
Alana Stevanya Lucier, yang meninggalkan dua sahabatnya itu langsung bergegas menuju ke arah sebuah rumah sederhana, tapi menyimpan misteri di dalamnya.
Seperti yang ia duga, selama mengenal Sean Mahendra, sahabatnya tersebut mulai meragukan identitas aslinya.
Hampir saja aku ketahuan dengan identitas asliku, lama-lama aku merasa lelah dan pikiran, seperti menyandang nama belakang pria itu membuatku sangat muak! Terutama, perkataannya yang telah menorehkan sebuah luka dihati ini, tanpa merasa bersalah tentang mendiang mama. Aku bersumpah, jika kau mengetahui semua kebenaran itu, jangan pernah menyesal atas perbuatan yang kau lakukan padaku.
Motor sport yang dikendarainya itu pun telah tiba di sebuah rumah sederhana, saat itu juga ia mendapat sapaan dari orang-orang yang menjaga rumah tersebut, sembari memanggilnya dengan sebutan, Nona!
“Bisakah kalian tak memanggilku seperti itu, hah!” tegur Alana dingin. “Bukankah aku sudah pernah memperingatkan pada, kalian semua untuk tak memanggilku dengan sebutan barusan. Apa kau ingin bermain-main dengan kesayanganku, hm!”
__ADS_1
Mereka semua pun menjadi diam membisu, saat mendapat sebuah teguran langsung dari seseorang yang begitu sangat dingin, bukan tanpa alasan ia melakukan itu! Hanya saja ia yang bernama asli Alana Stevanya Lucier, itu pun lebih suka dipanggil dengan nama samaran yang sedang ia pakai di tempat seperti selama lima tahun, hanya beberapa orang saja yang bisa memanggilnya seperti itu.
“Sekali lagi aku mendengar kalian memanggilku, Nona! Jangan pernah berharap bisa bernapas kembali!” ancam Alana dingin, serta tak lupa melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.
Begitu sampai ke dalam rumah sederhana tersebut, ia pun mendapat kerutan dahi dari seorang pria dengan tinggi badan 190 cm, jangan lupa tatapan datarnya, seolah sedang bertanya-tanya tentangnya yang terlihat tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sederhana itu.
“Bang, apa kau tak pernah menegur anak buahmu itu, hah! Bukankah aku sudah pernah berkali-kali bilang padamu … Untuk tak memanggilku dengan sebutan, Nona. Sebab, sampai saat ini semua orang tak ada yang mengetahui identitas asliku … Aku juga tak ingin sampai terdengar dari orang-orang yang terus melacak keberadaanku … ” jawab Alana sembari menerangkan keluhan yang sedang dialami olehnya.
“Maaf, Abangmu ini sungguh tak tahu apa pun. Baiklah, sebagai gantinya nanti Abang yang akan menghukum mereka semua. Apa kau senang dengar ini, Alana!” pria yang dipanggil abang itu pun sedang berusaha membujuk seseorang yang ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Abang Whepi, Bang Agung, Bang Fatah pergi ke mana mereka bertiga, Bang Ger? Kenapa rumah ini terasa sepi sekali.” sejak tiba di rumah sederhana itu, Alana sama sekali tak melihat keberadaan ketiga abangnya yang lain.
“Mereka bertiga sedang melakukan misi pengintaian, yang akan kita lakukan bulan depan, untuk memberantas para mafia yang membelot dari tugasnya. Bahkan beberapa agen rahasia, meminta bantuan pada kita untuk membantunya memberantas para mafia itu!” jawab Gerry sambil menjelaskan tentang misi mereka. “Ada apa kau menanyakan mereka, Lana?”
“Apa ada masalah denganmu, Bang. Jika aku menanyakan keberadaan mereka?” jawabnya sewot, sembari balik tanya.
Gerry pun terkekeh mendengar nada sewot dari seorang wanita, yang tak bisa dikatakan wanita. Sebab penampilan dari Alana, sungguh membuat orang yang melihatnya tak bisa mengenali jati dirinya yang seorang wanita tulen, karena Gerry jugalah yang mengetahui sebuah luka yang didapatkan dari adiknya ini.
Wajar saja jika Alana Stevanya Lucier mengubah penampilannya, menjadi terlihat maskulin bahkan ia sendiri pun telah memangkas rambut panjang hitam di punggungnya, yang selama ini ia rawat baik- baik, tak jarang juga orang-orang mengiranya sebagai seorang pria.
__ADS_1