
Takk!
Takk!
Suara gelas dan botol kosong menghentak dan terdengar bersahutan saat benda-benda yang terbuat dari kaca itu diletakkan dengan kasar di atas meja bar.
Dibarengi dengan gelak tawa dan diiringi suara musik DJ yang kian mengelegar, sekelompok pemuda terlihat asyik menikmati beberapa jenis minuman beralkohol, sambil bersenda gurau di sebuah night club tempat biasa mereka kumpul bersama.
"Tumben kamu paling semangat mengajak kita minum hari ini, Bar?" celetuk Tobias di sela-sela candaan ringan pemuda-pemuda itu. Meski sudah minum cukup banyak, belum satupun di antara mereka yang terlihat mabuk.
"Iya, ini kan malam terakhir dia bisa senang-senang sama kita disini. Secara, besok dia sudah harus pulang ke istana megah, yang sekaligus menjadi penjara baginya itu. Haha!" seloroh Jeffrey terkekeh. Dengan cepat dia mendahului menyela pertanyaan Tobias, tanpa memberi kesempatan Baruna untuk menjawabnya.
"Bacot kamu, Jeff!" geram Baruna.
"Kamu tidak perlu mengejekku seperti itu. Kita lihat saja, walau nanti aku sudah pulang, aku pasti masih bisa sering ngumpul sama kalian disini!" kilah Baruna kesal, sambil menatap Jeffrey dengan sorot mata tajamnya.
Meski Baruna menunjukkan rasa marah saat mendengar ejekan Jeffrey, akan tetapi, semua temannya yang lain justru ikut terkekeh meledeknya.
"Lagi pula, penari seksi bertopeng itu kan akan tampil tiap malam disini. Mana mungkin lah Baruna akan melewatkannya?" ledek Tobias ikut menimpali ejekan Jeffrey. Mereka menyadari, walau Baruna acuh dengan semua wanita di club itu, namun penari bertopeng yang menjadi bintang di club itu cukup bisa menarik perhatiannya.
"Apa kalian pikir, aku tertarik pada penari itu?" tangkis Baruna, sambil mengangkat satu ujung bibirnya dan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Hingga malam semakin larut dan kini sudah menjelang tengah malam, para pemuda itu tetap asyik duduk di meja bar di club itu. Kendati Baruna dan kawan-kawannya suka mabuk dan mengkonsumsi alkohol, tetapi mereka bukanlah gerombolan orang yang suka membuat onar. Walau saat sedang mabuk, mereka tidak suka mencari masalah dengan orang lain. Meski para pengunjung nightclub yang lain umumnya suka turun melantai dan kadang buat rusuh saat berjoget di lantai diskotik, namun mereka sama sekali tidak seperti itu.
Beberapa menit kemudian, sexy dancer yang mereka nanti-nantikan pun beraksi di atas panggung. Seperti biasa sorak-sorai pengunjung yang lebih banyak adalah kaum laki-laki itu pun sontak riuh, saat penari-penari itu meliuk-liukkan badannya dengan gerakan yang semakin malam semakin menunjukkan keerotisannya.
"Aku ke toilet sebentar ya, Guys!" bisik Baruna kepada teman-temannya yang tengah terbius dan berdecak kagum menonton atraksi para penari erotis dengan pakaian sangat minim itu.
Setelah terlalu banyak minum, Baruna mulai merasakan kebelet dan ingin segera buang air.
"Jangan berbuat aneh-aneh di toilet ya, Bar!" ledek Jeffrey lagi sambil kembali terkekeh kepada Baruna.
Lagi-lagi Baruna hanya mencebikkan bibirnya saat mendengar cibiran Jeffrey. Tanpa ingin memperdulikannya, dia dengan cepat melangkahkan kakinya menuju toilet yang ada di club itu, karena sudah tidak tahan dengan sesuatu yang sudah sangat ingin dikeluarkannya.
Sesaat Baruna menghentikan langkahnya. Di ujung koridor yang menghubungkan toilet menuju ruang club, dia melihat seorang wanita dan seorang pria tengah berbincang dan terlihat sangat serius dengan sesuatu yang tengah dibahasnya. Baruna lalu mengamati kedua orang itu dari balik remang lampu di koridor itu.
Baruna memang tidak pernah punya niat membuat masalah dengan siapapun di club itu. Karenanya, saat melihat kedua orang itu, Baruna memilih diam di tempat bahkan mengendap dan bersembunyi di balik dinding agar keberadaannya tidak diketahui oleh mereka.
Samar-samar, Baruna bisa melihat wanita yang ada di hadapannya itu tengah mengenakan sebuah mini dress bodycon berwarna merah tua dan melilit ketat di tubuhnya yang masih nampak seksi walau usianya terlihat sudah tidak muda lagi. Wajah wanita itu juga nampak dipoles make up tebal dan menor dengan lipstik warna merah menyala menghiasi bibir seksinya.
Sedangkan pria yang diajaknya berbicara juga seperti sudah cukup berumur dan saat itu masih mengenakan pakaian formal dengan kemeja dan jasnya. Rambut di kepala pria itu sudah tinggal setengah saja, dan perutnya pun tampak membuncit hingga kancing bagian depan kemeja yang tengah dikenakannya seperti akan terlepas di dorong oleh lemak perutnya yang menonjol ke depan.
Dari cara pria dan wanita tidak dikenalnya itu berbicara dengan setengah berbisik, sudah pasti kedua orang itu tidak ingin ada orang lain yang mendengar percakapan mereka. Merasa penasaran, Baruna sengaja menguping pembicaraan keduanya dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu alasan apapun lagi! Pokoknya malam ini aku harus mendapatkan gadis penari bertopeng itu!" ucap tegas pria itu kepada wanita lawan bicaranya.
"Itu perkara mudah, Bos! Asal bayarannya sesuai, jangankan penari bertopeng, semua penari yang tampil malam ini silahkan Bos boyong semuanya. Mereka akan siap melayani anda sampai puas, Bos!" sahut wanita yang berpenampilan sangat seksi itu dengan nada genit sambil menggesekkan ujung telunjuk dan ibu jari tangan kanannya di hadapan pria itu.
"Uang hanya masalah sepele!" ujar pria itu remeh, sambil membalas menunjukkan ujung jari kelingkingnya di hadapannya.
Pria itu lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan setumpuk uang kertas dan diperlihatkannya tepat di depan mata wanita itu, yang seketika berubah berona hijau saat melihat segepok uang kertas berwarna merah yang disodorkan kepadanya.
"Ingat, ini hanya uang mukanya saja! Kalau aku sudah membuktikan kalau penari bertopeng itu benar-benar masih perawan, aku akan memberikan empat kali lipat lebih dari ini lagi!" tegas pria itu lagi dengan nada sombong.
"Siap, Bos! Saya berani jamin, gadis penari bertopeng itu masih perawan. Dia baru beberapa hari bekerja di club ini, dan selama itu kami selalu menjaganya dengan baik. Dia butuh uang banyak untuk membiayai hidupnya, karena itulah dia rela menjual kegadisannya!" beber wanita itu sangat percaya diri mempromosikan pekerja barunya itu, kepada pria yang sudah menjadi pelanggan tetapnya disana.
"Ok! Aku tidak mau kamu mengecewakanku lagi. Kalau gadis itu tidak sesuai dengan keinginanku, siap-siap saja, aku akan cabut izin operasi club ini!" ancam pria itu. Dari penampilan dan cara bicaranya, sudah bisa ditebak kalau pria itu bukanlah orang sembarangan. Sudah pasti, dia adalah orang yang punya cukup pengaruh di tempat itu.
Setelah wanita itu meraih uang dari tangan pria pelanggannya, keduanya segera berlalu dari lorong itu dan kembali masuk ke dalam club.
Baruna mengernyitkan keningnya setelah mendengar transaksi kotor yang sudah disepakati dua orang itu. Dia hanya geleng-geleng kepala dan mencebikkan bibirnya.
"Hari gini masih harus bayar mahal untuk mendapatkan gadis perawan?" batin Baruna bersungut. Baginya, amatlah sia-sia kalau harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya demi bisa meniduri seorang gadis yang masih suci.
Tanpa berniat peduli, Baruna juga ikut melangkahkan kakinya dengan cepat, kembali menuju ruang nightclub itu.
__ADS_1