untuk apa, Pa?”
“Maaf atas nama Eva yang saat ini belum bisa menerima pernikahan antara kita. Aku pikir menikah denganmu bisa membuatnya merasakan kasih sayang yang selama ini tak pernah dia dapatkan dari mendiang istri pertamaku. Namun, justru kenyataan yang ada aku telah menyeret kehidupan Mama ke dalam masalah yang selalu kamu hadapi sendiri. Sekali lagi aku be–”
“Eva juga putriku, Pa! Dia tak pernah sedikit pun merasa kekurangan kasih sayang dariku. Papa jangan selalu meminta maaf sama, Mama. Oke!”
“Baiklah kalau begitu! Papa tak akan pernah mempermasalahkannya, lalu ngomong-ngomong ke mana, Raya? Sedari tadi aku tak melihatnya di mansion. Apa seharian ini dia tak pulang dari kampus, Ma?” Papa dari Eva itu pun menanyakan keberadaan Raya.
Meskipun, apa yang dirinya lakukan membuat Eva putri kesayangannya cemburu. Namun dia sendiri tak pernah sedikit pun tak memperlakukan kedua putri secara tak adil. Kasih sayangnya selalu berimbang tanpa ada celah untuk membuat kedua putrinya tak merasakan kasih sayang yang selama ini dirinya berikan itu.
“Satu-satu kalau nanya, Pa! Mama harus jawab apa kalau Papa mencecar banyak pertanyaan,” omelnya yang tak habis pikir dengan pertanyaan dari suaminya ini. “Raya saat ini berada di apartemen milik sahabatnya, Pa. Sebelum Papa pulang sekitar beberapa menit yang lalu Mama dihubungi, dan meminta izin untuk putri kita yang menginap di sana! Apa Papa tak keberatan?”
“Tidak, Ma!” jawabnya sambil menghela napas lega. “Urusan, Eva biar Papa yang menghadapi dan memberinya pengertian. Mau `kah Mama bersabar menunggu lebih lama lagi?”
__ADS_1
Istrinya pun mengangguk kepala. Namun tak lama kemudian dia bergegas mengajak suaminya untuk masuk ke dalam kamar pribadi mereka, melayaninya dengan sepenuh hati dan ketulusan yang terpancar diwajah cantik dari mama Raya Amanda.
******
Malam yang semakin datang menjemput dengan Arion tengah menyelesaikan beberapa berkas sebelum dirinya beranjak dari kursi kebesarannya.
Mengapa papa menyelidiki tentang identitas darinya? Bahkan aku yang sekarang pun tak dapat menemukan petunjuk informasi yang mengarah pada gadis itu! Lalu untuk apa papa harus mencampuri urusan pribadiku? Apa mama yang memintanya?
Mengacak rambutnya dengan kasar. Arion sendiri pun merasa frustrasi dengan kedua orang tuanya yang sedikit mencampuri urusan pribadinya. Ada suatu hal yang tak dia mengerti mengapa mama dan papanya itu menyelidiki identitas dari seorang gadis yang pernah menolongnya limat tahun yang lalu.
Untuk memastikan Arion terpaksa menanyakan langsung pada mamanya tercinta setelah ini dia akan beranjak dari kantor menuju mansion kedua orang tuanya, dan juga dirinya akan menginap di mansion tersebut.
“BOY!”
“Oke, lalu apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?”
“Kau malam ini dan sementara waktu ikut aku ke mansion, Papa!” ajak Arion atau lebih tepatnya justru dirinya yang menawarkan diri pada sahabatnya tersebut. “Papa masih lama di cabang perusahaan miliknya yang berada di negara X. Aku heran kenapa mama tak sekalian di ajak ke sana?”
“Coba kau bicara 'kan sendiri dengan mamamu, Yon,” sahut Boy yang tak begitu suka mencampuri urusan pribadi tuan besar.
Arion pun mengumpat geram dengan sahutan dari sang sahabat, dirinya sendiri berpikir apakah pria dingin 11 12 dengannya itu mengetahui sesuatu hal terutama mengenai sang papa yang tiba-tiba mencampuri urusan pribadinya.
__ADS_1
Mereka pun memutuskan untuk segera beranjak dari kantor menuju mansion kedua orang tuanya, selama di dalam perjalanannya kedua pria dingin itu enggan membuka suara, seolah-olah diantara mereka tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal dibenaknya.
Beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai oleh Boy sampai di halaman mansion dengan Arion yang turun terlebih dahulu lalu Boy pun menyusulnya.
Saat mereka sampai di depan pintu mansion, seketika Arion mendengar nada manja khas milik adik kesayangannya tercinta. Yang mana dirinya mendapat sambutan dari adik kecilnya tersebut. “Bagaimana kamu bisa tahu kalau Kakak akan pulang ke mansion ini, hm? Dan untukmu Boy masuklah ke ruangan seperti biasa. Ada suatu hal yang ingin Ku' bahas denganmu!”
Tanpa menyapa seorang gadis cantik yang dipanggil nona muda itu membuat Boy langsung melewatinya begitu.
“Ck, lihatlah sekretaris mu itu, Kak! Tak sopan sekali saat ada aku di depannya ini. Dia selalu acuh dan dingin,” adunya dengan mengerucutkan bibir.
“Sudah ya jangan seperti itu, ya. Kamu tahu sendiri 'kan dia orang seperti itu, jadi Kakak harap maklum dengan kedinginannya,” hibur Arion. “Kamu belum menjawab pertanyaan dari, Kakak. Bagaimana bisa tahu kalau aku akan pulang ke mansion ini, hm?”
“Aku sangat tahulah, Kak. Apa yang tidak ku ketahui sebagai keturunan dari Jackson Orlando Alexander Azkalezy ini, hm?” ucapnya dengan nada sombong. Namun beberapa detik kemudian dia teringat sesuatu yang saat ini tengah mengganjal dibenaknya. “Lalu apa Kakak sendiri sudah menemukan gadis yang sedang kamu cari itu?”
Arion pun menggeleng kuat.
“Jadi sudah lebih dari lima tahun Kakak belum berhasil menemukan identitas dan keberadaan pemilik kalung itu?”
Arion pun menjawabnya dengan anggukan kepala.
“Kenapa semuanya sedang mencari keberadaanmu, Na,” ucap gadis itu dengan lirih. Namun masih samar-samar terdengar jelas di pendengaran kakaknya tercinta.
__ADS_1
“Barusan kamu bilang apa tadi?” tanya Arion yang merasa sedikit terkejut mendengar lirihan dari adiknya tersebut. Apakah mungkin mereka berdua mengenal dengan baik? Hal itulah yang saat ini mengganggu pikirannya.
“Ha? Apa sih, Kak!” beo sang adik yang terlihat gugup.