
Setelah punggung Alana menghilang dari pandangan Gerry, sorot matanya pun menjadi dingin dengan gerakan cepat dirinya mengambil ponsel, dan menghubungi seseorang dari arah seberang untuk menanyakan tentang misi sekaligus kabar dari sesosok misterius pemimpin organisasi rahasia itu.
“Bagaimana apa kau dan dua cecunguk itu berhasil mencari informasi tentang misi kita nanti, Whep?” tanya Gerry dingin to the poin.
“Hei, seenaknya saja kau memanggilku cecunguk,” sahut Fatah sembari memprotes karena dirinya tak terima dengan nada panggilan itu. “Kita bertiga memang berhasil mendapatkan informasi itu tapi sebaiknya, kau sendiri yang memeriksanya. Dan juga aku mendapat pesan dari nyonya untuk tetap menjaga nona muda dari orang-orang yang tengah berusaha melacak keberadaannya, termasuk juga dari ketua BKM itu.”
Mata Gerry pun membelalak lebar saat mendengar penjelasan dari Fatah. “Ketua mafia BKM maksudmu apa, hah?”
“Sudah-sudah tak enak di dengar orang lain. Nanti saat tiba di markas akan aku ceritakan lebih detail.” Kata Agung yang tak ingin rahasia itu bocor ke siapa pun yang mendengarnya.
“Apa, Alana ada di markas?” tanya Whepi.
__ADS_1
“Baru saja dia pergi,” jawab Gerry. “Sepertinya ada sesuatu hal yang membuatnya mendadak pergi tapi, tenang aku sudah mengerahkan beberapa anak buah kita untuk mengawasinya.”
“Ya sudah kalau begitu aku akan menutup panggilan ini, Ger.” Tanpa menunggu jawaban dari Gerry panggilan itu pun terputus secara sepihak. Yang mana membuat Gerry mengumpat geram.
*****
Di sebuah kantor dengan Arion yang tengah menunggu kabar dari Boy, si tangan kanannya yang berada dalam dunia gelap untuk menyelidiki tentang seorang wanita yang membuat dirinya harus selalu waspada.
“Baru saja aku ingin mengatakan hal ini pada dirimu, Yon.” Boy berkata dengan nada bercanda tapi, tak lama kemudian dirinya mendadak geram dengan laporan anak buahnya yang ada di markas tentang identitas Arion sebagai ketua mafia yang hampir saja bocor. “Aku sedikit geram dengan laporan dari markas, bahwa ada seseorang yang tengah menyelidiki identitasmu. Bahkan aku merasa ini bertepatan dengan identitas yang sedang kita selidiki.”
Ekspresi Arion yang mendengar hal tersebut menjadi dingin, sembari meremas sebuah berkas yang telah berhasil di selidiki, membuatnya tak menyangka akan ada seseorang yang dengan sengaja ingin mengusik kehidupannya.
__ADS_1
“Boy!” Nada dingin dan tegas itu memberi perintah pada tangan kanannya untuk melakukan sesuatu hal yang dirinya pinta. “Perketat keamanan inti di markas! Jangan lupa untuk menutup semua akses tentang pribadiku, termasuk kasus kecelakaan yang terjadi lima tahun yang lalu. Kau mengerti, kan?”
Tanpa membantah dengan tanggap Boy yang sebagai tangan kanan Arion itu pun langsung melakukan sebuah perintah dari atasan sekaligus ketua itu sendiri.
“Apa kau merasa wanita itu berhubungan dengan kalung yang kau pakai?” tanya Boy sembari menunjuk ke arah kalung berharga itu.
“Aku sudah melihat semua identitas asli darinya. Nama aslinya adalah Sarah, anak dari sahabat papaku otomatis juga dia saudara tiri gadis itu, Boy,” jawab Arion sambil menjelaskan semua identitas dari Sarah, yang berhubungan langsung dengan seorang gadis yang selama dirinya cari itu.
“Aku rasa dia sedang mengincar kalung itu, Yon.”
“Tak perlu mengingatkanku, Boy. Bahkan aku sudah lebih dulu tahu, dia menyelidiki identitasku yang pasti berhubungan dengan kalung ini.”
__ADS_1