Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #12 Perkenalan Penuh Kesan


__ADS_3

Jarum jam saat itu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Di bawah cahaya lampu penerangan jalan, Baruna dan Floretta sama-sama menundukkan wajahnya. Beberapa menit berlalu, tetapi tidak ada kata terucap dari mulut keduanya, sehingga suasana untuk sesaat menjadi hening disana.


"Sebenarnya, kamu kerja dimana, Flo? Kenapa bisa ada di tempat ini? Tempat ini kan rawan kejahatan, apalagi untuk seorang gadis sepertimu?"


Untuk mencairkan suasana, Baruna mulai bertanya, menjadi ice breaker dan mencoba akrab dengan gadis di sebelahnya.


A-aku ... aku kerja di sebuah coffee shop yang buka dua puluh empat jam," jawab Flo, kembali terdengar gugup.


"Tadi ada event kecil disana, jadi aku terpaksa lembur dan pulang terlambat," sambungnya menambahkan ceritanya.


"Tapi, kerja di jam malam begini tidak pantas untuk seorang gadis secantik kamu," sanggah Baruna.


"Memangnya kenapa? Aku sudah hampir setahun kerja di tempat itu, dan selama itu tidak pernah terjadi apa-apa denganku, semua masih aman-aman saja. Aku bisa jaga diri kok!" bantah Flo.


Dia merasa sudah biasa bekerja di malam hari. Karenanya pertanyaan Baruna dianggap remeh olehnya.


"Buktinya tadi, kamu hampir saja disakiti oleh laki-laki brengsek itu kan?"


Mendengar pertanyaan Baruna, Flo hanya menghembuskan nafas pelan.


"Laki-laki itu semestinya jadi pelindungku, karena Diaz adalah satu-satunya keluarga yang masih aku miliki saat ini. Sayangnya, kakakku itu orang yang sangat egois. Sejujurnya aku malu memiliki kakak seperti dia," terang Flo kembali bercerita dengan wajahnya yang sedikit tampak kesal saat mengingat kakaknya itu.


"Oh ya, bagaimana dengan kakakmu? Tadi kau bilang kalau kakakku juga hampir pernah menyakitinya. Apa dia baik-baik saja?" Flo langsung menyambung bertanya kepada Baruna.


"Iya, untung saja saat kejadian itu aku memergokinya. Kalau tidak, mungkin saja Diaz sudah menodai kakakku," terang Baruna.


"Atas nama kakakku, aku minta maaf padamu. Dia memang sangat berhati busuk!" ujar Flo dengan rasa sedikit kesal dengan kelakuan kakaknya.


"Tidak usah minta maaf, ini kan bukan salahmu," tangkis Baruna tidak terlalu peduli.


"Kamu sendiri kenapa bisa ada di tempat ini seorang diri?" Flo balik bertanya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Mulut kamu bau alkohol, aku yakin kamu habis minum di club itu kan?" terka Flo dengan nada menelisik.

__ADS_1


"Iya benar, aku memang habis minum, sekedar untuk bersenang-senang bersama teman-temanku," jawab Baruna jujur, karena dia menyadari kalau aroma alkohol memang masih melekat di tubuhnya.


Flo juga hanya menganggukkan kepala mendengar pengakuan jujur Baruna. Dia tidak peduli dan tidak merasa perlu mengurusi kesenangan Baruna, sebab mereka baru saja saling berkenalan.


"Flo, kamu bukan orang pribumi asli ya?" Baruna juga berusaha mengalihkan dan mencoba akrab dengan Flo.


"Iya. Papaku orang asli Indonesia, sedangkan mamaku orang Belgia."


"Pantas saja, matamu biru dan rambut kamu pirang. Ternyata kamu blasteran Indo - Belgium," kekeh Baruna sambil tersenyum dan terus menatap wajah gadis cantik itu. Dia juga ingat kalau Diaz dan Flo memang memiliki wajah yang sangat mirip. Kulit mereka sama-sama putih dan keduanya juga memiliki mata dengan maniknya yang berwarna biru.


Baruna dan Floretta terus berbincang disana dan terlihat makin akrab.


"Uaahheemm!" Baruna menguap panjang. Sesungguhnya dia sudah sangat mengantuk. Akan tetapi, bercakap-cakap dengan Flo membuatnya merasa terhibur, sehingga rasa kantuknya sedikit tersamarkan. Apalagi, oboran di antara keduanya terdengar nyambung, sehingga Baruna tidak sedikitpun merasa bosan mendengar semua celotehan yang keluar dari bibir seksi Flo, saat dia bercerita tentang banyak hal kepadanya.


"Baruna, kamu sudah ngantuk ya?" tanya Flow saat melihat mata Baruna sudah memerah dan kantung matanya juga terlihat menghitam.


"Sedikit." Baruna hanya mengangguk pelan.


"Sebaiknya kita pulang sekarang. Lagian tidak baik seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tidak punya ikatan apa-apa, berduaan malam-malam begini," pungkas Baruna, tidak ingin berlama-lama di tempat itu.


Walau kehadiran Flo sangat menyenangkan baginya, tetapi Baruna ingat kalau dia sedang berada di negara kelahirannya, dimana budaya timur masih sangat dijaga disini.


"Kamu benar, Baruna. Sebaiknya sekarang kita pulang," angguk Flo setuju.


Keduanya lalu beranjak dari tempat duduk itu dan berjalan mencari tempat dimana biasanya ada taksi meter ngetem untuk menunggu penumpang.


Sangat beruntung mereka mendapatkan dua taksi disana. Sehingga keduanya pun bisa meninggalkan tempat itu secara terpisah menuju tujuannya masing-masing.


.


Tiba di villa tempatnya menginap, Baruna langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang sangat empuk dan nyaman.


Baruna mengusap wajahnya. Meski sangat mengantuk, tetapi dia belum langsung bisa tidur. Bayangan wajah Flo selalu ada dalam ingatannya. Dan tanpa dia sadari, sebuah senyum terus terulas di bibirnya saat membayangkan wajah gadis cantik itu.


"Kenapa aku selalu teringat akan Floretta?" Baruna mengucek matanya dan berusaha memejamkannya.

__ADS_1


Baruna tidur dengan posisi menengadah sambil menarik duvet cover untuk menutupi tubuhnya.


"Flo memang sangat cantik, aku sangat terkesan melihatnya," batin Baruna sangat jujur mengagumi sosok gadis yang baru dikenalnya itu.


"Matanya birunya sangat indah. Tapi kenapa aku melihat mata itu sangat mirip dengan sexy dancer bertopeng di night club itu?" Baruna mengerutkan keningnya.


"Apa jangan-jangan Floretta sebenarnya adalah penari itu?" tanya hati Baruna.


"Sepertinya tidak mungkin. Flo terlihat sangat polos, dia sama sekali tidak seperti wanita-wanita malam yang ada di club itu," pikir Baruna mengalihkan.


Meski terus berusaha untuk tidur, Baruna tetap tidak bisa memejamkan matanya. Entah mengapa, perkenalan singkatnya dengan gadis yang bernama Floretta sudah meninggalkan sebuah kesan berbeda dalam hatinya. Tentunya, ini merupakan hal yang tidak biasa dirasakannya.


Walau selama ini di keseharian Baruna, dia mengenal banyak wanita cantik. Namun, hanya Floretta lah yang mampu memikat rasa tertariknya untuk mengetahui lebih jauh banyak hal tentang gadis itu.


Baruna terus membolak-balikkan badannya dan berharap bisa segera tidur. Tetapi, rasa kantuk sepertinya enggan menghampirinya lagi. Hanya bayang-bayang wajah Floretta yang selalu melintas di pelupuk matanya. Baruna lalu meraih bantal untuk menutupi kepalanya. Beberapa saat, kehangatan dan kelembutan bantal empuk yang terbuat dari bulu angsa itu, bisa membuatnya memejamkan mata hingga akhirnya diapun tertidur pulas.


...----------------...


Tetap ditunggu dukungan dari pembaca setia semua ya! Vote, like, komen dan hadiahnya tetap dinantikan.


......................


Sebagai bonus untuk pembaca setia, berikut author tampilkan visual tokoh-tokoh dalam cerita ini, semoga dengan visual ini pembaca bisa semakin menjiwai setiap karakter dalam cerita.



BARUNA PUTRA SEGARA WARADANA (23 Tahun)



FLORETTA MARVELLA RIVALDY (22 Tahun)



ARDILA PUTRI WARADANA (24 Tahun)

__ADS_1



DIAZ MARVELLINO RIVALDY (26 Tahun)


__ADS_2