
Alana pun memacu motor sport miliknya dengan kecepatan tinggi, dirinya berusaha berpikir sambil membagi pikirannya dengan jalanan yang sedang dilalui, dan juga dia mulai berpikir siapa yang telah berani bermain-main dengannya.
Setelah sampai di tempat yang menjadi titik dari sinyal darurat tersebut, dirinya merasa heran dengan tempat yang sedang dia pijak.
Di dalam tempat sepi itu, yang menjadi disekapnya Raya Amanda pun mulai membuka matanya, dia terlihat kebingungan dengan keadaan disekitar, dan juga Raya pun mulai ketakutan saat para preman tersebut menatap ke arahnya.
Aku ada di mana ini? Mengapa ada banyak orang asing didepanku ini! Siapa mereka? Mau apa denganku? Batin Raya sembari bergetar hebat disekujur tubuhnya.
“Siapa kalian?” tanya Raya dengan tubuh terikat itu.
Para preman itu pun tersenyum sinis, mereka tak menyangka tanpa dikerjai pun gadis tersebut ketakutan dengan sendirinya.
“Lakukan sesuka kalian tapi ingat jangan gegabah dalam hal apa pun!” bisik bos preman itu.
__ADS_1
“Kau tak perlu tahu siapa kami, Nona. Yang jelas kami dibayar untuk membawamu ke tempat ini! Bagaimana apa suka?”
“J–a–ngan a–ku mo–hon!” Raya pun mengatakan hal dengan terbata-bata ditambah tubuhnya bergetar hebat karena dirinya sangat ketakutan dengan para preman tersebut.
“Sayangnya kami tak peduli hal itu, Nona.” Sambil berkata salah satu dari preman tersebut mendekat ke arah dirinya.
Namun tiba-tiba terdengar nada bentakan dari arah luar, yang mana membuat para preman tersebut terkejut bukan main dengan kedatangan seseorang yang sangat mereka kenal.
Alana yang menyamar menjadi Luky menjadi geram dengan perkataan dari bos preman tersebut, dirinya pun tak habis pikir mengapa mereka mengusik orang terdekatnya.
“Sepertinya kalian melupakan sesuatu yang berhubungan denganku, ya!” Nada dingin dan sorot mata yang datar itu, tak mengurangi wajah cantiknya di balik penampilannya yang sangat maskulin.
“Sekali lagi aku minta maaf … tak bermaksud untuk mengerjainya … hanya saja aku telah di bayar oleh beberapa gadis yang ada di kampus itu, N–”
__ADS_1
“Sekali lagi kau menyebut panggilan itu, kepalamu yang akan menjadi sasaran empuk dari peluru ku paham, hah!” Kata Alana dengan memberi kode keras pada bos preman tersebut untuk tak menyebutnya sebagaimana mesti dirinya di sebut, Nona Muda.
Bos dari preman itu pun menggeleng kepala, pertanda dirinya memahami bahwa orang di depannya itu tak bisa diusik dengan mudah. “Lalu aku harus apa untuk mengatakan ini pada mereka?”
“Ckk, menyusahkan saja!” Alana pun berjalan mendekati Raya yang tengah ketakutan itu, sambil mengumpat geram dengan seseorang yang berusaha mengerjainya.
Tak lupa dirinya mengeluarkan sebuah kartu card tanpa pin pada para preman tersebut, dan memintanya untuk tak mengganggu bahkan mengerjai sahabat terdekatnya.
“Ambil kartu ini tapi ingat jangan pernah mengusik dia lagi, kau paham, kan? Kalau aku sangat tak suka diusik, bahkan orang-orang didekatku termasuk dia yang kau sekap.”
Lalu tak lama kemudian Alana pun berhasil mengeluarkan sahabatnya dari preman yang sangat mengenali dirinya. Serta tak lupa meninggalkan tempat tersebut, sambil memapah tubuh lemah tak berdaya itu menuju ke arah apartemen pribadinya.
“Sudah jangan takut lagi ya, Nda,” hibur Alana. “Mengapa kau bisa disekap oleh mereka?”
__ADS_1