
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Malam sudah larut ketika Ardila tiba di rumahnya.
Ardila mengendapkan langkahnya perlahan masuk ke dalam rumah besar itu.
"Semoga papa belum pulang dari kantor dan tidak melihatku pulang terlambat." Ardila berjalan melewati ruang tamu untuk menuju tangga yang akan membawanya menuju kamarnya.
"Ehheemm!"
Ardila mengatupkan rahangnya dan menahan nafas ketika melewati ruang tengah, karena mendengar deheman seseorang disana.
"Habis dari mana saja jam segini kamu baru pulang, Dila?"
Ardila menoleh ke arah sofa dan melihat Arkha sudah duduk disana. Akan tetapi, pandangan Arkha hanya fokus pada layar ponselnya tanpa menoleh ke arah dirinya.
"E ... aku, aku habis dari rumah teman, Pa. Ada tugas proyek dari kampus yang harus aku selesaikan dulu," sahut Ardila memberi alasan.
"Papa baru saja akan menghubungimu. Ternyata kamu sudah datang." Arkha berujar seraya meletakkan ponselnya diatas meja di depan sofa.
"Apa kamu sudah makan?" Arkha mulai mengangkat wajahnya dan menatap putrinya yang terlihat gugup.
"Belum, Pa. Aku kepikiran tugas akhir yang menumpuk, selera makanku jadi hilang."
"Kalau gitu, ayo sekarang kita makan sama-sama! Mama Mutiara dan Baruna sudah dari tadi menunggu di meja makan."
Arkha beranjak dari sofa itu dan merangkul pundak putrinya, mengajaknya ke ruang makan.
"Ahh, untung papa tidak memarahiku karena pulang terlambat," batin Ardila merasa bersyukur karena hari itu Arkha sama sekali tidak terlihat marah kepadanya.
Di ruang makan, Mutiara dan Baruna memang sudah terlebih dahulu ada disana. Ardila lalu duduk di kursi di sebelah Baruna yang sudah terlihat asyik menyantap salad sebagai makanan pembuka mereka.
"Mama masak dori asam manis kesukaanmu, Dila." Mutiara menyodorkan piring saji yang berisi ikan goreng tepung kepada Ardila.
"Makasih, Ma." Ardila membuka piringnya dan mulai mengisinya dengan beberapa jenis makanan yang tersaji untuk makan malam mereka malam itu.
"Bagaimana kuliahmu hari ini, Dila?" Arkha mulai membuka obrolan di antara mereka.
"Semuanya baik, Pa. Tinggal beberapa mata kuliah saja yang belum aku selesaikan."
"Baguslah. Kalau kamu sudah mendapat gelar magister nanti, papa akan tempatkan kamu sebagai manager keuangan di kantor papa. Papa juga ingin kamu ikut mengurus kantor bersama Baruna."
__ADS_1
"Iya, Kak. Lagian aku juga sudah sembuh, mulai besok aku sudah akan mulai bekerja di kantor papa lagi." Baruna ikut menimpali.
"Oh ya, Pa ... apa aku boleh tanya sesuatu?" Ardila menoleh ke arah Arkha yang sudah mulai menyantap makanannya.
"Iya... apa, Sayang?"
"Kalau boleh aku tahu, bagaimana sebenarnya hubungan pertemanan papa dengan Om Alfin di masa lalu, Pa?"
"Uhuk, uhuk!" Arkha terlonjak kaget mendengar pertanyaan Ardila, dan dia seketika tersedak karenanya.
"Minum dulu, Bang!" Mutiara mengambil gelas yang berisi air putih dan disodorkan ke hadapan suaminya.
"Kenapa pertanyaanmu seperti itu, Dila. Memangnya apa yang kamu ketahui tentang Om Alfin?" Arkha mengerutkan satu ujung matanya.
"Nggak ada, Pa. Sedikit aneh saja, kalau Om Alfin memang sahabat baik papa, kenapa aku tidak pernah melihat papa menemuinya?"
"Papa dan Om Alfin sama-sama sibuk, Dila. Kami belum ada waktu untuk bertemu. Om Alfin juga pasti masih sangat sibuk mengurus bisnisnya disini."
"Bisnis apaan, Pa? Setahuku dia hanya bekerja di sebuah bengkel reparasi mobil," bantah Ardila. Tentu saja dia menjadi sangat heran kenapa Arkha mengatakan kalau Alfin punya bisnis di kota itu, sedangkan tadi dia sendiri bertemu dengan Alfin, dan dia mengaku bekerja di bengkel milik Diaz.
"Bengkel reparasi mobil?" Mata Arkha melebar, dia tidak menyangka kalau Ardila tahu lebih banyak tentang Alfin dari pada dirinya. Meskipun Rendy sudah mendapat informasi dan mengatakan kalau Alfin memang sudah keluar dari penjara, tetapi dia sendiri tidak tahu, siapa yang membebaskan Alfin dari penjara dan ada dimana Alfin saat itu.
Tanpa banyak berbicara lagi, mereka lalu menyelesaikan makan malamnya dengan cepat.
Setelah makan, semuanya masuk ke kamar mereka masing-masing.
.
"Kakak tadi kemana? Kenapa pulangnya terlambat?" tanya Baruna yang seperti biasa, sebelum tidur akan masuk ke kamar Ardila untuk mengajaknya ngobrol dan saling bertukar keluh kesah.
Ardila mengusap wajahnya sambil membuang nafas panjang.
"Kakak tadi hampir kena musibah lagi."
"Hah, musibah ... musibah apa, Kak?"
"Kakak hampir diperkosa lagi sama Diaz."
"Apa ... Diaz?" Suara Baruna meninggi. Kedua matanya membulat mendengar pengakuan Ardila
__ADS_1
"Sstttt.....!" Ardila menempelkan telunjuknya di bibir Baruna.
"Jangan keras-keras, Una! Nanti papa dan mama bisa mendengar kita!" bisik Ardila.
Baruna mengangguk. "Ceritakan padaku apa yang sudah terjadi, Kak?" tanyanya penuh rasa ingin tahu dan mulai menurunkan nada suaranya, paham akan nasehat kakaknya.
Ardila lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hari itu kepada Baruna. Ardila juga menceritakan bagaimana justru Diaz berbalik membelanya dari Daniel yang juga berniat mencelakainya.
Baruna menghela nafas kasar. "Diaz dan Daniel memang benar-benar manusia laknat. Mereka sama-sama jahat!" geramnya.
"Kasihan, Flo. Aku semakin yakin kalau dia sangat terpaksa menerima perjodohannya dengan Daniel. Aku yakin Diaz atau pun Daniel pasti sudah memaksanya." Baruna meremas rambutnya kasar.
"Aku akan cari tahu, Kak. Aku akan membebaskan Flo dari jeratan dua manusia jahat itu!"
"Semua itu tidak akan mudah, Una. Selain papa dan anak buahnya yang akan terus mengawasimu, ancaman dari Diaz dan Daniel juga sangat berbahaya. Salah-salah, kamu bisa kena batunya lagi."
"Aku akan cari cara untuk menyelidikinya tanpa sepengetahuan papa, Kak. Mulai besok aku sudah mulai bekerja di kantor papa, itu artinya aku punya peluang untuk bisa keluar dari rumah." Baruna meyakinkan apa yang akan dilakukannya.
"Iya, Una. Sebisa mungkin Kakak juga akan berusaha membantumu memperjuangkan cintamu."
Baruna tersenyum. "Terima kasih, Kak. You are my best sister!" Baruna memeluk Ardila dengan erat.
"Hei, Kak. Kenapa kakak terlihat murung?" tanya Baruna ketika menyadari Ardila memasang wajah sayu, seperti ada sesuatu yang tengah dipendamnya sendiri.
"Una, kenapa Kakak sedikit curiga sama Om Alfin, ya?" Ardila mengungkapkan keraguan yang masih mengganjal di kepalanya.
"Memangnya ada apa, Kak?"
"Entahlah, Una. Setiap kali bertemu dengannya, Kakak seperti merasa ada yang tidak biasa. Kakak merasa punya ikatan dengannya."
"Hmmm ..." Baruna mengerutkan keningnya.
"Papa juga selalu terlihat gugup kalau kakak bertanya tentang Om Alfin. Sepertinya ada yang disembunyikan sama papa dan mama tentang Om Alfin."
"Kita akan sama-sama cari tahu, Kak." Baruna menjentikkan jarinya.
"Kakak tadi bilang Om Alfin bekerja di bengkel Diaz, kan? Aku yakin antara Diaz, Om Alfin, Flo dan juga Daniel pasti ada kaitannya."
"Iya, Kakak rasa juga begitu." Ardila menganggukkan kepalanya. Dia yakin bersama Baruna dia bisa mencari jawaban atas semua rasa penasaran yang selama ini dirasakannya tentang Alfin.
__ADS_1