
Ardila ikut menempelkan telinganya di pintu itu.
"Benar, Una. Kakak dengar seperti ada seseorang yang tengah disekap di dalam sana!" seru Ardila yakin akan pendengarannya.
"Kita harus masuk dan memeriksa apa yang terjadi di dalam, Kak!"
"Tapi pintu ini terkunci, bagaimana kita bisa masuk?"
"Akan aku dobrak pintu ini!"
Baruna lalu berdiri tepat di depan pintu itu dan mundur beberapa langkah seraya memasang kuda-kuda.
Braaakk!
Pintu itu pun ditendangnya dengan sangat keras sehingga kini terbuka lebar.
"Disini sangat gelap, Una."
Tangan Ardila meraba-raba dinding ruangan, untuk mencari saklar lampu disana.
Ceklek!
Ardila berhasil menemukan tombol on, sehingga semua lampu di ruangan itu kini menyala terang.
Mata Baruna dan Ardila terbelalak. Ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah itu, mereka melihat beberapa orang wanita berpakaian pelayan, tergeletak dan terkulai lemas di lantai serta di sofa ruang tamu. Barang-barang di ruangan itupun terlihat sangat berantakan dan ada bau amis tercium dari bercak darah yang tampak berceceran di lantai.
"Sepertinya rumah ini kerampokan, Una," terka Ardila sambil memeriksa beberapa orang pelayan yang tengah tidak sadarkan diri di ruangan itu.
"Pelayan-pelayan ini tidak terluka sedikitpun. Kakak rasa mereka diberi obat bius. Mereka bukan pingsan, tapi tertidur sangat pulas." Ardila bisa merasakan para pelayan itu sedang tertidur dalam pengaruh obat bius.
"Lalu siapa yang terluka, Kak? Kenapa banyak bercak darah disini?" tanya Baruna semakin penasaran.
Ardila menggeleng, dia pun sangat terkejut dan seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di tempat itu.
Baruna dan Ardila terus berjalan mengendap-endap, berjaga-jaga serta menyelidik semua sudut di dalam rumah itu.
Mereka menduga para perampok masih ada di dalam rumah itu dan bisa jadi juga akan ikut menyerang mereka.
__ADS_1
"Aaaaaa....!"
Ardila berteriak seraya menutup kedua mata dengan telapak tangannya ketika sampai ruang tengah. Ada sesosok pria terlihat terkapar di lantai dalam keadaan bersimbah darah.
"Una.... lihat ini!" serunya bergidik takut, melihat semua yang ada di depan matanya.
Baruna bergegas menghampiri Ardila, lalu berjongkok di samping tubuh pria yang sudah tidak bergerak itu, untuk memeriksa kondisinya. Pada seluruh bagian di tubuh pria itu tampak dipenuhi luka bacokan senjata tajam dan juga luka akibat pukulan benda tumpul.
Baruna memperhatikan wajah pria itu. "Kak, bukankah pria ini yang hampir mencelakai kita waktu itu?" Baruna mengerutkan keningnya ketika menatap wajah pria yang berlumuran darah, penuh luka di hadapannya.
"Iya..... benar, Una. Pria ini yang dipanggil Oscar oleh Om Alfin waktu itu." Ardila bisa mengenali pria itu dari sekujur tubuhnya yang dipenuhi tato.
"Apa dia masih hidup, Una?"
"Pria ini masih bernafas, badannya juga masih terasa hangat. Hanya saja dia sudah terlalu banyak mengeluarkan darah."
Baruna meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung pria itu serta memerksa peergelangan tangannya dan merasakan nadinya masih berdenyut.
"To-long.....!"
Ardila dan Baruna lagi-lagi membelalakan mata lebar-lebar, betapa terkejutnya mereka ketika tiba di sebuah ruangan yang menuju ke arah dapur, seorang pria terlihat tersungkur ke lantai dan dalam keadaan masih terikat pada sebuah kursi.
"Diaz...!" pekik Ardila. Dengan mudah dia bisa mengenali siapa pria yang kaki, tangan dan anggota badannya yang lain terikat pada kursi dan dalam posisi terguling di lantai serta kursi itu menindih tubuhnya.
Baruna dan Ardila bergegas mendekati Diaz yang terlihat tidak berdaya.
"Apa yang terjadi, Diaz?"
Baruna langsung menarik lakban berwarna hitam yang menempel menutupi mulut Diaz.
"Tolong lepaskan tali ini dulu!" seru Diaz berharap Baruna segera membebaskannya dari semua tali yang melilit di tubuhnya.
"Terima kasih karena sudah menolongku, Baruna," ucap Diaz setelah Baruna melepaskan semua tali yang mengikatnya.
Kendati Diaz sangat membenci Baruna, tetapi hari itu Baruna dan Ardila lah yang sudah menyelamatkannya, sehingga dia tetap merasa harus berterimakasih dan untuk sejenak melupakan kebenciannya itu.
"Katakan, apa yang terjadi, Diaz? Siapa yang melakukan semua ini?" Ardila langsung menyerang Diaz dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Ini semua ulah si bajingan keparat Daniel! Dia dan anak buahnya sudah menyerangku secara brutal saat aku sedang lengah!" geram Diaz.
"Dia sudah memberi obat bius kepada semua pelayan serta penjaga rumah ini. Dia juga sudah berhasil membantai semua anak buahku," ujar Diaz dengan nada sengit sambil mengibaskan pakaiannya dan menyentuh wajahnya yang juga tampak babak belur.
Baruna mengernyit. "Daniel?" tanyanya dengan kepala menggeleng pelan.
"Iya! Daniel sekarang sudah menjadi musuhku. Aku sudah tidak mau menjadi pengikutnya lagi, karena itulah dia ingin menghancurkan aku. Dia takut aku akan membocorkan kelemahannya kepada aparat berwajib."
"Bengkelmu kebakaran. Apa itu juga perbuatan Daniel?" tanya Ardila.
"Iya. Itu semua sudah direncanakannya untuk membuatku benar-benar hancur!" sengit Diaz lagi.
"Lalu kenapa kalian bisa tiba-tiba ada disini?" Diaz menatap Baruna dan Ardila bergantian dengan pandangan penuh rasa heran.
"Tadi kami ke bengkelmu untuk menemui Om Alfin. Tapi orang-orang disana mengatakan kalau bengkelmu sudah tutup jam dua siang tadi," jelas Ardila.
"Om Alfin....." Diaz tersentak dan matanya membulat. "Aku seharian ini tidak ke bengkel. Om Alfin yang mengurus bengkel hari ini. Bagaimana keadaannya, apa dia selamat dari kebakaran?" Ada kekhawatiran juga terlihat di mata Diaz.
"Menurut informasi di TKP, tidak ada korban jiwa. Bengkelmu sedang kosong," terang Baruna.
"Iya. Setiap Hari Jumat, bengkel itu sudah tutup jam dua siang." Diaz merasa sedikit lega mendengar berita yang disampaikan Baruna.
"Floretta...!" Mata Diaz kembali melebar. "Daniel sudah membawa Flo pergi dari sini!" pekik Diaz panik ketika teringat akan adiknya.
"Floretta?" Baruna juga tersentak mendengar apa yang diungkapkan Diaz.
"Apa Daniel menculik Flo?" tanya Baruna ikut merasa gusar terhadap Daniel, sekaligus cemas akan keadaan Flo.
"Iya! Aku akan segera menyusul Daniel. Aku harus menyelamatkan Flo!" Diaz bergegas melangkah dengan sedikit tertatih, karena tubuhnya juga terluka akibat dihajar oleh Daniel dan anak buahnya, sebelumnya.
"Tunggu, Diaz! Kami akan ikut denganmu. Kita akan sama-sama menyelamatkan Flo dari penjahat itu!" cegah Baruna sambil melirik ke arah Ardila yang juga mengangguk setuju menatap ke arahnya.
"Aku tahu kemana Daniel akan membawa, Flo!"
Diaz juga mengangguk. Ada rasa senang di hatinya karena Baruna dan Ardila akan membantunya untuk menyelamatkan Floretta dari cengkraman Daniel.
Ketiganya lalu bergegas masuk ke dalam mobil Baruna dan segera meluncur meninggalkan rumah Diaz.
__ADS_1