
Setelah naik di atas motor dengan abangnya memacu kecepatan motor sport di atas rata-rata untuk bisa sampai di markas.
Membutuhkan waktu beberapa menit motor sport yang di kendarai oleh Whepi tiba di markas mereka.
Yang mana Alana terlebih dulu menemui ketiga abangnya yang lain. “Ada yang bisa menjelaskan mengapa harus memanggilku?” tanyanya dingin.
“Maaf harus memanggilmu karena misi kali ini sangat urgent, Lan. Tuan besar menyuruh kita untuk segera menangkapnya.” Gerry berucap lalu menjelaskan dengan detil tentang rencana dari kakek Alana.
“Mana data mafia itu. Aku ingin melihatnya.”
Data mafia Gordon Cullen sebagai buronan dari sang kakek membuat darah di dalam tubuhnya mendidih. Saat dia tak sengaja membaca semua kejahatan yang dilakukan oleh ketua king mafia tersebut.
“Jadi kakek sudah lama mengincar mafia ini begitu, Bang?” Alana bertanya sambil berekspresi dengan raut wajah yang sangat dingin.
__ADS_1
“Benar, Lan.” Gerry menjawab dengan mendapat anggukan kepala dari ketiga abangnya yang lain.
“Ia sudah lama menjadi incaran para anggota organisasi rahasia milik kakekmu,” sahut Agung yang sedikit mengetahui tentang ketua mafia tersebut.
“Termasuk sahabat kakekmu juga sedang mengincarnya karena beliau selama beberapa bulan mengalami kerugian sekitar 10 triliun.” Fatah menyahut karena memang dia juga mengetahui tentang kerugian yang dialami sahabat kakek Alana.
“Apa!” Alana terpekik kaget saat mendengar semua penjelasan dari abang-abangnya itu. “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Alana mendengkus kesal saat dia tak diberitahu oleh kakeknya sendiri tentang misi tersebut. Yang mana membuatnya terpaksa menanyakan misi ini pada beliau dengan mengambil ponsel untuk menghubungi sang kakek tercinta.
Sambungan tersambung dari arah seberang yang ternyata justru kakeknya mengetahui tanpa harus bertanya.
“Apa yang ingin kamu tanyakan pada Kakekmu ini, Sayang?” tanya seorang pria yang tak lain ialah kakek Alana tanpa berbasa-basi.
__ADS_1
“Ck, bisa tidak Kakek tak menanyai cucu kesayanganmu ini? Belum apa-apa sudah tahu dulu maksud dan tujuanku menghubungimu, Kek.” Alana mengerucut kesal dengan pertanyaan dari sang kakek tercinta.
“Astaga, Sayang, jangan kesal pada kakekmu ini, ya. Tahu tidak kamu seperti nenek yang terlihat lucu dan sangat imut.”
“Kakek, menyebalkan, sama saja dengan opa yang suka sekali menggodaku.” Alana juga tak lupa mengeluhkan sifat kedua kakeknya ini memang benar sangat menyebalkan. Namun, dia sangat bersyukur masih ada sepasang dari pasangan lansia begitu menyayangi dan mencintainya.
Kakeknya berdehem lalu berucap dingin menanyakan apakah ia mengetahui tentang perusahaan papa yang sedang incar oleh anak dari wanita ja'lang itu sedang mengganggu pikiran seorang jenderal. “Sayang, apa kamu tahu kalau dia sedang mengincar perusahaan yang susah payah dibangun oleh mendiang mamamu?”
“Tahu kok, Kek. Kenapa memangnya?”
“Kakek pikir kamu tak menahu hal apa pun tapi perusahaan itu sedang tak baik-baik saja karena ada seseorang yang sedang menekan dan mengakusisi miliknya. Kamu tak ingin bertindak?”
“Biarkan saja, Kek. Lagipula kalau pun diakusisi oleh orang itu, aku sangat tak keberatan karena biar bagaimana pun perusahaan yang dulu di bangun oleh mama, tak akan ku biarkan jatuh ke tangan dua orang sangat serakah dan tamak dengan segala yang mereka punya.”
__ADS_1