
“Pantas Agung begitu geram karena wanita itu benar-benar tak pernah puas mendapatkan apa yang diinginkannya. Kalau saja Alana tahu kalung yang dia titipkan diincar kembali. Sudah pasti akan menjadi senjata makan tuan untuk wanita sundal itu karena telah mengusik kalung berharga milik nyonya.” Gerry bergumam lirih sambil melamun
Kemudian, Gerry pun mulai menghubungi sekretaris pribadi nyonya untuk memastikan, tentang permintaan nyonyanya yang meminta untuk menekan perusahaan milik papa Alana sendiri, dia sendiri tak menyangka mengapa bisa sejauh ini bertindak dua wanita sundal itu.
Andai Gerry mengerti sejujurnya Alana tak pernah mempermasalahkan harta warisan miliknya, hanya saja dirinya menyayangkan rencana wanita sundal yang ingin membunuh Alana. Namun, itu tak pernah bisa terjadi selama dia dengan Whepi, Fatah, Agung menjadikan nyawa mereka sebagai tameng untuk menjaga dan melindungi berlian milik seorang ketua organisasi di masa lalu. Yang tak lain ialah kakek dari Alana sendiri.
*****
Kembali lagi di sebuah apartemen keesokan pagi menjemput di waktu subuh dengan seseorang berotot six pack diperut itu tengah bergelut di dapur apartemen penthouse miliknya. Tak mengurangi kodratnya sebagai seorang wanita meskipun, banyak yang menganggap dia sebagai pria karena mengubah penampilan yang membuat beberapa orang tak mengenali jati Alana. Namun, dia sendiri sama sekali tak memdulikan tentang orang-orang yang mencibir! Hal tersebut membuatnya pandai menyembunyikan jati diri dari dunia luar.
Berkutat dengan kompor tak pernah mengurangi kecantikan alami yang berada di dalam tubuhnya meskipun dengan bau bawang yang melekat tak membuat Alana risih. Justru dia sendiri merasa senang dengan hobi yang selalu merasa begitu dekat dengan mendiang mamanya tercinta. Dan dari beliaulah Alana belajar begitu banyak hal tentang kodratnya sebagai seorang wanita dibalik ketidaksempurnaan karena penampilannya yang sekarang.
Ma, entah benar atau tidak. Darimu 'lah aku bisa belajar banyak hal. Kamu, benar dan ku' baru mengerti kita boleh terlihat kuat dan tegar yang tak mudah ditindas dari luar. Namun, urusan dapur kedua tangan sendiri harus bisa mengatur sebagaimana mesti sebagai seorang wanita. Yang mana putri dari Angelika Austin Fernandes Xavier ini tak boleh ditindas oleh siapa pun, termasuk wanita sundal yang selalu berusaha mengambil semua apa yang seharusnya menjadi milik kita! Dan pelan-pelan putrimu akan menampakkan diri untuk membalaskan rasa sakit hati mama yang paling dalam, kan ku' dua wanita sundal menyesal telah membuat kita menderita.
Saking asyiknya berkutat dengan kompor yang membuat Alana tak menyadari. Aroma wangi masakan yang dia masak tercium juga dihidung Raya Amanda.
Beberapa menit sebelumnya di kamar yang di tempati oleh Raya Amanda sedikit heran dengan aroma masakan tercium dihidungnya. Mau tak mau terpaksa dia beranjak dari ranjang empuk untuk memastikan aroma wangi masakan yang membuatnya rindu dengan sang mama tercinta.
__ADS_1
Setelah dirinya terlihat lebih segar dengan sedikit tergesa-gesa Raya melangkahkan kakinya, mengikuti aroma wangi masakan yang terus menerus tercium dihidungnya, dan begitu sampai di dapur arah pandangan matanya menangkap seseorang dengan cekatan mengolah bahan-bahan masakan.
Raya, menatap kagum ke arah sahabatnya yang tengah bergelut dengan kompor, tanpa merasa takut akan bau bawang menempel ditubuh sang sahabat tercinta.
Sejak kapan dia pandai memasak? Mengapa aku sama sekali tak mengetahuinya … Kalau seperti ini aku jadi merindukan wangi aroma masakan olahan mamaku sendiri. Batin Raya dengan tatapan sedih.
Pelan-pelan menghampiri sahabatnya sembari terus menatap ke arah Alana dengan peluh keringat yang menempel itu, tak mengurangi kadar kecantikan yang sama sekali tak pernah terpolesi oleh alat-alat make-up menghiasi wajahnya.
“Wangi sekali aroma yang kamu masak, Lan,” puji Raya sambil duduk dikursi meja yang ada di depannya.
“Hm.”
“Lan, sejak kapan kamu bisa memasak?” panggil Raya sembari bertanya.
Bukannya Alana tak mau menjawab panggilan sekaligus panggilan dari Raya. Hanya saja saat ini dia sendiri tengah merindukan salah satu sahabatnya dulu. Sebelum semua menjadi berantakan akibat ulah dari Sarah yang selalu berusaha merusak dan menghancurkan kebahagiaan miliknya. Wajah dingin itu sedang menutup kesedihan dan kegundahan yang sedang menyergap relung hati paling dalam.
Jika nanti mereka dipertemukan kembali. Dia, sendiri yang akan datang untuk meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Tak ingin mengabaikan Raya terlalu lama, menarik napas dalam-dalam dengan raut wajah yang masih dingin akhirnya Alana membuka suara, menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabatnya tersebut.
__ADS_1
“Sejak kecil mendiang mamaku yang mengajariku memasak. Jangan bilang saat ini kamu sama sekali tak pernah memegang dapur?” ucap Alana sembari balik tanya.
Raya Amanda meringis saat mendengar pertanyaan yang diajukan untuknya. “Aku tak pernah diperbolehkan mama masuk ke dapur, Lan. Dan aroma masakan yang kamu buat, justru membuatku merindukan mama.”
“Nanti sepulang dari kampus aku akan mengantarmu pulang ke mansion.” Alana berkata demikian karena janjinya pada mama Raya.
Kemudian setelah Alana menyelesaikan makanayang dia masak. Tak lupa menatanya di atas meja untuk segera dinikmati oleh keduanya. Dan Alana akan membagikan beberapa makanan tersebut yang akan diberikan pada para petugas yang berada di lantai bawah unit apartemen.
“Kamu masak semua ini hanya untuk dibagi-bagi, Lan?” tanya Raya.
“Tak mesti juga. Aku sesekali datang kemari bukan untuk menyenangkan perut mereka saja. Kamu tahu 'kan kerja keras dari para petugas apartemenku, tak harus melulu digaji yang penting itu kebersamaan untuk membangun sebuah kekeluargaan. Yang sejak lama sudah terbangun saat aku membeli apartemen ini,” jawab Alana.
Yang mana hal tersebut membuat sahabatnya kagum dengan apa yang dilakukan oleh Alana Stevannya Lucier.
Lalu tak lama kemudian keduanya pun keluar dari unit lantai dengan membawa beberapa banyak kotak makanan yang akan dibagikan kepada para petugas tersebut.
Para petugas yang sedang melakukan aktivitas tak begitu kaget saat mendapat kotak makanan yang berasal dari pemilik apartemen tempat kerja mereka.
__ADS_1
“Terima kasih banyak atas makanannya, Nona.” Salah satu petugas keamanan memberanikan diri memanggilnya sebutan yang paling Alana benci. Namun, dia tak begitu marah karena hanya di dalam apartemen ini sebagian mengenal jati dirinya yang seorang wanita.
“Oh iya, aku cuma menginap semalaman saja. Selebihnya untuk unit lantai paling atas jangan sampai ada orang yang menyewa atau membelinya. Kalau ingin menyewa ambil unit yang lain, dan juga aku tak selalu memasak untuk kalian semua. Yang penting nanti empat minggu sekali akan ada kotak makanan catering untuk bisa kalian nikmati lagi.” Alana memberi ultimatim pada para petugas untuk menjaga amanat yang diemban oleh mereka.