
“Aku akan kembali ke kota sekaligus untuk bertemu dengan seseorang,” sahut Alana dengan nada, dan raut wajah yang sangat misterius.
“Siapa yang ingin kamu temui itu nanti, Lan?” tanya Sean dan Raya bersamaan.
“Kalian tak perlu tahu dengan siapa ku’ akan bertemu nanti. Yang jelas sekarang jangan bahas apa pun.” Alana menjawabnya sembari menyembunyikan seseorang yang akan ditemui nanti.
Seakan paham jika Alana tak ingin diganggu dengan terpaksa Sean mau pun Raya tak mengungkit kembali tentang privasi sahabat mereka.
“Baik jika kamu memang tak ingin diganggu, Lan. Kami berdua bisa memaklumimu,” ucap Sean dengan raut wajah kecewa. “Lalu nanti di sana kamu akan tinggal di mana?”
“Soal itu gampang tak perlu cemas berlebihan karena jelas saja nanti aku akan tinggal dengan Raya di kontrakan yang akan aku sewa selama nanti kita tinggal kota.” Alana berkata karena memang saat ini ia masih tetap menyembunyikan statusnya. Sebagai cucu dari salah satu pebisnis yang terkenal di seluruh dunia.
“Apa kamu tak keberatan jika tinggal bersama dengannya, Nda?” tanya Sean pada Raya.
__ADS_1
Tak menjawab pertanyaan justru Raya pamit pada kedua sahabatnya untuk bergegas ke arah toilet karena sejak tadi ia menahan sakit di perut.
Dari arah lain yang tak diketahui oleh ketiganya ada Eva terus menatap kebencian ke arah Raya yang terlihat begitu sangat akrab dengan Sean Mahendra seorang most wanted yang ia cintai itu. Begitu melihatnya yang tengah berdiri meninggalkan dua orang tersebut.
Diam-diam ia mengikuti tanpa ada seorang pun yang menyadarinya karena hanya dengan ini bisa memberikan peringatan. Agar Raya saudari tiri tak terlalu dekat dengan Sean Mahendra.
Raya yang tak menyadari diikuti oleh Eva tanpa sadar bahaya tengah mengintai dirinya, dan begitu tiba di dalam toilet ia mendapat tatapan sinis serta tatapan yang sangat benci itu.
“Mau apa kau?” tanya Raya yang begitu heran dengan kedatangan Eva.
“Kau itu serakah sekali.” Eva berkata dengan nada yang sangat sinis.
Tak mengerti dengan perkataan dari Eva. Justru Raya bertanya balik. “Apa maksudmu itu, Va?”
__ADS_1
“Bukankah aku pernah memperingatimu untuk tak terlalu dekat Sean, hah!” hardiknya dengan nada satu oktaf.
“Apa kau pernah melihat tatapan mata ini ke arah pria yang kau sukai? Hanya karena kedekatanku kau selalu seperti ini. Tidakkah dirimu merasakan aku sedikit pun mempunyai rasa suka dengannya.” Raya membalas hardikan dengan menjelaskan pada Eva. Sekali pun bahwa ia tak pernah menaruh perasaannya pada Sean Mahendra.
“Aku dekat dengannya bukan berarti harus menaruh perasaan pada sahabatku sendiri. Kondisikan tuduhanmu yang tak masuk akal pada diri ini.” Tak lupa Raya melanjutkan dengan berkata sembari menjelaskan bahwa ia hanya menganggap Sean sebagai sahabat dekat.
Menatap manik mata orang yang Eva benci itu untuk mencari kebohongan atas perkataannya. Namun, ia sama sekali tak menemukan apa pun di sana. “Intinya mulai sekarang aku memberimu peringatan untuk tak terlalu berdekatan dengannya. Jika sampai melihat kalian berjalan bersama, maka tak segan-segan ku’ memberi pelajaran.”
Tanpa banyak kata Eva menarik tangan Raya, dan membawanya ke tempat gudang yang sangat sepi. Di mana tak ada seorang pun yang mengetahui tempat tersebut.
Akan tetapi Eva tak menyadari bahwa apa yang sedang dilakukan olehnya membuat Raya mengirim sinyal pada Alana. Yang hanya diketahui oleh sahabatnya itu sendiri.
Sebab beberapa menit sebelumnya dengan dua orang yang tengah terdiam membisu. Tanpa saling membuka suara sampai akhirnya Alana memutuskan untuk mengatakan hal langsung tentang kejadian yang menimpa Raya.
__ADS_1
“Semalam Raya habis dikerjai oleh beberapa preman bayaran,” ucap Alana dingin.
“Apa! Kamu tak bercanda!” Sean terpekik kaget setelah mendengar ucapan dari Alana. “Lalu bagaimana kamu bisa mengetahui hal itu, Lan?”