
“Sayang, apa kamu sengaja menggodaku, hm?” tanya Jackson sambil menelan ludah kasar. Saat melihat sang istri tercinta memakai pakaian yang membuatnya meradang panas.
“Kamu lama sekali sih, Mas!” jawabnya acuh.
“Ayolah, Sayang, berapa kali harus ku katakan padamu sih. Cabang kantor di negara ini sedang ada masalah. Seharusnya kamu tahu kan alasanku tak mengajakmu ke luar negeri!” ucap Jackson dingin.
Nada dingin yang diucapkan oleh Jackson membuatnya mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Tak suami tak anak sama-sama bersifat dingin, hanya saja putrinya ini yang masih mempunyai sifat yang sama dengannya.
“Dasar pria dingin,” lirihnya sembari tersenyum samar. Yang mana mendapat sahutan dari arah seberang.
“Sayang, pria dingin ini begitu sangat mencintaimu. Tolong jangan buatku semakin merindukanmu, dan kamu bayangkan saja saat ini aku segera ingin mengajakmu menaungi lautan gelora cinta, sambil menhujamkan milikku dengan sentuhan yang akan membuatmu melayang terbang ke surga.” Jackson berkata dengan menggoda istrinya. Yang mana dirinya tengah bibir mungil sedang mengerucut kesal hingga membuatnya ingin melu'mat semua yang ada di dalam diri sang istri tercinta.
Godaan dari suaminya membuat kedua pipi sedikit merona. “Sudah, ya, Mas. Jangan menggodaku.”
“Kamu tega, Sayang. Apa tak lihat kah, di bawah perut eight packku ini sudah berdiri tegak sedari tadi. Rasanya aku tak tahan untuk mendengar suara lenguhan bagai melodi indah.” Jackson mengadu sembari menampilkan wajah melasnya. Yang tengah tersiksa akibat gelora hasrat tak tertahankan.
“Cepatlah pulang, Mas! Oh iya, Mas ada yang ingin aku sampaikan padamu tentang, Arion.”
“Ada apa dengannya, Sayang?”
“Apa kamu tahu, Mas … Arion melarangku menyelidiki identitas dari gadis yang pernah menolongnya dulu … Putramu juga bilang hanya dialah seorang yang boleh menyelidikinya … Sangat tak adil kan, Mas ….”
Jackson yang sedang melihat mata berkaca-kaca tak kuasa menahan amarah pada putranya tercinta. “Sayang, apa yang di katakan putramu itu adalah keinginannya, hm?”
__ADS_1
Istrinya pun mengangguk. “Kamu tahu kan, Mas … Mengapa aku ingin menyelidikinya karena kalung yang dipakai Arion itu ….”
Sekarang Jackson mengerti mengapa sang istri begitu kekeh untuk menyelidiki gadis tersebut karena kalung itu mengingatkannya pada seorang yang telah di anggap sebagai keluarga oleh istrinya tercinta, bahkan dirinya telah bertemu kemarin dan membahas kalung yang dititipkan pada sang putra tercinta.
“Sayang, jika memang itu keinginannya. Kamu tak perlu cemas, ya. Lebih kita cukup tak mencampuri urusan pribadinya lagi. Berdoa saja semoga kita dapat dipertemukan oleh gadis tersebut,” hibur Jackson. Maaf, ya, Sayang. Biarlah gadis itu menjadi urusan, Arion. Walaupun kamu merindukannya dengan senang hati aku akan mempertemukanmu dengan Angelika. Untuk sementara waktu rahasia ini biarlah ku simpan lebih dulu.
“Sayang, ini sudah malam, ponsel ku tutup, ya?” lanjut Jackson sembari bertanya. Namun, tak disangka terdengar dengkuran halus yang berasal dari istrinya tercinta. Yang mana membuat dirinya mengakhiri panggilan tersambung itu. “Selamat malam, Sayang.”
Panggilan keduanya pun terputus. Yang mana setelah itu dari arah seberang Jackson tengah memikirkan bagaimana cara agar istrinya ini tak gampang terpengaruh oleh hal yang selalu tak diinginkan olehnya.
Sebab, dirinya berjanji pada Angelika untuk memberi sanga istri tercinta tentang kalung yang berada di leher Arion menjadi ancaman yang besar untuk dirinya sendiri.
*****
“Sekali lagi kamu berkata seperti itu. Jangan harap Mama mau membantumu lagi,” sahut mamanya dengan nada sarat ancaman.
“Lalu, Ma. Kapan, ya Papa menyerahkan perusahaan miliknya berganti nama menjadi milik Sarah? Aku kan sudah tak sabar, Ma.” Sarah berkata sembari membayangkan semua yang dia dapatkan selama ini. Tanpa memikirkan perasaan dari seorang anak yang merasa tak mendapat perlakuan adil.
Namun, tidak bagi Mama Sarah itu pun sedikit tak percaya setelah dia mendapat laporan dari mata-matanya sendiri. Bahwa perusahaan tersebut tak akan pernah bisa jatuh ke tangan putrinya, selama putri kandung dari suaminya sekarang masih hidup.
“Sayang, kamu harus bersabar, ya karena tak mudah bagi kita untuk mengambil alih perusahaan itu.” Mama Sarah berkata demikian, sembari memberi Sarah pengertian. Bahwa dirinya telah berusaha menyelidiki siapa dibalik nama besar perusahaan tersebut.
“Jadi, sekarang ini Mama sedang menyelidiki tentang identitas seseorang yang diam-diam juga mengakuisisi perusahaan, Papamu,” lanjutnya dengan hati-hati.
__ADS_1
“Apa!” pekik Sarah kaget. “Mama, serius dengan hal ini?”
Mamanya pun mengangguk kepala.
“Pokoknya aku tak mau tahu, Ma. Semua yang menjadi miliknya harus bisa menjadi milikku. Termasuk pria dingin yang sedang ku incar,” pinta Sarah dengan setengah menghardik.
Untuk masalah pria yang sedang menjadi incaran putrinya, dia masih bisa melakukannya tapi yang tak bisa dilakukan itu adalah merebut semuanya, seperti yang telah dia lakukan dulu sebelum akhirnya pria bo'doh itu mau menikahinya.
“Sayang, baiklah, sesuai yang kamu minta Mama akan melakukannya untukmu. Sudah, ya, jangan bersedih. Oke!” hiburnya sembari berusaha menenangkan rajukan dari sang putri tercinta. “Kamu harus bisa menjadi seseorang pintar, dan licik untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
Kedua wanita yang berambisius itu pun kompak berdiam diri setelah tak ada lagi yang mereka obrolkan. Kemudian sang mama tercinta pun mengajak putrinya ke Mall untuk menemani dirinya membeli semua produk yang selalu mereka incar.
“Besok temani, Mama pergi ke Mall sebentar ya, Sayang. Apa kamu bisa?”
Sarah pun mengangguk kepala, sembari sedikit menguap dikarenakan kini dia telah mengantuk, dan meminta mamanya untuk kembali ke kamar. Sementara dia sendiri akan melakukan ritual berendam sebelum memejamkan mata untuk pergi ke alam mimpi.
Sementara itu di lain tempat, di sebuah negara yang terkenal akan kesederhanaannya terdapat tiga orang pria paruh baya dengan, di antara ketiganya memasuki usia 65 tahun itu. Tak mengurangi kadar ketampanan mereka meskipun terdapat beberapa kerutan di wajah masing-masing.
“Mengapa juga kalian berdua mengajakku bertemu di sini, hah?” tanya salah satu di antaranya. Yang mana dirinya merupakan Kakek kandung dari Arion Orlando Alexander.
“Hei, jangan tegang begitu. Kita sudah tak lama bertemu, masih saja suka berdebat. Kalian tak pernah berubah sama-sama pria dingin,” ujar lainnya. Yang mana dirinya merupakan Kakek kandung dari Alana Stevannya Lucier.
“Lalu mengapa kau menyuruh kami berdua datang kemari?” tanya pria di sebelah Kakek Alana. Namun, jangan lupakan keduanya mempunyai hubungan terikat sebagai besan.
__ADS_1
Ya, ketiga pria paruh baya tersebut adalah sepasang sahabat yang ingin melepas rindu. Namun, tidak bagi kedua besan itu pun masih mempunyai sebuah dendam ....