Mr Mafia Terjerat Cinta Gadis Tomboy

Mr Mafia Terjerat Cinta Gadis Tomboy
Part empat puluh satu


__ADS_3

Tanpa memedulikan keberadaan Eva yang tengah tercengang dengan cepat Alana menghampiri Raya, dan membawanya keluar dari gudang sepi itu untuk membawanya kembali ke apartemen tempat tinggalnya.


Saat itu Eva tak menyangka ada pria yang disukai oleh ia ini sedang menatap dingin sambil berjalan menghampirinya.


“Ini tak seperti yang kau lihat,” ucap Eva dengan raut wajah yang dibuat sedih.


“Melihat apa maksudmu?” tanya Sean yang tak begitu paham dengan ucapan terlontar dari Eva.


Pertanyaan dari Sean membuat wajah Eva menjadi pias. Saat ia mulai berpikir pria yang disukainya ini mendengar semua arah pembicaraannya dengan Raya.


“Jadi ....”


“Aku hanya ingin memperingatimu untuk berhenti melakukan hal buruk pada Raya.” Sean menyelanya dengan nada yang begitu dingin.

__ADS_1


Eva tak menyangka Sean begitu berani memberinya peringatan, dan tak tahan dengan perasaan yang terbelenggu ia pun menanyakan hal tersebut secara. Agar ia bisa mengetahui perasaan pria itu dengan sebenarnya.


“Apa kau begitu menyukainya. Sampai-sampai harus memberiku peringatan.” Eva bertanya sambil tersenyum kecut. Sungguh sangat miris baginya ketika melihat Raya selalu mendapat pertolongan, dan perlindungan.


Pertanyaan dari Eva membuat Sean tertawa sinis. Jadi, gadis ini selalu mengganggu Raya mengira bahwa sang sahabat sendiri itu menyukai dirinya. Namun, ia telah mengetahui perasaan dari seorang gadis primadona di kampus.


“Kau menuduhnya, dan mengira mempunyai perasaan denganku begitu maksudmu, hm! Jangan asal bicara. Aku memang mengenal dekat dengan Raya bukan berarti dia harus memendam perasaan itu. Jika, memang hatimu sendiri yang memendam perasaan itu untukku. Tak pernah ku’ permasalahkan tapi ingat jangan pernah menyangkut namanya. Paham.”


Setelah mengatakan hal tersebut Sean pun bergegas menyusul kedua sahabatnya. Yang telah terlebih dahulu menghilang karena Alana sedang membawa Raya ke tempat apartemen pribadinya.


Sialan, cepat sekali mereka menghilang. Selalu saja seperti ini. Apa mereka tak ingin ku' bantu, hm! Sungguh mengherankan.


*******

__ADS_1


Di tempat lain mentari datang menyambut di pagi hari yang cerah. Di sebuah mansion terdapat empat orang itu tengah menikmati hidangan makanan yang hanya terdengar bunyi sendok dan garpu beradu.


Selesai menikmati hidangan makanan tersebut. Arion yang sedari tadi diam itu pun membuka suara. Dia tengah menanyakan tentang beberapa data mahasiswa. Yang akan mengasah kemampuan dari beberapa orang yang terpilih itu.


“Bagaimana persiapan para mahasiswa yang akan magang di kantorku. Apa semuanya sudah siap?”


“Aku sudah mengirimmu email mengenai beberapa data mahasiswa itu sudah ada di berkas yang nanti akan kau tanda tangani.” Boy menjawab pertanyaan dari Arion dengan sedikit meragu.


Mata Arion menatap tajam ke arah Boy yang sedang meragu. “Ap–” belum sempat berkata sang adik tersayang menyela obrolannya.


“Kak Arion jadi kan menemaniku, dan mama jalan-jalan ke Mall nanti?”


“Apa kamu tak ada jadwal kuliah, Sayang?” Arion bertanya balik. Namun, adiknya ini justru terlihat kesal.

__ADS_1


“Ish, bisa tidak Kakak tak balik bertanya begitu,” ucapnya dengan bibir mengerucut kesal.


“Astaga, Sayang. Begitu saja kesal. Kakak kan hanya bertanya denganmu. Kalau soal nanti akan diusahakan untuk menemani adikku tersayang ini, dan juga mama tercinta. Sekarang puas dengan penjelasan dari Kakak, hm!” Arion berkata sambil menjelaskan detil. Agar adiknya ini tak terlalu merajuk.


__ADS_2