
Alana yang tiba di unit penthouse paling atas, tanpa sadar dirinya hanya bisa menghela napas berat. Dia tak menyangka imbas kelakuan saudara Raya dengan terpaksa, harus membuatnya turun tangan sendiri untuk mencegah suatu hal yang tak diinginkannya.
Begitu tiba di lantai paling atas dengan cepat dengan dia pun membuka pintu tersebut sambil tangannya merogoh saku celana jeans yang dia pakai untuk mengambil sebuah kartu cadangan yang selalu dibawa kemana-mana. Setelah membuka pintu dengan kartu kunci cadangan itu, Alana pun masuk ke dalam unit lantai miliknya, seketika dia mendapat sambutan dari Raya yang tengah asyik menonton drama korea kesukaan ya dilayar tivi dengan wajah yang sangat serius.
Tak ingin mengganggu ketenangan sang sahabat, dirinya pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar pribadinya sebelum menemui sahabatnya tersebut.
Hampir satu jam lebih Alana berada di dalam kamar pribadinya. Dia pun keluar menemui Raya hanya memakai sebuah bra sport yang mana di bawah perutnya memamerkan sebuah perut rata dengan sedikit otot six pack dengan sebuah tato tipis itu, membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iri dengan apa yang dia punya. Tak lupa juga dengan celana jeans pendek yang biasa dia pakai untuk tidur, benar-benar menambah kadar sexy lekuk tubuh Alana yang sangat begitu mendambakan.
Namun sebelum dia mengobrol dengan Raya, sebuah benda yang melekat dilehernya dia matikan, dan menggantikannya dengan suara asli yang selama ini Alana sembunyikan.
“Bagaimana apa kau merasa baikkan, Nda?” tanya Alana dengan nada lembut. Ini pertama kalinya menggunakan suara asli karena selama ini dia sendiri menggantungkan sebuah alat yang melekat erat dilehernya tersebut.
Raya yang mendengar pertanyaan, tanpa sadar dirinya pun segera menoleh ke arah suara tersebut. Seketika bola matanya membulat sempurna, saat melihat sang sahabat yang tengah memamerkan otot perut six pack miliknya. Di tambah dengan suara yang begitu sangat lembut.
“Apa kau merasa baikkan sekarang?” Sambil mendengkus kasar dirinya pun mengulang kembali pertanyaan, sembari membuyarkan lamunan Raya yang tengah menatap ke arah dirinya.
__ADS_1
“Nda, jangan melamun begitu tak baik untukmu.” Alana pun melanjutkan perkataannya sambil menghampiri sang sahabat dengan menepuk pelan bahunya. “Jangan takut dan merasa kaget dengan jati diriku yang sesungguhnya karena, aku terpaksa melakukan semua hal ini untuk melindungi dan berjaga-jaga saja. Dan hanya kamu saja yang ku' persilakan untuk mendengar nada suara asliku, tentunya kamu pasti paham kan? Jika dari luar bahkan di kampus mereka hanya mengenal jati diri ini sebagai seorang pria.”
Tanpa berbasa-basi Alana pun menjelaskan alasannya mengakui jati dirinya sebagai seorang pria.
“Lalu bagaimana, Sean bisa mengetahui bahwa jati dirimu sebagai seorang wanita, Lan? Padahal kalau dilihat dengan teliti semua orang tak ada yang mengenalmu sebagai seorang wanita.” Raya sendiri pun berpikir tentang alasan sang sahabat yang begitu sangat tertutup, bahkan dirinya tak menduga hanya dia dan Sean seorang yang bisa melihat jati diri asli Alana.
“Bukankah aku sudah mengatakannya kalau aku hanya ingin melindungi dan berjaga-jaga saja,” ucap Alana dingin. Maafkan aku ya, Nda. Bukan berarti aku tak ingin berbagi cerita denganmu, hanya saja hatiku perlu memantapkan diri. Kamu layak atau tidak untuk menjadi sahabatku! Biarlah di sebut egois karena aku juga tak mungkin membiarkan siapa pun menindasmu, dan hanya kamu dengan seseorang di sana yang nanti akan benar-benar menetap sebagai sahabat sejatiku.
Raya pun meringis pelan setelah dia mendengar nada dingin dari Alana. “Hehehe, maaf aku lupa. Lalu bagaimana dengan, Sean yang mengetahui jati dirimu yang asli?”
“Untuk, Sean sendiri saat itu aku tak sengaja mematikan tombol yang melingkar dileherku ini. Dari sana, Sean mengetahui jati diriku yang asli. Bahkan dia sempat tak percaya dengan apa yang didengar olehnya.” Alana berkata sembari menjelaskan lebih detail tentang Sean yang telah mengetahuinya sebagai seorang wanita. “Apa boleh aku bertanya suatu hal tentang kehidupan pribadimu?”
“Mengapa, Eva selalu mengerjaimu, Nda?” tanya Alana dingin. “Bukankah dia saudaramu, meskipun kalian tak ada hubungan darah. Bahkan aku membayangkan mamamu begitu sangat menyayanginya, dan aku menebak justru kamu selalu mengalah dengannya?”
Tak disangka oleh Raya sendiri. Apa yang di katakan oleh Alana memang benar adanya, bahwa selama ini dirinya selalu mengalah dan tak pernah mengeluh dengan tingkah laku dari saudaranya tersebut. “Aku tak begitu mengerti dan memahami, Eva. Selama ini aku berusaha untuk menjadi teman dan saudara yang baik tapi, dia menolak kehadiranku setelah mama menikah dengan papanya.”
__ADS_1
Alana mendengkus kesal tapi dia berusaha mencoba untuk tak terlalu mencampuri urusan pribadi sahabatnya sendiri. Namun, jika Eva membuat Raya kembali trauma dia tak akan segan-segan memberinya pelajaran. “Nda, aku tak ingin mencampuri urusanmu. Hanya saja dia membuat psikismu trauma karena mengira kamu menyukai, Sean.”
“Apa!” pekik Raya kaget. “Dia menganggapku menyukai, Sean?”
Alana mengangguk kepala. “Benar, dia selama ini menganggapmu menyukai, Sean karena kedekatan kita bertiga.”
“Lan, kamu tahu kan? Aku hanya menganggap, Sean sebagai sahabat dan tak lebih. Bahkan tak ada perasaan apa pun untuknya.” Raya sendiri telah menegaskan bahwa selama ini tak sedikit pun menyimpan perasaan yang mendalam untuk seorang Sean dengan julukan most wanted di kampusnya.
“Kamu harus sedikit tegas, Nda untuk menghadapinya. Jika dia masih melakukan hal bodoh seperti itu lagi,” ucap Alana.
Raya menggeleng kepala. Bukannya tak ingin menegurnya, hanya saja dia sendiri tak bisa melakukan hal tersebut karena sang mama begitu mencintai dan menyayanginya. “Maaf, Lan aku tak bisa melakukan itu untuknya karena, ku sendiri tak ingin membuat mama kecewa.”
Menghela napas gusar. Alana pun tak bisa gegabah dalam bertindak dengan terpaksa tak akan mengusik kembali saudara Raya. Namun, jika mereka masih mengusik Raya dirinya pun tak akan tinggal diam begitu saja. “Baiklah, aku tak mengusiknya tapi dia masih nekat mengerjaimu. Aku harap kamu tak keberatan jika nanti aku sendiri yang turun tangan.”
Kemudian setelah mereka membahas tentang kehidupan pribadi masing-masing, tanpa sadar Raya terlihat menguap dan Alana pun menyuruhnya untuk beristirahat agar, keduanya dapat mempersiapkan diri untuk presentasi dalam rangka persiapan menuju tempat mereka akan mengasah kemampuannya.
__ADS_1
******
Sementara itu di sebuah kamar terdapat seorang wanita paruh baya. Yang mana wanita tersebut merupakan mama dari Arion. Tengah memegang ponsel dengan menampilkan wajah cantiknya meskipun usia sudah tak lagi muda. Sambil membuat seseorang dari arah seberang meradang panas akibat ulah jahilnya itu.