Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #87 Pagi Yang Bahagia


__ADS_3

"Pagi, Ma! Pagi, Kak Dila!" seru Flo dari lantai dua rumah itu dan bergegas menghampiri Mutiara yang tengah sibuk mempersiapkan sarapan pagi di ruang makan.


"Pagi, Flo!" sambut Mutiara dengan senyum ramah.


"Maafkan aku terlambat bangun, Ma. Tadi subuh aku sudah terbangun, tapi ketiduran lagi dan akhirnya terlambat. Sekali lagi maaf, aku nggak sempat bantu kalian nyiapin sarapan," sesal Flo, merasa malu terhadap ibu mertua dan kakak iparnya karena terlambat bangun pagi itu.


"Tidak masalah, Sayang. Cuma nyiapin sarapan saja, bukan hal yang perlu dibesar-besarkan," sahut Mutiara enteng dan tersenyum menatap wajah menantunya. Baginya tidak terlalu masalah walaupun putri dan menantunya tidak ikut membantunya menyiapkan sarapan. Ada banyak pelayan di rumah itu yang bisa membantunya, bahkan Mutiara sendiri pun tidak harus mengerjakan semua itu. Tetapi, tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga di keluarga itu, tetaplah tidak ingin diabaikannya.


"Loh kok mejanya disiapkan untuk enam orang? Memangnya siapa yang akan ikut sarapan disini bareng kita?" Flo mengerutkan keningnya, dia mencoba menerka-nerka siapa yang akan bertamu ke rumah mereka pagi itu.


"Tunggu saja kejutannya, Flo!" seloroh Ardila dengan nada gurauannya, ikut tersenyum menatap wajah adik iparnya yang terlihat sedikit kebingungan.


Beberapa menit, ketiga wanita di Kediaman Waradana itu terlihat sibuk menata meja dan mempersiapkan beberapa jenis roti.


"Nah sekarang semua sudah siap." Mutiara tersenyum puas karena meja makan kini sudah siap.


"Flo, kamu panggil Baruna. Kita akan sarapan bersama. Mama juga akan panggil papa kalian!" perintah Mutiara sambil bergegas menuju kamarnya, hendak mempersiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


"Pagi, semua!" sapa Baruna yang baru turun dari kamarnya dan langsung ke meja makan. Belum sempat Flo memanggilnya ke kamar, Baruna sudah terlebih dahulu kesana.


"Hi, Una." Ardila balas menyapanya.


Baruna hanya tersenyum menanggapi sapaan Ardila, lalu dia langsung duduk di salah satu kursi dan Flo juga ikut duduk di sebelahnya.


Sejenak, pandangan Baruna tertuju pada Ardila yang juga menyusul duduk di hadapan Flo.


"Kak Dila, tumben dandan cantik sekali pagi ini. Ada sesuatu yang istimewa kah hari ini?" canda Baruna menggoda kakaknya yang memang terlihat berpenampilan sedikit berbeda pagi itu. Tidak biasanya di Hari Sabtu, Ardila terlihat rapi sepagi itu. Wajahnya terlihat berseri karena sudah dipoles dengan make up tipis dan baju yang dikenakannya juga bukan baju rumah, melainkan sepasang pakaian casual dan membuat Ardila terlihat rapi pagi itu.


"Ada deh! Yang jelas, kakak mau buat kejutan hari ini!" sahut Ardila ikut berkelakar.

__ADS_1


"Hmm.... bukan cuma kakak, aku juga punya kejutan yang akan aku sampaikan pada kalian semua pagi ini," timpal Baruna tidak mau kalah sembari menoleh dan tersenyum kepada istrinya.


"Non Ardila, tamunya sudah datang!" seru seorang pelayan menyela candaan-candaan Ardila dan Baruna.


"Oh iya. Suruh langsung kesini saja, Bi!" perintah Ardila mempersilahkan.


"Selamat pagi, semua," sapa seorang pria yang baru saja masuk ke ruang makan.


"Kak Diaz!" Flo terkejut ketika melihat kakaknya lah tamu yang sedang ditunggu oleh Ardila dan tanpa rasa canggung Diaz langsung masuk ke ruang makan serta mengambil tempat duduk di sebelah Ardila yang terlihat tersenyum manis melihat kehadirannya.


"Hi, Baruna. Hi, Flo! Bagaimana kabar kalian?" Diaz langsung bertanya, menciptakan percakapan akrab di antara mereka.


"Kami baik, Kak Diaz. Kamu sendiri bagaimana?" Baruna segera menyambung pertanyaan Diaz.


Untuk beberapa saat, keempat orang itu berbincang santai disana.


"Pagi!" sapaan suara berat seorang pria menghentikan percakapan mereka.


"Apa kabarmu, Diaz? Om senang pagi ini kamu ikut sarapan pagi disini," ujar Akha kembali menyambung percakapan mereka semua.


"Kabar baik, Om. Aku juga senang bisa sering-sering bersama kalian disini. Di rumah tidak ada siapapun. Setelah Flo menikah, tidak ada yang menemaniku sarapan pagi di rumah," urai Diaz berkeluh kesah dan ditanggapi dengan kekehan semua orang yang ada disana.


Keluarga itu pun tetap asyik menikmati sarapannya.


"Om Arkha, Tante Mutiara ... sebenarnya tujuanku kesini pagi ini, karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ujar Diaz, memberanikan diri untuk mulai mengutarakan tujuannya datang ke rumah itu, selain sekedar ikut sarapan pagi bersama.


"Iya ada apa, Diaz?" Arkha menganggukkan kepalanya sebagai isyarat, mempersilahkan Diaz mulai berbicara.


"Aku kesini, ingin melamar Ardila untuk jadi istriku, Om!" Sambil menoleh ke arah Ardila, Diaz mengungkapkan semua keinginannya.

__ADS_1


Sontak senyum-senyum bahagia terbias di wajah semua orang disana, tetapi hanya Ardila yang tersenyum tersipu. Mendengar pengakuan Diaz, dia langsung menundukkan wajahnya.


"Apa kamu sungguh-sungguh mencintai Ardila, Diaz? Kalau kamu memang serius, Om dan Tante Mutiara, hanya bisa merestui saja. Kami berdua akan sangat bahagia apabila anak-anak kami juga berbahagia." Arkha sedikitpun tidak menolak ataupun melarang apa yang diungkapkan Diaz. Dia hanya akan mendukung apapun keputusan anaknya.


"Dan kamu, Dila. Apa kamu bersedia menerima lamaran Diaz?" Arkha menatap Ardila yang masih menundukkan wajahnya.


"Iya, aku bersedia, Pa," sahutnya jujur tanpa ada keraguan sedikitpun dan Arkha tetap hanya tersenyum menanggapi.


Mutiara juga ikut tersenyum, dia turut merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan Diaz dan putrinya.


"Wah, senangnya kita akan jadi satu keluarga yang utuh!" seru Flo merasa sangat senang mendengar semua orang setuju akan hubungan kakaknya dengan Ardila.


"Baiklah, karena semua sudah setuju, papa akan segera mencarikan hari baik untuk pernikahan kalian," ucap Arkha senang.


"Baik, Pa!" Diaz dan Ardila mengangguk bersamaan.


"Aku juga punya berita bahagia yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua," imbuh Baruna.


"Berita bahagia apa, Una?" Mutiara menatap penuh tanda tanya ke arah putranya.


"Sebentar lagi, akan ada anggota baru lainnya di keluarga ini." Baruna mulai bercerita.


"Saat ini, Flo sedang hamil dan tak lama lagi akan ada bayi yang lahir di rumah ini."


"Apa, Flo hamil?" Mutiara tersenyum lebar. "Terima kasih, Tuhan! Kau maha mendengar. Selama ini mama selalu berdoa agar segera bisa mendapatkan seorang cucu, dan sebentar lagi keinginan itu akan terwujud," ucapnya sangat merasa bersyukur akan semua kebahagiaan yang Tuhan berikan kepada keluarganya.


"Bukan hanya seorang cucu saja, Sayang. Kalau nanti Ardila dan Diaz sudah menikah, mereka juga pasti akan segera memberimu seorang cucu juga. Dan kamu bersiap-siap saja direpotin banyak bayi di rumah ini," gurau Arkha menanggapi kebahagiaan istrinya.


"Tidak masalah, Bang. Justru aku akan sangat senang karena rumah ini akan ramai oleh canda tawa anak kecil lagi." Mutiara terus tersenyum, berbagai kebahagiaan tidak dapat diungkapkannya dengan kata-kata saat itu.

__ADS_1


"Selamat ya, Flo. Selamat, Una. Tak lama lagi, akan ada seorang anak kecil yang memanggilku 'Om'." ungkap Diaz turut merasakan kebahagiaan adiknya.


Hingga acara sarapan pagi keluarga itu berakhir, wajah-wajah dihiasi senyum kebahagiaan terus terlihat di rumah Kediaman Waradana. Dua kejutan bahagia pagi itu, membuat rumah itu terasa sejuk dan nyaman bagai sebuah taman yang teduh dengan berbagai jenis bunga-bunga indah sebagai penghiasnya.


__ADS_2