
Hari berganti dengan begitu cepat. Hubungan antara Baruna dan Flo pun kian hari kian menghangat.
Kekhilafan yang mereka lakukan malam itu sudah mampu mengubah jalan pikiran Baruna yang sebelumnya menganggap wanita hanya sebagai teman bersenang-senang semata, menjadi sebuah rasa cinta yang tulus. Memiliki Flo dalam hidupnya, membuatnya merasa tidak ingin lagi berhubungan dengan wanita lain.
Setelah kejadian malam itu, Baruna dan Flo juga semakin ketagihan melakukan perbuatan dosa. Hampir setiap mengantar Flo pulang dari bekerja, Baruna selalu mampir di rumah kontrakan Flo dan mereka juga akan melakukan lagi hal yang sama. Kenikmatan bercinta seolah sudah menjadi candu bagi keduanya, sehingga tidak ada waktu yang mereka sia-siakan tanpa melewatinya dengan kemesraan. Selalu ada hasrat mereka untuk melakukanya lagi dan lagi.
"Sayang, ini sudah malam. Aku harus segera pulang!" Baruna mengecup mesra bibir Flo lalu bergegas bangun dari atas ranjang serta mengenakan semua pakaiannya. Mereka buru saja beristirahat sejenak, setelah beberapa kali melakukan permainan panasnya.
"Iya, Sayang," balas Flo, juga sambil beranjak dari tempat tidur dan ikut mengenakan pakaiannya.
"Jaga dirimu baik-baik, Sayang. I love you!" Baruna mengecup kening Flo sebelum meninggalkannya.
"I love you too, Baruna!" balas Flo dengan senyum manisnya.
Keduanya saling melambaikan tangan saat Baruna sudah di atas motornya dan sudah siap akan meninggalkan rumah Flo.
"Hati-hati ya, Bar!"
Flo masih terus melambaikan tangannya dari depan pintu sambil terus mengulas senyum indah di bibirnya, walau motor Baruna kini sudah berlalu dari hadapannya.
Kehadiran Baruna dalam keseharian Flo, sudah mampu mengusir semua rasa sepi dalam hidupnya selama ini.
Menyerahkan diri seutuhnya kepada Baruna, juga bukan menjadi sesuatu yang ingin dia sesali, karena hanya kebahagiaanlah yang dia rasakan tatkala pria pujaan hatinya itu ada bersamanya. Kebahagiaan yang tentunya tidak pernah dirasakannya selama ini.
Baruna memacu motornya lebih cepat karena tidak ingin pulang terlambat. Bukan tanpa alasan, tentu saja dia malas berdebat dengan papa dan mamanya yang akan selalu marah-marah apabila dia pulang terlalu larut malam.
Setelah menerobos jalan utama kota yang masih padat, Baruna berbelok menuju ke sebuah persimpangan, menepi dari arah jalan utama. Baruna memang terbiasa memilih jalan pintas itu agar dia lebih cepat tiba di rumahnya, walau jalanan itu sangat sepi, gelap dan di tempat itu juga dikabarkan sering terjadi tindak kejahatan.
Sekilas Baruna menoleh ke arah spion motornya. Sedari tadi dia melihat sebuah mobil terus membuntutinya.
"Kenapa sepertinya mobil di belakang itu mengikutiku terus?" batin Baruna merasa curiga. Sorotan lampu jauh dari mobil itu juga terus mengarah tepat ke spion motornya, yang membuat mata Baruna silau karenanya. Baruna kemudian mempercepat laju motornya. Akan tetapi, mobil itu juga terus mengikutinya.
Di ujung jalan yang sangat sepi, mobil itu ikut melaju kencang mendahului Baruna.
Triiitttt!
Suara rem motor Baruna berderit nyaring. Dia menarik rem motornya sekencang-kencangnya ketika mobil itu mendadak berbelok di depannya dan berhenti tepat di hadapannya. Nyaris saja Baruna menabrak mobil itu. Masih sangat beruntung, dia terlebih dahulu mampu mengendalikan motornya.
Baruna membuka kaca helmnya dan memperhatikan sebuah premium SUV berwarna abu metalic yang berhenti menghadang jalannya. Seorang pria berbadan tinggi tegap turun dari kursi penumpang bagian depan mobil itu dan berjalan mendekati Baruna.
"Hei! Siapa kamu dan apa maksudmu menghalangi jalanku?" pekik Baruna kesal, seraya turun dari motornya serta melepaskan helm fullface yang tengah dikenakannya. Dia lalu medekat ke arah seorang pria yang sudah berdiri angkuh di hadapannya.
__ADS_1
Selain pria bertubuh tinggi tegap itu, ada dua orang pria yang lain juga turun dari mobil yang sama. Ketiganya berdiri tepat di depan Baruna dan sama-sama menatap Baruna dengan tatapan yang terlihat menyeramkan.
"Ha... ha... ha! Kau tidak kenal siapa aku rupanya?" kekeh pria bertubuh tinggi tegap sambil menggeleng dan tersenyum menyeringai.
"Ok! Kau tidak perlu tahu siapa aku, Bocah Ingusan! Hanya ada satu hal yang ingin aku tegaskan padamu! Mulai detik ini, jauhi Floretta dan pergilah dari kehidupannya!" ketus pria itu sambil menudingkan telunjuknya ke wajah Baruna.
"Menjauhi Flo?" Baruna menautkan kedua alisnya. "Memangnya apa hubunganmu dengan Flo, sehingga kau sampai harus menghadangku di tengah jalan seperti ini, hanya untuk menyuruhku menjauhinya?" sahut Baruna ikut menyeringai.
"Floretta adalah calon istriku dan kau jangan coba-coba mendekatinya! Kalau kau sampai berani menyentuhnya, maka aku akan membunuhmu!" ancam pria itu dengan tatapan tajam dan terlihat sangat marah kepada Baruna.
"Calon istri?" Lagi-lagi Baruna hanya membulatkan matanya. Ucapan pria di hadapannya terdengar mengada-ada. Bagaimana bisa dia mengatakan Flo adalah calon istrinya sementara selama ini Flo hidup terlunta-lunta sendiri. Ditambah lagi, Flo sudah seutuhnya menyerahkan dirinya kepada Baruna, sudah pasti pria itu hanya sepihak mengatakan bahwa dia akan menjadi pasangan hidup Flo.
"Bualan kosong! Floretta adalah kekasihku, dia milikku! Dari mana kau bisa mengatakan dia adalah calon istrimu?" cebik Baruna. Tentu, dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan pria itu.
"Tidak perlu banyak bacot! Aku bilang jauhi Floretta atau kau akan kubuat menyesal!" bentak pria itu kembali mengancam.
"Kalau aku tidak mau, memangnya kenapa? Apa kau sungguh-sungguh akan membunuhku?" Baruna mengangkat satu ujung bibirnya tidak ingin mengindahkan ancaman pria itu.
"Kurang ajar! Sepertnya kau benar-benar ingin mati disini?!" Pria itu terlihat sangat marah mendengar jawaban Baruna yang terkesan meremehkannya.
"Kalian berdua, habisi bocah ini sekarang juga!" berang pria itu seraya mengangkat tangannya memberi kode perintah kepada dua orang di belakangnya untuk menyerang Baruna.
"Aku sama sekali tidak takut pada kalian!" tantang Baruna ikut merasa kesal. Dia pun segera memasang kuda-kuda dan siap berkelahi dengan pria-pria itu.
Meski kedua pria itu mengeroyoknya, tetapi mereka kalah lihai dari Baruna. Dengan sangat mudah Baruna bisa mengatasi pria-pria itu. Hanya dalam beberapa kali pukulan dan tendangan, kedua pria itu ambruk ke tanah dan mengerang kesakitan. Kemampuan berkelahi Baruna masih jauh di atas kedua orang tersebut.
"Haaah, lemah! Kemampuan kalian hanya segitu, tapi kalian berani menantangku?" Senyum miring terulas di bibir Baruna ketika dengan begitu mudah dia melumpuhkan dua pria yang menjadi lawannya.
Pria yang bertubuh tinggi tegap terlihat sangat marah, namun juga ciut melihat dua anak buahnya berhasil dikalahkan dengan mudah oleh Baruna. Bergegas ia membuka pintu mobilnya.
"Heeii! Mau lari kemana kau, Pengecut!" teriak Baruna saat melihat pria itu seperti hendak melarikan diri. Akan tetapi, tidak demikian keadaan yang sebenarnya. Setelah membuka pintu mobil, pria itu langsung membuka dashboard mobilnya dan mengambil sebuah benda disana.
"Jangan bergerak!" Pria itu membalikkan badannya, ikut berteriak sambil menodongkan sebuah pistol ke arah Baruna.
Baruna menghela nafas dalam. Pistol di tangan pria itu menghadap tepat ke arahnya. Apabila pria itu menarik pelatuk pistolnya, sudah pasti dia tidak akan selamat.
"Benar-benar pengecut! Seharusnya, kalau kau punya nyali, hadapi aku dengan tangan kosong!" bentak Baruna gusar. Meskipun pria dihadapannya menghunus sebuah pistol, tetapi dia tidak sedikitpun merasa gentar dibuatnya.
"Bersiaplah! Kau harus mati malam ini juga, Bocah Tengik!"
Dor!
__ADS_1
Dor!
Beberapa kali pria itu menembakkan peluru dari pistolnya ke arah Baruna.
Secepat kilat Baruna membungkuk lalu berguling ke kanan dan ke kiri di atas permukaan tanah, berusaha menghindar dari tembakan-tembakan pria di hadapannya. Baruna kembali berdiri dan berusaha melarikan diri agar tidak terkena tembakan brutal dari pria itu.
Dor!
Dor!
Pria itu terus menembakkan pistolnya dengan membabi-buta, tanpa memberi kesempatan Baruna untuk berkelit.
"Aaaarrrggghh!!" Baruna mengerang dan tubuhnya terkapar jatuh ke tanah. Darah segar mengucur deras dari betisnya yang tidak terelakkan terkena peluru yang berhambur dari pistol pria itu.
Saking banyaknya tembakan yang menghujaninya, dia tidak mampu terus menghindar. Sebutir timah panas akhirnya berhasil bersarang di kaki kanannya, yang membuat Baruna langsung ambruk dan meringis menahan sakit.
"Ha.. ha.. ha! Malam ini aku akan menghabisimu! Tidak seorangpun boleh mengambil Flo dariku!" Pria itu mendekati Baruna yang sudah tidak berdaya sambil terus menodongkan pistolnya.
Pada saat yang sama, dari arah ujung jalan lain, sebuah mobil mendekat dan berhenti di tempat itu.
"Hentikan!" Terdengar teriakan keras dari seorang pria lain keluar dari mobil yang baru saja tiba disana.
Dor!
Kembali terdengar sebuah suara tembakan.
"Aaargghh!" Suara erangan itu juga keluar dari mulut pria yang menodongkan pistolnya ke arah Baruna. Pistol yang tadi dipegangannya pun terlepas dan terhempas entah kemana. Darah segar juga mengucur dari punggung tangannya yang tertembak.
Pria yang baru keluar dari dalam mobil itulah yang menembaknya.
Tidak ingin terjadi masalah lagi, pria itu langsung berlari dan masuk ke dalam SUV-nya dan melajukannya dengan kencang meninggalkan tempat itu.
"Baruna!" pekik pria yang baru tiba itu, seraya berlari mendekat ke arah Baruna yang tersungkur di tanah.
"Om Rendy!" Baruna melebarkan matanya melihat pria yang baru saja menolongnya. Pria itu tidak lain adalah Rendy, salah seorang asisten kepercayaan papanya.
"Kenapa Om bisa ada di tempat ini, Om?" tanya Baruna heran karena tiba-tiba Rendy muncul di tempat itu dan di saat yang tepat datang menolongnya.
"Nanti saja Om jelaskan sama kamu, Baruna. Kamu terluka, Om harus segera membawamu ke rumah sakit." Rendy tidak ingin terlalu banyak bicara karena tahu kondisi Baruna yang harus segera mendapat pertolongan.
Bergegas ia membuka kaos yang dipakainya lalu membalut kaki Baruna yang terkena tembak dengan kaos itu untuk menghentikan pendarahan.
__ADS_1
Rendy lalu mengalungkan satu lengan Baruna di bahunya dan memapahnya masuk ke dalam mobilnya.
Rendy tancap gas dan memacu mobilnya sekencang-kencangnya menerobos gelapnya malam itu, agar bisa segera sampai di rumah sakit terdekat dari sana.