Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #43 Diusir


__ADS_3

Fajar menyingsing, pagi hari mulai menyapa. Meski matahari belum sepenuhnya beranjak dari peraduan, tetapi kehidupan di kota sudah terlebih dahulu bangun, setelah sempat beristirahat sejenak tadi malam. Semua geliat kehidupan kota bisa terlihat dari mulai padatnya jalanan oleh lalu-lalang kendaraan dan juga orang-orang yang berkeliaran di berbagai tempat untuk memulai kegiatannya mengumpulkan rejeki hari itu.


Jalanan memang masih cukup gelap. Di beberapa titik, bahkan lampu penerangan jalan juga masih tampak menyala.


Di bawah salah satu tiang lampu di sisi jalan itu, Floretta menyandarkan punggungnya sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Sudah cukup jauh dia berlari, sehingga dia memutuskan berhenti sejenak di tempat itu.


"Sepertinya disini sudah aman. Daniel dan anak buahnya pastilah belum bisa menyusulku sampai disini." Flo mengusap dadanya seraya menghembuskan nafas letihnya.


"Untung saja aku bisa menyelinap ke dalam mobil laundry itu, kalau tidak aku pasti sudah ditangkap oleh para penjaga di rumah Daniel," gumam Flo merasa sangat bersyukur bisa keluar dari rumah Daniel, dengan tanpa halangan yang berarti.


Sebelum berhasil kabur dari rumah Daniel, Flo sempat merasa putus asa karena tidak tahu bagaimana cara melewati segala macam pengamanan yang sangat ketat disana. Akan tetapi, nasib baik masih berpihak kepadanya.


Menjelang subuh, seperti biasa sebuah mobil laundry memang selalu datang ke rumah itu untuk mengantar serta mengambil cucian. Di dalam box tempat linen di mobil itulah Flo bersembunyi, dan ia berhasil keluar dengan selamat tanpa ketahuan oleh siapapun dari sana.


Ketika mobil itu kembali berhenti untuk mengantar serta mengambil cucian di tempat lain, saat itulah Flo keluar secara diam-diam dari dalam mobil box itu dan kini dia berada sudah cukup jauh dari kediaman Daniel.


"Tapi aku bingung harus pergi kemana sekarang." Flo menyeka peluh yang bercucuran di keningnya. Walau sudah bisa keluar dengan selamat dari sangkar emas Daniel, sekarang justru dia tidak tahu tempat mana yang akan dia tuju selanjutnya.


"Aku tidak mungkin kembali ke rumah kontrakanku. Diaz dan Daniel pasti akan sangat mudah menemukanku disana." Flo kembali berpikir dan dia semakin tidak tahu harus pergi kemana saat itu. Terlebih, dia juga tidak bisa berbuat banyak atau mencoba menghubungi seseorang. Jangankan ponsel, uang satu rupiah pun tidak ada di tangannya, karena dia meninggalkan rumah Daniel tanpa membawa apapun selain pakaian yang melekat di badannya.


"Tempat ini juga belum tentu aman buatku. Daniel dan anak buahnya bisa kapan saja mencari dan menangkapku." Sambil terus berpikir, Flo kembali mengayun langkahnya pelan menyusuri trotoar di pinggir jalan itu.


.


Matahari kini sudah mulai menampakkan cahayanya, hari pun sudah semakin siang.


Tanpa memperdulikan rasa lelahnya, Flo terus berjalan di antara orang-orang yang sudah mulai sibuk dengan segala macam aktivitasnya.


Hari memang masih pagi, akan tetapi hembusan angin terasa hangat di tempat itu.


"Huh, disini panas sekali," keluh Flo sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke wajahnya untuk mengurangi panasnya sengatan matahari pagi itu.


Melihat situasi sekelilingnya, Flo menyadari kalau kalau dia sedang berada dekat dengan area pantai.


Di ujung jalan yang dia lewati, Flo menghentikan laju kakinya. Flo diam terpaku kala matanya tertuju pada sebuah gedung perkantoran megah yang ada di depan tempatnya berdiri saat itu. Sebuah billboard besar bertuliskan nama sebuah perusahaan pengalengan ikan ternama, terpampang jelas di area depan gedung tersebut.


"Ini kan perusahaan milik papanya Baruna?" Flo menggumam dan bibirnya seketika melengkung membentuk sebuah senyuman, karena dia merasa berada di tempat yang tepat.

__ADS_1


"Aku akan masuk ke gedung itu. Aku yakin aku bisa mencari informasi tentang Baruna disana," batinnya sedikit lega. Flo merasa sangat senang karena dia yakin akan menemukan banyak informasi tentang pria yang dicintainya di kantor itu.


Dengan berjuta harap, Flo melanjutkan langkahnya memasuki area gedung. Di depan portal entrance utama, Flo kembali menghentikan langkahnya.


"Ini masih terlalu pagi, mungkin saja kantor ini belum buka. Sebaiknya aku tunggu saja dulu disini."


Flo lalu duduk di pinggir jalan, di depan pos jaga security gedung itu untuk menunggu jam operasional kantor itu buka.


"Mbak, mau cari siapa?" Sebuah suara mengejutkan Flo. Tanpa dia sadari, seorang security yang bertugas di portal itu, sedari tadi memperhatikannya.


"Ee ... ee ... saya ... saya menunggu kantor ini buka, Pak. Saya mau menemui teman saya yang bekerja disini," sahut Flo gugup karena tidak memberi alasan yang sebenarnya.


"Mbak sudah buat janji dengan teman Mbak itu ya?" selidik satpam itu menerka.


"Su-sudah, Pak." Flo tergagap lagi, karena pastinya dia tengah berbohong. "Kalau aku tidak mengatakan sudah punya janji, pastilah satpam itu tidak akan mengizinkan aku masuk ke gedung itu," pikirnya.


Satpam itu mengangguk. "Kenapa nggak masuk dan tunggu di dalam saja, Mbak? Sebagian karyawan disini sudah pada datang kok," ujar satpam itu ramah.


"Memangnya boleh ya, Pak, saya menunggu di dalam?" tanya Flo ragu.


"Ayo mbak silahkan masuk!" Satpam itu menengadahkan tangannya, mempersilahkan Flo masuk ke lobby gedung itu dan menunggu di dalam.


"Terima kasih banyak, Pak," ucap Flo tersenyum senang. Dengan diizinkan masuk oleh satpam itu, berarti tujuannya mencari informasi tentang Baruna di kantor itu akan bisa terwujud.


"Mbak mau bertemu siapa?" tanya seorang resepsionis yang sedang bertugas di counter penyambut tamu, ketika melihat Flo tiba di lobby itu.


"Saya mau bertemu teman saya, Mbak. Tadi saya sudah janjian dengannya, tapi katanya dia belum sampai," ujar Flo berbohong agar reseptionis itu banyak bertanya lagi kepadanya.


"Ooh, baiklah. Silahkan duduk dulu, Mbak!" ucap Reseptionis itu singkat dan terlihat cuek. Dia tidak terlalu peduli akan kehadiran Flo, karena dia masih sangat hectic dengan pekerjaannya yang lain.


Melihat sikap acuh resepsionis itu, Flo mengurungkan niatnya bertanya tentang Baruna kepadanya. Flo memilih duduk di kursi ruang tunggu. Akan tetapi, dia sendiri bingung siapa yang sedang dia tunggu disana. Dia hanya berharap bisa bertemu dengan Baruna di kantor itu.


Beberapa menit kemudian, dari pintu utama lobby itu terlihat seorang pria paruh baya memasuki area kantor.


Pria itu melangkah tegap sambil mengangkat wajahnya tanpa sedikitpun menoleh ke sekelilingnya.


"Selamat pagi, Pak Rendy!" sapa receptionis kepada pria itu, yang tidak lain adalah Rendy.

__ADS_1


Rendy tetap memasang wajah datar tanpa membalas sapaan satu orangpun di lobby itu. Tentu, hal itu bukanlah merupakan hal asing bagi karyawan disana, karena Rendy memang tidak pernah bersikap ramah kepada siapapun di kantornya.


Rendy melebarkan langkahnya untuk segera masuk ke ruangan kerjanya. Namun, ketika melewati ruang tunggu, dia menghentikan langkahnya. Matanya melirik ke arah Flo yang tengah duduk disana.


Kedua alis Rendy tiba-tiba tersentak secara bersamaan, dengan mudah dia bisa mengenali siapa gadis yang tengah duduk di tempat itu.


"Hei, kenapa kamu bisa ada disini? Siapa yang mengizinkanmu masuk?" tanya Rendy ketus sambil memasang senyum sinis di bibirnya, menatap tajam ke arah Flo.


"Sa-sa-saya ..." Flo tergagap. Pertanyaan serta tatapan tidak senang Rendy seketika membuyarkan semua yang ada di pikirannya saat itu.


"Kau kesini berharap bertemu dengan Baruna, kan?" hardik Rendy masih dengan suara ketus.


"A-apa bapak tahu siapa saya?" tanya Flo heran. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ada orang yang mengenal dirinya, bahkan tahu tujuannya ada di kantor itu.


"Hmmm!" Rendy langsung mengangkat satu ujung bibirnya mendengar pertanyaan Flo.


"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini sebelum timbul banyak masalah lain lagi disini!" tegas Rendy mengusir Flo.


"Memangnya kenapa, Pak? Kenapa saya harus pergi? Apa ada yang salah dengan kehadiran saya disini?" tanya Flo bingung karena merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Gara-gara kamu, Bos Arkha dan keluarganya mengalami banyak masalah! Bahkan, Baruna dan Ardila juga hampir kehilangan nyawanya! Jadi, sekarang pergilah. Jangan pernah menginjakkan kakimu di tempat ini lagi!" bentak Rendy penuh penekanan.


"Apa ... Baruna hampir kehilangan nyawanya?!" Mata Flo membulat mendengar semua yang dikatakan Rendy.


"Tolong ceritakan pada saya, apa yang sudah terjadi dengan Baruna, Pak!" pinta Flo memelas dengan air mata yang tiba-tiba menggenang di sudut matanya. Rasa cemas dan khawatir seketika memenuhi hatinya.


"Apa semua itu ada kaitannya dengan Daniel? Apa dia yang mencelakai Baruna?" Pertanyaan bertubi-tubi itu meluncur begitu saja dari bibir Flo. Firasat yang dirasakannya ternyata benar. Baruna kini harus mengalami banyak masalah karena dirinya.


"Apa gunanya aku menceritakan semua itu sama kamu! Yang terpenting sekarang adalah kamu segera pergi dan jangan pernah kembali lagi ke tempat ini! Kau sama sekali tidak pantas untuk Baruna!" bentak Rendy semakin sinis.


Tanpa memperdulikan perasaan Flo yang terlihat semakin cemas, Rendy menarik tangan gadis itu dan menyeretnya keluar dari area lobby kantor itu.


"Tolong, Pak! Tolong jangan usir saya. Tolong katakan, dimana saya bisa bertemu dengan Baruna. Saya ingin minta maaf atas semua yang terjadi padanya!" Flo berusaha menahan air matanya dan terus memelas. Akan tetapi, Rendy sama sekali tidak memperdulikannya.


Rendy segera memalingkan wajahnya dan membalikkan badan membelakangi Flo, lalu bergegas masuk ke dalam kantornya.


Flo terduduk lemas di halaman kantor itu. Hatinya seketika gundah gulana, air mata akhirnya tumpah tak tertahankan lagi membasahi pipinya. Harapan untuk bisa bertemu Baruna di kantor itu, justru membawa kekhawatiran dan rasa bersalah semakin bergejolak, bercampur aduk di dalam benaknya.

__ADS_1


__ADS_2