Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #69 Menemukan Titik Terang


__ADS_3

Genta tersenyum penuh arti. "Iya, dulu aku bersama Rendy adalah asisten kepercayaan Bos Arkha. Dan Baruna, dia sudah seperti anakku sendiri," sahutnya.


"Lalu kau ... apa hubunganmu dengan Baruna, Flo? Apa kalian pasangan kekasih?" Genta lanjut bertanya.


"Saya dan Baruna ... ee ... kami ... " Flo tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena Diaz menatapnya dengan sangat tajam. Sorot mata Diaz jelas mengisyaratkan agar Flo tidak bercerita apapun kepada Genta.


"Maaf, kami bukan siapa-siapa, Capt. Kami permisi," pungkas Diaz hendak segera beralih dari Genta. Diaz kembali merangkul pundak Flo dan mengajaknya untuk segera keluar dari klinik itu.


"Tunggu, Flo!" cegat Genta menghadang langkah Diaz dan Flo.


"Tadi kalian bilang kalau Baruna adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh Flo, kan? Kalau memang iya seperti itu kenapa kalian tidak menuntut tanggung jawabnya? Kalian berdua melakukan kesalahan besar apabila menyembunyikan semua ini dari Baruna!" sergah Genta.


Mendengar apa yang dikatakan Genta, air mata kembali tumpah membanjiri pipi Flo. Sejujurnya dia sendiri tidak ingin menyembunyikan semuanya dari Baruna. Justru, dia sangat ingin Baruna mengetahui akan kehamilannya.


"Baik Akha maupun Baruna, mereka adalah orang-orang yang baik, mereka tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun. Kalau kamu membenci Keluarga Waradana karena menganggap Arkha yang sudah menghancurkan Rivaldy's Company, aku pastikan sekali lagi kalau tindakanmu itu salah, Diaz! Aku tahu pasti apa penyebab kebangkrutan perusahaan papamu itu," ujar Genta lagi.


"Anda tidak perlu mencoba menjelaskan apapun kepada kami, Capt," elak Diaz. "Anda adalah bekas orang kepercayaan Arkha, pastinya anda akan membela dan menceritakan hal yang baik-baik saja tentangnya bukan?" seringai Diaz ketus.


"Ayo, Flo. Kita harus segera pergi dari sini!" Diaz memalingkan wajahnya dari Genta dan kembali memapah Flo untuk mengajaknya meninggalkan klinik itu.


"Sebentar, Kak!" Flo melepaskan tangan Diaz yang merangkul pundaknya. "Tidak ada salahnya kalau kita mencoba mendengar penjelasan Kapten Genta!" tegas Flo.

__ADS_1


"Sewaktu papa meninggal, bukankah kita masih terlalu kecil, Kak? Kita belum begitu mengerti kejadian apa yang sebenarnya terjadi dulu, dan membuat perusahaan papa harus gulung tikar. Kurasa Kapten Genta bisa memberi kita informasi yang benar terkait kehancuran perusahaan papa."


Sejenak Diaz terdiam dan mencoba memikirkan saran yang disampaikan Flo. Mereka memang masih sangat kecil ketika kejadian pahit itu menimpa keluarganya. Apa yang membuat dia begitu membenci Arkha selama ini, juga adalah berdasarkan cerita orang lain yang mereka ceritakan ulang kepadanya. Bisa saja, banyak fakta yang mereka tidak ketahui kebenarannya.


"Ayo kita duduk dan berbicara sebentar, izinkan aku meluruskan semua permasalahan ini," sela Genta. Melihat keraguan dua orang di hadapannya, dia kembali membujuk.


Setelah melewati beberapa perdebatan panjang, akhirnya Diaz bersedia mendengarkan cerita Genta. Di ruang tunggu klinik itu, mereka bertiga duduk dan saling berbagi cerita disana. Dengan berbagai fakta dan nasehat, Genta terus berusaha meyakinkan Diaz dan Flo bahwa kebencian Diaz terhadap Arkha adalah sebuah kesalah pahaman belaka.


Beberapa menit lamanya ketiganya sangat serius berbincang disana. Genta juga menceritakan bagaimana kisah permusuhan Arkha dengan Alfin di masa lalu dan bagaimana upaya liciknya yang sudah sengaja mencoba merebut perusahaan Arkha. Setelah menjadi pimpinan di perusahaan tersebut, Alfin menjalin kerjasama dengan Aryo Rivaldy, akan tetapi kerjasama yang mereka jalankan penuh dengan kecurangan yang berbuntut pada penurunan proforma perusahaan milik Arkha dan juga keterpurukan perusahaan Rivaldy.


Diaz menghela nafas dalam dan mengusap wajahnya kasar.


"Iya, kamu benar, Diaz. Itulah sebabnya mengapa, setelah berhasil merebut kembali perusahaan itu dari tangan Alfin, Bos Arkha memutuskan semua kontrak kerjasamanya dengan perusahaan papamu yang notabene saat itu sangat tidak amanah dan dipenuhi berbagai kecurangan." Genta terus menerangkan ceritanya.


"Apa semua cerita anda bisa saya percaya, Capt?" Diaz masih terlihat ragu.


"Aku sangat percaya dengan semua cerita Kapten Genta, Kak. Aku yakin semuanya memang hanya kesalahpahaman saja," tukas Flo menyela.


"Tapi sayangnya Om Alfin sudah tiada, bagaimana kita bisa mencari bukti bahwa penjelasan Kapten Genta itu benar atau hanya kebohongan?" Diaz menekan keningnya. Satu-satunya orang yang seharusnya bisa membuktikan bahwa cerita Genta memang benar hanyalah Alfin. Namun, Alfin saat ini sudah meninggal dunia akibat ditembak oleh Daniel.


"Alfin tidak perlu menjelaskan apapun, Diaz. Semua kesalahan yang diperbuat Alfin selama hidupnya sudah dia bawa ke liang kubur. Dia sudah menerima karma atas semua perbuatan buruknya," ucap Genta sedikit sinis.

__ADS_1


"Jadi, anda sudah tahu kalau Om Alfin sudah meninggal?" tanya Diaz heran.


"Tentu saja aku tahu."


"Apa itu artinya juga, anda tahu mengapa kami sampai ada di pulau ini?"


"Awalnya aku tidak tahu. Tapi, setelah aku bertemu kalian disini, sekarang aku paham apa yang sedang kamu pikirkan, Diaz." Genta menatap wajah Diaz dan Flo bergantian dan kembali tersenyum penuh makna.


"Sebaiknya kalian berdua pulanglah ke kota. Percayalah padaku, Bos Arkha dan Baruna tidak akan pernah menuntutmu, Diaz," saran Genta.


Diaz tidak langsung menjawab tetapi dia menoleh ke arah Flo dan menatap adiknya yang terlihat tersenyum kepadanya.


"Saran Kapten Genta benar, Kak. Kita tidak seharusnya bersembunyi dan menjadi pengecut disini. Kita harus segera kembali pulang ke kota. Apapun yang nanti akan terjadi disana, kita harus siap dengan segala resikonya," ucap Flo meyakinkan.


Diaz kembali menggeleng. "Bagaimana kita bisa segera pulang ke kota, Flo? Kita baru mulai bekerja disini, kita belum punya tabungan untuk bisa membeli tiket pesawat ataupun kapal untuk kita bisa pergi ke kota," balas Diaz dengan keraguannya.


"Malam ini, aku dan penumpang cruise akan overnight satu malam di pulau ini. Besok kami akan berlayar lagi menuju ke kota. Kalau kalian mau, kalian bisa menumpang di kapalku. Besok kita akan sama-sama pergi ke kota. Dan aku sendiri yang akan mengantar kalian bertemu Bos Arkha dan Baruna," potong Genta berusaha meyakinkan Diaz dan Flo.


Diaz dan Flo sama-sama tersenyum dan menganggukan kepala. Kini, mereka berdua tidak ingin menolak lagi untuk kembali ke kota. Kehadiran Genta sudah membawa sebuah titik terang dan harapan baru bagi mereka.


"Baruna! Besok aku akan kembali ke kota. Semoga saja kamu bisa menerima bayi yang aku kandung ini, Bar." Flo tersenyum bahagia, ada secercah harap yang kini memenuhi hatinya. Setelah Diaz sadar akan kesalahpahamannya terhadap Arkha Waradana, ada seberkas cahaha asa menerangi jiwanya dan dia sangat berharap untuk bisa hidup tenang di kota kelahirannya tanpa dihantui dendam tak beralasan dari kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2