
Para petugas yang bekerja itu pun kompak mengangguk setelah mendapat ultimatum dari pemilik apartemen tempat mereka bekerja untuk menjaga amanat yang diemban pada semua yang berada di dalamnya.
Untuk Alana sendiri setelah memberi ultimatim dengan tergesa-gesa
Dia menarik lengan sahabatnya.
Yang akan berangkat ke kampus agar mereka bisa mendiskusikan bahan skripsi magang mereka telah masuk rekomendasi untuknya sendiri dengan kedua sang sahabat tercinta, dan beberapa mahasiswa lain yang telah ditunjuk oleh sebuah perusahaan besar yang berada di sebuah kota tempat di mana menyimpan banyak luka kenangan.
Sesampainya di halaman parkiran kampus, dia dan Raya disambut oleh Sean yang hanya beberapa menit menunggu kedatangannya. Tak lupa Alana menekan tombol yang melingkar di leher, agar suara lembut aslinya bisa menjadi samar-samar bercampur dengan suara yang sedikit serak, dan juga berat.
“Loh, sejak kapan kamu bisa bareng dengannya, Nda?” tanya Sean dengan heran. Yang tengah melihat Raya turun dari atas motor kesayangan milik Alana.
__ADS_1
“Apa itu penting bagimu.” Alana menyahut pertanyaan Sean dengan nada yang begitu dingin.
Sementara Sean yang mendengar sahutan dari Alana tak menyangka wanita yang dia sukai ini mempunyai tingkah laku berbeda dari wanita pada umumnya. Nada dingin menggambarkan bahwa wanita disebelah Raya sangat sulit ditebak dari tingkah laku dan sifatnya.
“Dasar kalian ini jika sudah bertemu selalu saja berdebat. Enggak kamu si kulkas dua pintu, dan si datar yang sama-sama menyebalkan.” Raya menggerutu dengan kesal saat melihat sang sahabat tengah bertemu justru selalu berdebat.
Dia sendiri pun dapat melihat dengan jelas tatapan raut wajah dari Sean perasaannya pada Alana yang terlihat begitu nyata. “Kalian ini selalu saja seperti ini jika bertemu,” lanjut Raya sembari mengomeli keduanya.
“Ayo pergi, ada beberapa hal ingin ku’ bahas dengan kalian. Dan juga ini mengenai proposal yang telah kita ajukan untuk magang nanti,” ajak Sean sembari mengabaikan omelan Raya. Meskipun Raya masih mengomel tetap saja dia harus mengikuti kedua sahabatnya tersebut.
Eva tak menyangka bagaimana mungkin orang paling dia benci itu bisa selamat dari para preman yang dibayar untuk mengerjainya! Dan hal tersebut yang saat ini tengah mengganggu pikiran Eva.
__ADS_1
Untuk memastikannya dengan cepat dia menyambar ponsel, dan menekan sebuah nomor yang disambut dari arah seberang. Begitu panggilan tersambung Eva melampiaskan kemarahannya karena, kegagalan yang dilakukan oleh preman bayaran tersebut.
Namun, dia sendiri tak menyangka beberapa menit ponsel tersambung dengan, salah preman bayaran itu pun justru tak bisa melakukan apa yang akan Eva perintahkan. Mengingat ada seseorang yang lebih berkuasa di atas, jika sampai berani membuat masalah.
Setelah sambungan terputus. Terpaksa dia sendiri yang akan turun tangan, dan memintanya untuk menjauhi Sean karena hanya dia sendiri yang boleh mencintai serta menjadikannya sebagai pemilik hatinya seorang diri.
Eva yang menyimpan dendam dengan Raya yang tak lain saudara tirinya sendiri itu pun masih belum menyadari. Bahwa saat ini Raya sudah menemukan seseorang yang bisa melindungi dan menjaganya. Namun, tetap saja Eva masih belum bisa menerima semua kenyataan yang ada.
Kembali dengan ketiganya kini tengah berada di kantin untuk menemani Raya yang tengah merajuk. Bukan karena hal lain hanya saja dia benar-benar dibuat kesal oleh kedua sahabatnya sendiri.
Namun, dirinya pun tak bisa marah pada kedua orang itu karena, dari mereka juga dia seakan-akan menemukan sebuah arti keluarga dan persahabatan. Yang selama ini belum sama sekali dirinya dapatkan.
__ADS_1
“Bagaimana dengan persiapanmu umtuk magang nanti, Lan.” Sean bertanya demikian sekadar ingin mengetahui reaksi Alana perihal tentang rencana mereka yang akan kembali ke kota.
Tak tahu harus bagaimana dengan pasrah Alana bertekad akan kembali ke kota besar tersebut. Meskipun pada akhir nanti dia akan dipertemukan oleh seseorang yang sangat membencinya.