Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #72 Kandas Di Tengah Laut


__ADS_3

Tiba di pelabuhan, Baruna dan Rendy mendapati banyak orang sudah memadati sebuah dermaga terdekat dari lokasi kapal yang mengalami kecelakaan. Rintik hujan yang masih terus turun dari langit seakan tidak jadi halangan bagi beberapa orang disana yang ingin mencari berita tentang sanak saudara ataupun kerabat mereka yang menjadi korban.


Wajah-wajah cemas juga terlihat menantikan kabar tentang keselamatan para penumpang kapal, suasana mencekam menyelimuti pelabuhan kala itu.


Garis polisi juga sudah terpasang di beberapa area sehingga tidak sembarang orang bisa masuk ke lokasi.


Team Search and Rescue serta beberapa orang regu penyelamat berbaju hijau juga tampak sibuk mempersiapkan semua hal terkait upaya evakuasi yang akan mereka lakukan. Namun, terkendala cuaca buruk hari itu, para petugas mengalami kesulitan dalam pelaksanaan evakuasi korban.


"Tidakkk!" jerit Baruna mana kala ia mendapatkan berita dari petugas disana bahwa, Genta adalah kapten kapal yang bertugas di kapal naas yang masih kandas dan terkatung-katung di tengah laut tersebut.


"Ini tidak boleh terjadi! Ayah Genta harus segera kita selamatkan. Kita tidak bisa terus menunggu petugas saja yang melakukan penyelamatan, Om!" tegasnya kepada Rendy.


Setelah mereka tidak diizinkan masuk oleh para petugas disana, Baruna merasa sangat khawatir akan keselamatan Genta. Semua regu penyelamat juga terlihat tidak mampu berbuat banyak, dikarenakan cuaca kala itu yang memang sangat ektrem. Hujan deras terus mengguyur, badai petir terus menggelegar dan gelombang tinggi menerjang dari tengah samudera, juga menjadi ancaman berat bagi para tim penyelamat.


"Apa yang kita bisa lakukan, Baruna? Kalau petugas saja tidak berani, apalagi kita?" tukas Rendy seraya menggeleng ragu.


"Tidak, Om Rendy! Kita tidak boleh hanya berdiam diri saja, kita harus selamatkan Ayah Genta!"


"Lalu kita harus bagaimana, Una. Petugas saja tidak mengizinkan kita masuk!" elak Rendy lagi.


"Kita akan ke tengah laut melalui pelabuhan pribadi kita, Om. lewat dermaga pribadi milik perusahaan papa, tidak akan ada petugas yang berani melarang kita. Tolong suruh anak buahmu segera menyiapkan fast boat!" titah Baruna tegas.


"Tapi ... " Rendy masih terlihat ragu.


"Kalau Om Rendy tidak berani ikut denganku untuk meyelamatkan Ayah Genta, tidak masalah, Om! Aku sendiri yang akan melakukannya!" pungkas Baruna memotong ucapan Rendy dengan ketus. Dia merasa tidak senang mendengar penolakan Rendy yang seakan sangat takut untuk ke tengah laut dalam kondisi badai seperti saat itu.


Rendy hanya mengangguk tanpa berani membantah lagi. Tentu saja dalam hati sesungguhnya dia sangat khawatir dan ingin menolak Cuaca sangatlah buruk, tidak satu orangpun berani melawan alam yang seakan tengah memberi peringatan akan sebuah bahaya yang mengancam.


Keduanya lalu melangkahkan kakinya melewati sebuah lorong terminal di pelabuhan itu untuk menuju pelabuhan pribadi milik perusahaan Arkha, yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari pelabuhan utama.


Di pelabuhan pribadinya, beberapa orang anak buah Rendy, langsung menyiapkan sebuah fast boat berukuran kecil. Baruna dan Rendy yang sudah mengenakan baju pelampung bergegas naik ke atas fast boat dan mereka menuju ke tengah laut, dimana kapal pesiar naas itu masih terperangkap di tengah ganasnya terjangan badai.

__ADS_1


Gelombang tinggi terus menghantam, badai juga terus menghadang. Beberapa kali, fast boat yang membawa Baruna dan Rendy oleng karena tertimpa angin kencang dan gulungan ombak. Baruna, Rendy dan beberapa orang awak kapalnya mengeratkan pegangannya pada fast boat mereka.


Badai memang sangat dahsyat, wajar apabila petugas menunda penyelamatan karena di tengah cuaca ektrem seperti itu, sesuatu yang lebih buruk bisa saja terjadi. Akan tetapi, Baruna bersama Rendy tidak gentar menghadapinya. Fast boat yang mereka naiki melaju cepat memecah badai hingga mereka kini sudah berada tidak terlalu jauh dari kapal pesiar yang terlihat hampir karam di tengah laut.


Untungnya juru mudi fast boat itu sangatlah berpengalaman, sehingga meski diterjang gelombang yang sangat kuat, fast boat berukuran kecil itu masih tetap bisa bertahan menerjang badai.


Teriakan minta tolong dan jerit tangis ketakutan para penumpang kapal terdengar menggema dari kapal yang tengah kandas oleh badai dahsyat di tengah lautan itu. Semua penumpang panik ketika mengetahui air laut sudah masuk dan memenuhi semua permukaan di kabin kapal.


"Apa yang pertama kali harus kita lakukan, Baruna? Siapa yang harus kita selamatkan dulu?" tanya Rendy bingung harus menyelamatkan siapa terlebuh dahulu.


Ada ratusan orang penumpang di dalam kapal tersebut dan semua orang pastilah sangat mengharapkan pertolongan. Sedangkan fast boat mereka hanya bisa menampung beberapa orang saja.


"Di dalam kapal pasti ada sekoci, Om. Orang tua, anak-anak dan wanita hamil adalah orang-orang yang harus kita prioritaskan terlebih dahulu. Tolong Om bersama anak buah Om bantu upaya penyelamatan korban. Aku akan naik ke kapal itu dan mencari keberadaan Ayah Genta."


Baruna dan Rendy lalu berpindah dari fast boat mereka dan naik ke atas kapal deck kapal utama yang posisinya ada paling atas, dimana para penumpang sudah berkumpul disana untuk mencari tempat teraman, karena air laut sudah memenuhi deck paling bawah di dasar kapal naas tersebut. Teriakan penumpang yang panik dan ketakutan masih terus terdengar. Beberapa awak kapal juga terlihat sibuk menyiapkan sekoci. Kecelakaan di kapal itu baru beberapa menit terjadi, sehingga upaya penyelamatan mandiri oleh para awak kapal juga baru mulai dilakukan.


Rendy dan anak buahnya juga bergegas membantu upaya penyelamatan, sedangkan Baruna menyeruak di antara para penumpang yang semakin panik. Dia bergegas mencari anjungan kapal karena dia yakin Genta pastilah ada di tempat itu.


Air laut semakin lama semakin memenuhi seluruh ruang kabin bahkan ruangan di dalam anjungan kapal juga sudah tergenang oleh air.


"Semampunya kita harus segera melakukan penyelamatan penumpang terlebih dahulu," sahut kapten Genta.


"Tapi sekoci saja tidak akan cukup untuk menampung semua penumpang."


"Utamakan penyelamatan pada penumpang yang sudah lanjut usia dan anak-anak terlebih dahulu!" perintah Genta.


Bersamaan pada saat itu, Baruna berhasil masuk ke ruaang anjungan. Walau dia bukan penumpang di kapal itu, tidak seorangpun terlihat peduli padanya. Dalam situasi darurat, semua orang hanya peduli dengan keselamatan nyawa mereka masing-masing.


"Ayah Genta!" pekik Baruna ketika dia melihat Genta ada di anjungan itu.


"Baruna!" Genta tersentak kaget. "Kenapa kamu bisa ada disini, Una?" tanya Genta dengan sejuta keterkejutannya. Dia sama sekali tidak menyangka Baruna bisa ada di atas kapalnya, padahal situasi darurat tengah terjadi disana.

__ADS_1


"Aku kesini untuk menyelamatkan Ayah. Team rescue di darat belum berani melakukan penyelamatan karena cuaca sangat buruk!"


"Tapi ayah harus menyelamatkan penumpang terlebih dahulu, Una."


"Om Rendy juga ada bersamaku, Yah. Dia dan anak buahnya sedang melakukan penyelamatan untuk para penumpang."


Mendengar jawaban Baruna, Genta menghela nafas dan sedikit bisa tersenyum.


"Ayo! Kalian semua bantu semua penumpang menyelamatkan diri, usahakan jangan sampai jatuh korban!" perintah Genta kemudian, menyuruh semua mualim di kapalnya membantu semua penumpang.


"Terima kasih banyak, Baruna!" Genta bergegas memeluk Baruna dan merasa sangat terharu. Pemuda yang merupakan putra sulung mantan atasannya dan sudah dia anggap seperti putra kandungnya sendiri itu, datang sebagai dewa penyelamat di kapalnya.


"Ayo, Yah! Ayah ikut ke daratan dengan fast boat ku. Aku akan segera menyelamatkan Ayah!" ajak Baruna tidak ingn menunda waktu, karena kondisi kapal yang sudah semakin darurat. Baruna bergegas menarik tangan Genta untuk membawanya keluar dari ruang anjungan itu.


"Tunggu, Una!" cegah Genta yang membuat Baruna mengehentikan langkah Baruna.


"Ada orang yang lebih penting untuk kamu selamatkan dari kapal ini, Una!" seru Genta.


"Orang lain? Siapa, Yah?" tanya Baruna dengan dahinya yang berkerut.


"Floretta dan Diaz," sahut Genta.


"Flo dan Diaz??" Mata Baruna membulat sempurna. Mendengar nama dua orang itu disebut oleh Genta, membuat rasa terkejut sekaligus penasaran kini memenuhi kepalanya.


"Apa mereka berdua menumpang di kapal ini?"


"Benar, Una! Mereka menumpang disini dan hendak kembali ke kota."


"Kalau gitu, ayo kita cari tahu dimana keberadaan mereka, Yah!"


"Mereka pasti ada di deck utama, Una. Semua penumpang pasti menyelamatkan diri kesana!" sahut Genta yakin.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan segera kesana!"


Baruna dan Genta bergegas berlari melewati koridor di kabin kapal yang sudah tergenang air dan naik ke atas deck utama kapal tersebut.


__ADS_2