Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #54 Terjadi Kebakaran


__ADS_3

Kemarahan menimbulkan kebencian, begitu pula kebencian akan menumbuhkan rasa dendam. Semua itulah yang kini tengah dirasakan oleh Daniel. Ejekan serta pengkhianatan yang dilakukan oleh Diaz, sudah mampu meluapkan lahar panas, bara angkara murka, meleleh di raga Daniel.


"Bersiaplah, Diaz! Bersiaplah menerima kehancuranmu. Aku sudah tidak sabar melihat dia menangis memohon ampun di kakiku! Hahaha.....!"


Daniel tergelak di antara beberapa orang kaki tangannya, yang siang itu tengah ada di dalam sebuah ruangan khusus di dalam rumahnya.


"Diaz sudah berani menentangku. Setelah dia berkhianat dan berhenti menjadi pengikutku, keberadaannya akan sangat membahayakan posisi kita. Kapan saja dia bisa berbelok dan berbalik melaporkan kita. Kalau dia membocorkan kelemahan kita kepada pihak berwajib, semua jaringan kita yang lain pasti akan dibekuk polisi!" Daniel berdecak, amarah semakin memuncak di jiwanya. Pembelotan Diaz, dianggap sebagai sebuah ancaman baginya dan juga seluruh jaringannya.


"John!" sebut Daniel, memanggil asisten kepercayaannya.


"Iya, Bos." John membungkuk di hadapan Daniel yang sedang duduk angkuh di kursi putarnya sambil mengangkat kedua kakinya di atas meja di hadapannya.


"Bagaimana semua persiapannya, apa sudah beres?" tanya Daniel dengan urat-urat di wajahnya yang terlihat mengeras.


"Sudah, Bos."


"Bagus!" puji Daniel seraya mengulas senyum licik.


"Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana dan bekerjalah serapi mungkin. Buat semua seperti sebuah kecelakaan sehingga tidak ada seorang pun yang tahu kalau kita adalah dalang dari semua kekacauan yang akan kita buat. Termasuk juga polisi! Jangan sampai ada petugas yang mencurigai kita, karena itu otomatis juga akan membahayakan kita semua!" Daniel menegaskan sebuah titah kepada semua anak buahnya.


"Siap, Bos. Saya juga sudah sebarkan anak buah kita untuk tetap mengawasi dari berbagai titik. Saya yakin, Diaz dan adiknya kali ini tidak akan bisa meloloskan diri." John ikut mengulum senyum kemenangan di bibirnya.


"Jangan lupa bekali diri kalian dengan senjata! Saat terdesak, semua itu akan sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan diri!" lanjut Daniel mengingatkan.


"Tentu, Bos!"


Bibir Daniel terus terangkat membentuk senyuman congkak dan penuh kemenangan.


"Bersiaplah untuk mati, Diaz! Malam ini juga, aku akan menghabisimu! Hahaha.....!" Daniel kembali tertawa nyaring. Sebuah rencana yang cukup matang sudah dipersiapkannya bersama anak buahnya untuk menghancurkan Diaz.


****


Waktu berjalan cepat, hari beranjak menuju sore. Matahari pun sudah mulai memiringkan posisinya menuju pangkuan senja.


Di kantor perusahaan milik Arkha, Baruna sudah mulai membereskan barang-barangnya dan akan segera pulang.

__ADS_1


"Pa, aku pulang duluan. Aku harus antar Kak Dila mencari beberapa keperluan untuk tugas proyek kampusnya," pamit Baruna kepada Arkha yang ketika itu terlihat masih sibuk membahas tentang beberapa pekerjaannya bersama Rendy.


"Baiklah. Kamu hati-hati dan segeralah pulang kalau urusan kalian sudah selesai!" sahut Arkha tanpa ada bantahan.


"Baik, Pa." Baruna bergegas keluar dari ruangan papanya dan meninggalkan kantor itu.


"Rendy, kamu ikuti Baruna dan Ardila! Aku yakin mereka berdua pasti berencana mencari tahu tentang Alfin. Awasi mereka dan jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan pada mereka!" perintah Arkha kepada asistennya.


Semenjak Ardila bertanya kepadanya prihal Alfin, Arkha sudah bisa menyadari kalau Ardila pasti akan berusaha mencari tahu informasi lain terkait Alfin. Karena itulah, dia memerintahkan Rendy agar selalu mengawasi dan mengikuti kemana anak-anaknya itu akan pergi.


"Baik, Bos!" sahut Rendy sigap.


Setelah mendapat perintah dari Arkha, Rendy bergegas memanggil salah seorang anak buahnya untuk diajaknya turut membuntuti Baruna.


.


Keluar dari kantor, Baruna langsung mengarahkan mobilnya ke sebuah cafe dimana Ardila sudah menunggu disana.


"Apa Kakak sudah lama menunggu?" tanya Baruna kepada Ardila yang kini sudah duduk di kursi penumpang di sebelahnya.


"Kita harus segera sampai, sebelum bengkel milik Diaz itu tutup, Una. Kakak ingin segera menemui Om Alfin."


"Baik, Kak." Baruna segera melajukan mobilnya menuju alamat bengkel milik Diaz.


"Aduh, jalanannya macet begini. Kapan kita akan sampai, Una?" Ardila sangat tidak sabaran, wajahnya tampak gelisah mengingat waktu mereka hanya beberapa menit tersisa untuk sampai di bengkel itu sebelum mereka tutup.


"Ahh, aku baru ingat ini weekend dan waktunya orang pulang kerja, Kak. Sudah pasti jalanan pada macet!" sungut Baruna kesal, sambil terus menekan klakson mobilnya yang hanya bisa berjalan merayap di tengah padatnya kemacetan jalan utama kota.


"Kita cari jalan pintas saja, Una!"


"Iya, Kak. Tapi kita tetap harus melewati kemacetan ini sampai traffict light di depan sana."


Beberapa menit terjebak dalam kemacetan, perlahan mobil itu bisa melewati sebuah traffict light dan Baruna membelokkan mobilnya ke sebuah jalan tikus yang lumayan bisa menghindarkan mereka dari kemacetan.


"Sial.... kenapa disini macet lagi?" Baruna menggerutu, ketika mereka sampai di jalan yang sudah tidak terlalu jauh dari alamat bengkel Diaz.

__ADS_1


"Sepertinya kita sudah terlambat, Una. Ini sudah lewat dari jam enam sore, bengkel itu pasti sudah tutup," sesal Ardila merasa kecewa karena kemacetan membuat mereka tidak bisa sampai di tujuannya tepat waktu.


"Benar, Kak. Tapi kita sudah sampai disini, bengkel itu tinggal hanya sekitar dua sampai tiga kilometer dari sini. Kita harus tetap kesana. Walaupun tempat itu sudah tutup, mungkin kita bisa cari informasi dari petugas jaga atau siapa saja yang kita temui disana, Kak." Meski sudah yakin bahwa mereka terlambat, tetapi Baruna tidak ingin mengurungkan niatnya untuk tetap pergi ke bengkel itu.


Mobil mereka kini benar-benar stuck di jalanan itu dan sama sekali tidak dapat bergerak. Bahkan di segala arah, kendaraan-kendaraan lainnya juga terlihat tidak bergerak.


"Sepertinya ada kejadian di depan sana, Una. Kemacetan ini tidak biasa," keluh Ardila karena menyadari mereka masih hanya diam di tempat semula.


Dari sisi jalan lain, sayup-sayup suara sirine darurat terdengar meraung. Semakin lama suara sirine itu semakin mendekat dan sebuah mobil pemadam kebakaran terlihat menyeruak di tengah kendaraan-kendaraan yang terjebak macet di tempat itu.


"Sepertinya di depan sana terjadi kebakaran, Kak," terka Baruna seraya membuka kaca mobilnya dan mengedarkan pandangannya keluar.


Tidak jauh dari posisi mereka saat itu, terlihat asap hitam mengepul, membubung tinggi ke udara. Beberapa orang juga terlihat panik dan hilir-mudik di sekitar area tersebut.


"Ada kejadian apa ya, Pak?" Ardila ikut membuka kaca mobil di sebelahnya dan bertanya kepada seseorang yang sedang melintas di trotoar dekat mobil mereka terjebak kemacetan parah.


"Itu ada kebakaran sebuah bengkel mobil di depan sana, Mbak," jawab orang itu.


"Bengkel mobil?" Ardila mengerutkan kedua alisnya.


"Iya, Mbak. Rivaldy Oto Repair mengalami kebakaran dan belum diketahui apa penyebabnya."


"Rivaldy Oto Repair?" Mata Ardila seketika membulat. Dia sangat terkejut mengetahui bahwa bengkel milik Diaz lah yang saat itu di lalap si jago merah.


"Ada apa, Kak?" Baruna segera menoleh dan menatap wajah Ardila yang terlihat sangat terkejut setelah bertanya pada seseorang disana.


"Bengkelnya Diaz kebakaran, Una," sahut Ardila lesu. Ada kecemasan yang kini tersirat di raut wajahnya.


"Apa?" Baruna juga terlonjak kaget.


"Kakak akan jalan kaki kesana untuk memastikan berita ini, Una!" Ardila menarik door handle di mobil itu untuk membuka pintu.


"Tunggu, Kak. Aku juga ikut!" cegah Baruna seraya meminggirkan mobilnya untuk lebih merapat ke sisi jalan dan memarkirkannya disana.


Baruna dan Ardila lalu turun dari mobilnya dan berjalan cepat dan menyeruak di antara ramai orang yang berkerumun menyaksikan kejadian kebakaran itu.

__ADS_1


__ADS_2