
Sepertinya mereka selalu salah paham dengan Sean. Yang ada Sean sendiri yang memendam perasaan padaku, bukan Raya yang menyukainya dulu, dan kalian harus berhadapan langsung denganku sebagai Alana Stevannya Lucier.
“Apa yang akan kamu rencanakan untuk mereka?” tanya Gerry yang tiba-tiba membuyarkan lamunnya.
“Ck, bisa tidak abang tak membuyarkan pikiranku!” jawab Alana ketus. “Tentu saja memberi mereka pelajaran. Apa Abang pikir aku akan membiarkannya berbuat sesuka hati? Meskipun terkenal sebagai primadona di kampus, jangan panggil namaku jika tak bisa membuat mereka menyesal telah berurusan denganku.”
“Kalaupun kamu mau memberi pelajaran untuk mereka. Yang ingin abang katakan untuk dirimu sendiri, harus berhati-hati jika ingin bertindak lebih!” peringat Gerry.
Mendengar peringatan dari abangnya ini membuat Alana mendengkus kesal, bukan karena tak bisa bertindak lebih. Hanya saja apa yang ingin dilakukan oleh dirinya itu haruslah berhati-hati agar identitas tentangnya tak gampang dilacak oleh siapa pun yang ingin membobol dan meretas privasi kehidupan Alana.
“Apa Abang lupa, hm! Aku tak perlu diingatkan lagi karena benda dileherku ini. Membuktikan bahwa mereka hanya mengenal diri ini sebagai Lucy bukan Alana, dan hanya Sean dengan Raya yang bisa memanggil nama asliku.” Alana menegaskan pada sang Abang. Bahwa sebuah benda yang melingkar dilehernya itu sebagai pertanda penyamarannya yang begitu sempurna. “Jadi tak perlu cemas berlebihan seperti itu, justru Abang mengingatkanku pada mama.”
Gerry pun tak menyangka apa yang dia peringatkan pada Alana, mengantarkan sang adik tercinta sekian lama telah merindu untuk seseorang yang berada jauh di sebuah negara yang hanya dirinya mengetahui keberadaan dari seorang yang dianggap mati, pada kenyataan yang ada justru dirinya mendapat sebuah tugas berat diemban dipundaknya.
Maafkan Abangmu ini ya, Lan … bukan berarti abang menyembunyikan suatu rahasia darimu … akan tetapi ada sebuah tugas yang harus ku` emban bersama dengan ketiga semua Abangmu yang lain ….
“Maaf ya, Lan!” ucap Gerry yang tak tega melihat tatapan sendu itu.
“Ha? Maaf untuk apa, Bang?”
“Maaf untuk Abang yang telah mengingatkanmu pada mendiang orang yang adik Abang cintai ini.” Gerry mengulang kembali, serta tak lupa mengacak rambut Alana. Yang membuatnya mengerucut kan bibirnya dengan kesal.
Namun beberapa detik Alana pun teringat dengan Raya. Yang dia tinggalkan sendiri di apartemennya, bahkan sampai membuat dia lupa untuk menghubungi mama dari sang sahabat tercinta.
__ADS_1
Tanpa perlu mengatakan apa pun pada abangnya dengan bergegas Alana meninggalkan rumah sederhana itu, sambil memacu cepat motor sport kesayangannya.
Tak butuh waktu banyak hanya beberapa menit kemudian sampai Alana di parkiran apartemen tersebut, lalu tak lupa dia mengeluarkan ponsel sambil menekan sebuah nomor telepon untuk arah seberang.
Terdengar nada suara yang begitu sangat lembut begitu panggilannya tersambung. “Halo, selamat malam.”
“Selamat malam juga, Tante,” jawab Alana sambil menyapa balik. “Kalau boleh tahu apakah ini betul dengan Mama, Raya?”
“Benar ini dengan Mama, Raya sendiri. Ada perlu apa, ya? Soalnya dia belum pulang sama sekali dari kampus.”
Sambil berdehem Alana menjelaskan perihal Raya Amanda yang saat ini tengah berada di apartemen penthouse miliknya. “Saya minta maaf untuk, Tante. Soal Raya tak perlu cemas karena, dia sekarang ada di apartemen dengan saya, Tante.”
“Syukurlah kalau dia berada dekat denganmu, Nak. Ngomong-ngomong apa kau yang bernama, Alana?”
“Tante, sangat senang bila dia aman bersamamu karena, setiap cerita pada mamanya sendiri selalu menyelipkan sebuah nama di ceritanya! Selama ini Raya tak pernah punya teman mau pun sahabat. Lalu pada saat masuk kampus sekarang ini dia, kembali ceria setelah bertemu denganmu. Apa kamu tak keberatan, Nak?”
“Tentu saja tidak, Tante! Lalu apa, Tante sendiri mengizinkan Raya menemani saya?” tanya Alana.
“Sejujurnya, Tante merasa cemas dengan keberadaannya yang tak kunjung pulang ke mansion! Bahkan saudara sendiri pun sudah tiba lebih dulu daripada, Raya sendiri. Namun, jika dia bersamamu aman, Tante tak perlu cemas sekarang. Yang terpenting terima kasih sudah menghubungi Tante ya, Nak.”
“Sama-sama, Tante! Bolehkah sambungan ini saya tutup? Dan maaf sudah mengganggu istirahat, Tante.”
“Baiklah kalau begitu sekali lagi terima kasih, ya! Kamu tak perlu sungkan begitu.”
__ADS_1
Sambungan panggilan mereka pun terputus. Yang mana dari arah seberang memutuskan terlebih dahulu, dan kini saatnya Alana menemui Raya yang tengah berada di apartemen penthouse pribadinya.
Untuk Sean sendiri biar aku yang mengatakan langsung padanya. Maaf kalau harus membuatmu tak nyaman dengan penolakan yang akan terjadi denganmu! Jujur saja tak ada cinta lagi dihati ini selain hanya untuk mendiang, mamaku. Bahkan aku telah membuang perasaan rasa sayang ini, hanya untuk orang yang telah membuat jati diri terlukai.
Sementara itu di sebuah mansion. Yang mana terdapat dua orang tengah berdebat.
“Mengapa tidak jujur sama mama jika Raya tengah bersama dengan sahabatnya itu, Va?” tanya mama Raya dengan nada lembut dan penuh kesabaran.
Bukannya menjawab justru gadis yang bernama Eva itu membentak seorang ibu kandung dari Raya Amanda. “Jangan berisik! Sampai kapan pun aku tak akan pernah menganggapnya sebagai saudaraku. Ingat itu!”
“Maaf!” Hati ibu mana yang tak sakit saat keberadaannya tak di anggap oleh anak sambung sendiri. Meskipun dirinya sendiri tak pernah membedakan kasih sayang dia punya.
Eva pun mendengkus kesal saat mendengar permintaan maaf yang berasal dari mulut ibu sambungnya ini.
Dia benar-benar sangat membenci dua orang yang masuk ke dalam kehidupan pribadi dari sang papa tercinta. Bahkan saat papanya menikah lagi dengan wanita didepan itu membuat sang papa seolah-olah memperlakukannya secara tak adil.
Namun pada kenyataannya bukan seperti yang Eva pikir `kan justru sebaliknya kasih sayang sang papa tercinta selalu adil dan tak pernah lekang oleh waktu.
Meskipun kehidupan papanya itu berubah setelah hidup bersama seorang yang sangat dia cinta tak membuat dirinya melupakan mendiang istrinya tercinta.
“Sejak kau dan anakmu itu masuk ke dalam kehidupan papaku. Yang ada justru papa memperlakukan diri ini secara tak adil! Apa kau pikir aku akan tinggal diam begitu saja, hah!” cetusnya dengan nada tinggi. “Kau pun tak akan pernah bisa menggantikan posisi mendiang mamaku, dan ingat itu jangan pernah berharap lebih denganku!”
Setelah mengatakan hal tersebut. Eva pun membalik tubuhnya tanpa memedulikan tatapan sendu dari ibu sambungnya sendiri.
__ADS_1
Yang mana membuatnya berpikir sejenak bagaimana mungkin Raya yang selalu dia benci itu bisa menghubungi wanita tua itu? Sementara beberapa jam yang lalu dirinya dengan teman-teman di kampus telah berhasil menyuruh preman bayaran untuk mengerjai, Raya. Apa ada sesuatu yang dia lewatkan? Hal itulah yang tengah mengganggu pikirannya.