Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #32 Jauhi Dia!


__ADS_3

Malam itupun berlalu dan berganti pagi yang sejuk.


Baruna perlahan membuka matanya yang terasa berat. Beberapa kali ia mengerjap karena pandangannya sedikit kabur. Akibat pengaruh anastesi pasca operasi yang dijalaninya, membuat Baruna merasakan pusing kini mendera kepalanya. Spontan ia mengangkat tangannya dan menyentuh keningnya lalu mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya.


Baruna juga berusaha menggerakkan kakinya yang terasa kaku dalam balutan perban coklat. Luka bekas tembakan itu terasa perih dan nyeri setelah pengaruh obat bius hilang dari tubuhnya.


"Una! Kamu sudah bangun, Sayang."


Sapaan hangat itu menyadarkan Baruna kalau dia baru saja melewati sebuah malam mencekam dan sangat darurat yang nyaris menghilangkan nyawanya.


"Mama!" Baruna menoleh ke arah suara di sebelahnya lalu tersenyum tipis saat melihat sosok wanita yang sudah melahirkannya itu ada disana, dan tersenyum menatapnya.


"Untunglah kamu baik-baik saja, Una. Mama sangat mencemaskanmu." Mutiara mulai bisa mengulas senyum dan merasa sedikit lega melihat putranya sudah sadar.


Dengan lembut diusapnya wajah Baruna yang masih terlihat pucat setelah kehilangan cukup darah pasca penembakan yang terjadi terhadapnya.


"Jangan terlalu mengkhawatirkanku, Ma! Aku tidak apa-apa," ucap Baruna dengan suara pelan.


"Bagaimana mama tidak khawatir, Una. Kamu hampir saja kehilangan nyawamu," ucap Mutiara.


"Peluru-peluru itu bukan apa-apa, Ma. Semua itu hanya mainan anak kecil dan tidak akan membuatku mati," pungkas Baruna menampik kecemasan mamanya yang menurutnya agak berlebihan.


Mutiara hanya tersenyum kecut tidak ingin menanggapi sikap acuh putranya yang terkesan meremehkan kejadian yang menimpanya tadi malam.


"Ponselku!" Baruna terperanjat. Tangannya seketika meraba-raba semua bagian ranjang di sebelahnya, berharap menemukan telepon selulernya ada di dekatnya saat itu.


"Dimana ponselku, Ma?" tanyanya kepada Mutiara. Sadar akan keadaanya yang masih lemah dan harus menjalani perawatan di rumah sakit, sontak ia teringat akan seseorang yang harus segera dihubunginya.


"Aku belum menghubungi, Flo. Dia pasti tidak tahu apa yang terjadi denganku dan pastilah dia menungguku pagi ini, karena biasanya jam segini aku akan menjemputnya untuk mengantarnya ke kantor tempat dia bekerja," batin Baruna. Dia merasa bersalah apabila tidak mengabari Flo kalau hari itu dia tidak bisa datang menjemputnya.


"Untuk apa kau mencari ponselmu, Una? Apakah ada orang yang sangat penting yang harus kau hubungi sekarang?" sergah Mutiara merasa sedikit bingung dengan sikap putranya yang terlihat panik mencari-cari ponselnya.


"A-aku hanya mau menghubungi temanku dan mengabari kalau aku ada di rumah sakit sekarang ini, Ma," sahut Baruna mencari alasan.


"Apa temanmu itu begitu istimewa sampai kau harus segera menghubunginya, Una?" Mutiara menggelengkan kepalanya semakin heran dengan tingkah Baruna yang terlihat gugup saat menjawab pertanyaannya.


"Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi menghubungi temanmu itu, Una! Papa melarangmu berhubungan dengannya!" sela seorang pria yang baru saja masuk ke ruang perawatan Baruna.


"Gara-gara gadis itu kamu jadi seperti ini, Una! Jadi, Papa minta sebaiknya mulai sekarang kamu jauhi dia. Masih banyak gadis lain yang bisa kau jadikan kekasihmu. Papa tidak setuju kamu dekat denganya lagi!" sambung Arkha menegaskan nasehatnyanya.

__ADS_1


Baruna menautkan kedua alisnya dan membuang nafas kasar mendengar semua yang diperintahkan papanya.


"Apa yang sudah papa ketahui tentang Floretta, Pa?" tanya Baruna kembali dengan suaranya yang masih terdengar lemah. Mendengar ucapan Arkha, dia tahu kalau papanya itu sudah tahu akan hubungannya dengan Flo.


"Memang tidak banyak yang papa ketahui tentang gadis itu, Baruna. Tapi yang pasti, kedekatanmu dengannya hanya akan membawa petaka buruk bagi kamu dan juga kita semua. Karena itulah, papa nggak mau kamu menjalin hubungan lagi dengan gadis yang bernama Floretta itu!" Arkha mengulang penegasannya.


"Petaka buruk?" Baruna menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Petaka buruk apa, Pa?" tanya Baruna dengan sedikit menyeringai.


"Kau tertembak dan sampai seperti sekarang gara-gara dia, bukan? Semua ini sudah cukup jadi alasan agar kau segera menjauhi wanita itu!" Arkha meninggikan intonasi suaranya.


"Tidak, Pa. Semua ini bukan gara-gara Flo. Tapi laki-laki yang menembakku itulah yang mengada-ada dan mengatakan kalau Flo itu adalah calon istrinya," sanggah Baruna, tidak sependapat dengan Arkha.


"Laki-laki yang menembakmu itu bukan orang sembarangan, Una. Akan lebih baik kalau kita bisa menghindari masalah dengannya, dan itu sebabnya Papa mau kamu memutuskan semua hubungan dengan Floretta!" tegas Arkha lagi.


"Siapa dia, Bang? Siapa orang yang sudah menembak putra kita itu?" potong Mutiara penuh rasa ingin tahu.


"Dia ... Daniel Danero, seorang pimpinan mafia narkotika yang sangat ditakuti di kota ini," terang Arkha membeberkan semua hal yang dia ketahui kepada Mutiara sekaligus juga Baruna.


"Apa?!" Mutiara dan Baruna tersentak kaget bersamaan dan keduanya juga sama-sama membulatkan matanya. Bagi mereka tentu nama itu juga terdengar tidak asing lagi.


"Iya! Maka dari itu, sebisa mungkin kita jangan sampai berurusan lagi dengan orang itu. Kita tidak pernah tahu apa yang dia bisa perbuat terhadap kita. Pengaruh seorang Daniel sangat besar di dunia kriminal di kota ini, bahkan hingga ke manca negara. Dia sangat kejam dan bertangan dingin. Jadi memang lebih baik kita jangan melakukan tindakan apapun yang bersinggungan dengannya!" Arkha terus menegaskan petuahnya.


Baruna terdiam mendengar semua nasehat dari kedua orang tuanya. Untuk sesaat suasana menjadi hening diantara ketiga orang yang tengah ada di dalam ruang perawatan itu.


Mutiara dan Arkha sejenak saling menatap. Walau tanpa berucap, hati keduanya sama-sama berat saat harus melarang putra mereka berhubungan dengan gadis yang disukainya. Terlebih, selama ini mereka memang tidak pernah mengekang anak-anaknya untuk urusan hati.


Baruna mengusap wajahnya. Pikirannya kacau dan kepalanya menjadi semakin pusing. Setelah mendengar bujukan dan larangan dari kedua orang tuanya, kegalauan mendera di kalbunya.


"Aku tidak mungkin menjauhi Flo. Aku sangat mencintainya," batin Baruna sangat ingin menentang semua yang ditegaskan papanya. Seketika ia menjadi bimbang menentukan apa yang harus dilakukannya setelah mengetahui kebenaran akan seorang pria yang sudah menghadang dan menembaknya tadi malam.


"Aku harus tetap memperjuangkan Flo jadi milikku. Tidak akan aku biarkan laki-laki yang bernama Daniel itu menyakitinya!" Baruna terus berfikir dan semakin membesarkan tekadnya untuk bisa memperjuangkan cintanya.


Teringat akan cerita Flo bahwa kakaknya Diaz, pernah mencoba menjualnya kepada seseorang, membuat Baruna yakin akan kesimpulannya bahwa Daniel lah pria yang dimaksud oleh Flo selama ini.


Flo juga pernah mengatakan padanya bahwa Diaz adalah pimpinan penjahat dan suka membuat onar. Sudah pasti, seorang mafia seperti Daniel ada di belakang Diaz selama ini, dan selalu memberi dukungan kepadanya.


****


Pagi yang sama di rumah kontrakan Floretta.

__ADS_1


Raut gelisah tersirat di wajah Flo kala itu. Sudah lebih dari tiga puluh menit Floreta berdiri di teras rumahnya, menunggu Baruna yang seperti biasa akan datang menjemputnya untuk berangkat bekerja bersama-sama.


Beberapa kali Flo melirik jam tangannya dan menoleh ke arah jalan di depan rumahnya, berharap sang pujaan hati yang tengah dinantikan segera datang menjemputnya.


"Sudah jam segini Baruna belum datang juga. Tidak biasanya dia setelat ini." Flo mondar-mandir di depan pintu pagar rumahnya dan semakin gelisah mengingat dia sudah terlambat untuk tiba di kantornya.


"Ponsel Baruna juga dari tadi malam tidak aktif. Pesan yang aku kirim hanya bercentang satu. Apa yang terjadi sama Baruna?" Flo menatap layar ponselnya. Tiba-tiba kecemasan itu kini muncul di benak Flo. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya itu.


"Atau jangan-jangan Baruna sengaja menghindariku? Setelah aku menyerahkan segala-galanya untuknya, apa sekarang dia akan meninggalkan aku?" Sekilas fikiran buruk itu melintas di kepala Flo. Dia sangat khawatir Baruna akan lari darinya setelah dia mendapatkan dirinya seutuhnya.


"Oh, Tuhan! Semoga Baruna tidak seperti itu. Aku sangat mencintainya, semoga saja dia tidak sedang mempermainkan aku," doa Flo dalam hati. Tanpa diminta setetes air mata jatuh dari ujung matanya. Takut, khawatir bercampur kecewa berkecamuk di dalam hatinya. Dia tidak berani membayangkan apabila Baruna benar-benar lari darinya serta melupakan janjinya.


Dari ujung gang di depan rumah itu nampak sebuah mobil melaju lambat dan berhenti tepat di depan rumah kontrakan Flo.


Bergegas Flo mengarahkan pandangannya ke mobil itu dan dia terkejut melihat dua orang pria turun dari sana.


"Siapa mereka?" Flo melebarkan matanya karena dua orang pria tidak dikenal itu kini semakin mendekat ke arahnya.


"Ayo, Flo! Kamu ikut kami sekarang!" Tanpa basa-basi salah seorang dari kedua pria itu menyergah dan menatap dengan tatapan yang terlihat menyeramkan ke arah Flo.


"Siapa kalian, dan untuk apa aku harus ikut bersama kalian?!" bentak Floretta sambil berjalan mundur beberapa langkah saat melihat kedua pria itu sudah menerobos masuk ke halaman rumahnya.


"Tidak usah banyak tanya! Kau harus ikut dengan kami sekarang!" bentak pria yang satunya sambil mendesak Flo dan menarik lengannya.


"Tidak! Aku tidak kenal siapa kalian! Aku tidak mau ikut dengan kalian!" teriak Flo sambil meronta berusaha melepaskan tangan kekar pria yang mencengkram kuat tangannya.


"Kita paksa saja dia!" pekik pria satunya sambil ikut memegang tangan Flo lebih kuat.


"Lepaskan aku! Jangan sakiti aku! Tolong.....!!"


Flo kembali meronta dan berteriak ketakutan. Dia sangat berharap ada orang yang mendengar teriakannya dan menolongnya dari cengkraman dua pria tak dikenalnya tersebut.


"Diam!" bentak seorang pria itu lagi seraya membekap mulut Flo dengan tangannya.


"Uhhpp!!" Flo tidak mampu lagi berteriak ataupun melawan. Tenaganya tentu tidak mampu menandingi dua pria kekar yang menarik dan menyeretnya dengan paksa.


Suasana di sekitar rumah Flo kebetulan sangat sepi kala itu, sehingga dua pria itu dengan mudah membawa Flo masuk ke dalam mobil mereka, tanpa ada seorangpun yang melihatnya.


Dengan kecepatan tinggi mobil itu kemudian melaju, meninggalkan rumah Flo.

__ADS_1


__ADS_2