Mr Mafia Terjerat Cinta Gadis Tomboy

Mr Mafia Terjerat Cinta Gadis Tomboy
Part enam puluh lima


__ADS_3

“Bukankah aku sudah mengatakan hal ini pada dirimu tentang kejadi di kampus. Apa kamu dengannya tak ada masalah apa pun?” Sean langsung bertanya pada sahabatnya ini. Yang berusaha mencari tahu mengapa primadona kampus tersebut selalu mengganggu Raya.


“Aku dan Raya sebenarnya adalah bersaudara atau lebih tepatnya dia saudara tiriku. Sekarang apa kamu mengerti mengapa dia selalu salah paham denganku, Hen?” Raya pun membalik pertanyaan yang dia ajukan untuk Sean Mahendra.


Namun, dia mendengkus kesal tak kala melihat gelengan kepala tersebut.


“Lalu kalau begitu karena apa?”


“Apa kamu tak mengerti kalau Eva itu membenci kedekatan kita karena dia begitu menyukaimu dan menganggap aku adalah orang yang merebut hatimu.” Raya menjeda tak lupa dia sangat ingin mengetahui perasaan Sean Mahendra dengan memancingnya.


“Kamu, benar, aku juga tak mungkin menyukai dan menyimpan perasaan untukmu karena ada satu nama wanita yang telah mencuri hati ini dan dia adalah –”


“Dia adalah Alana begitu yang ingin kamu bilang, Hen!” Raya menyela dengan cepat dan membuat tubuh Sean menegang.


Bagaimana ia mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. “Bagaimana kamu mengetahui hal ini?” tanya Sean.

__ADS_1


“Semua terlihat nyata dari cara dan tatapan matamu setiap menyangkut perihal tentang Alana. Kalau memang kamu menyukainya mengapa tak diungkapkan agar hatimu tak terlalu tersiksa seperti ini.” Raya menyayangkan tindakan Sean yang lebih memilih memendam perasaannya seorang diri.


“Aku tak terlalu berani mengatakan maupun mengungkapkan hal ini pada dirinya.”


“Ya, sudah kalau begitu, terserah dirimu tapi ingat dan camkan ini dengan baik! Jangan pernah menyesal kalaupun nanti ada seorang pria lain yang mengambil hatinya terlebih dahulu.” Raya memberi Sean ancaman karena dia sendiri ingin melihat seberapa kuat sahabatnya tersebut memendam perasaan untuk seorang Alana Stevannya Lucier.


“Apa kamu sedang mengancamku?”


“Jangan jadi seorang pria bodoh, Hen. Jika kamu ragu maka suatu saat nanti hatimu yang akan terluka sendiri.” Raya sedikit gemas dengan kebodohan dari seorang pria yang duduk di seberang sofa.


“Ngomong-ngomong kamu benar tak mengetahui siapa pemilik apartemen ini?” Sean mengulang kembali pertanyaan yang di ajukan untuk Raya.


“Kenapa kepo sekali urusan wanita, hah!” omel Raya dengan bibir mencebik kesal.


Bukan tak ingin mengatakan hal apa pun mengenai apartemen tersebut. Hanya saja pemilik asli itu tak ingin identitasnya di ketahui oleh siapa pun termasuk Sean sendiri.

__ADS_1


“Tak ingin pulang, Hen?” tanya Raya dengan pandangan arah matanya tertuju jam dinding menunjukkan sudah hampir beberapa jam mengobrol.


“Jadi sekarang kamu mengusirku?” Sean bertanya balik.


“Kalau ingin menginap di sini tak masalah, Hen. Akan tetapi kamu hanya boleh pakai unit lantai lain.” Raya memperbolehkan Sean menginap di apartemen tersebut karena memang itu atas saran dari pemilik asli.


Mengangguk kepala Sean pun beranjak dari soda yang diduduki meninggalkan Raya menuju unit lantai yang telah di sediakan oleh pemiliknya.


“Ini kunci untuk unit lantai bawah. Apa kamu tak keberatan bila tidur di unit lantai lain?”


“Tidak!”


“Ya, sudah, sana pergilah aku sudah mengantuk.” Raya mengusir Sean dengan halus karena memang ia benar-benar lelah dan ingin segera tidur ke alam mimpi.


Tanpa membantah Sean beranjak dari unit lantai dengan berpindah ke unit lantai bawah. Sambil bertanya-tanya tentang pemilik asli apartemen tersebut.

__ADS_1


__ADS_2