
"Ardila...."
Hanya kata itu yang selalu terucap dari bibir lemah Alfin. Wajahnya semakin pucat, darah masih terus mengalir dari luka tembakan di dadanya. Tangan Alfin yang juga sudah sangat lemah perlahan menggapai wajah Ardila dan diusapnya.
"Bertahanlah, Om! Sekarang Daniel sudah tertangkap dan papa juga ada disini. Kami akan segera membawamu ke rumah sakit." Ardila terus menatap mata Alfin yang hanya mampu setengah terbuka.
"Alfin...." Arkha ikut berjongkok di sebelah tubuh Alfin. Dengan kedua tangannya, Arkha mengangkat pundak Alfin lalu menyandarkannya punggung Alfin berpangku pada kedua lututnya.
"Bertahanlah, Al. Ambulan sebentar lagi sampai disini," ujar Arkha sambil menatap lekat wajah sahabat masa kecilnya itu.
"Arkha....." ucap Alfin lirih. "Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku selama ini dan terima kasih banyak karena kau sudah membesarkan putriku dengan baik. Aku titip Ardila selamanya padamu. Tolong tetap jaga dia seperti anak kandungmu sendiri," lanjutnya dengan suara yang semakin melemah.
"Jangan berkata seperti itu, Al," potong Arkha tidak ingin Alfin melanjutkan lagi kata-katanya.
"Putrimu?"
Kedua alis Ardila seketika tersentak bersamaan ketika mendengar ucapan Alfin.
"Katakan padaku apa maksud semua ini, Pa?" Ardila menggeleng seraya menatap wajah Arkha dan Alfin bergantian dengan sorot mata penuh tanda tanya.
"Ardila, se-sebelum a-aku mati, aku punya satu permintaan. Aku ingin kau ... kau memanggilku papa sekali saja," ucap Alfin lemah.
"Tidak ... ini tidak mungkin!" ucap Ardila sembari terus menatap wajah Alfin dan menggeleng tidak percaya.
"Katakan padaku, apa benar Om Alfin ini adalah papaku?" Ardila menoleh ke arah Arkha yang hanya bisa diam tidak tahu harus berkata apa-apa mendengar pengakuan Alfin.
"Ayo, Pa.... jawab pertanyaanku!" Ardila memegang tangan Arkha seraya menggoyang-goyangkannya sangat berharap Arkha menjawab pertanyaannya.
"Dila, sebenarnya ... sebenarnya ... Om Alfin itu memang ..." Lidah Arkha tak mampu berucap.
"Ardila... kau adalah putriku. Aku dan Livina adalah orang tua biologismu yang sebenarnya," potong Alfin dengan suara sangat pelan dan bahkan nyaris tidak terdengar.
"Apa?!" Ardila lagi-lagi tersentak mendengar pengakuan Alfin.
__ADS_1
"Jadi, Papa Arkha bukan papa kandungku? Berarti selama ini aku hanya anak angkat di Keluarga Waradana?" Mata Ardila membulat. Tanpa bisa dicegah, air matanya seketika mengalir deras dari kedua manik hitamnya itu.
"Papa harap kamu jangan salah paham, Dila. Untuk saat ini, kita tidak usah membahasnya dulu! Nanti, pasti papa akan ceritakan semuanya padamu," ujar Arkha. "Kau lihat, Alfin sudah sangat membutuhkan pertolongan. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" pungkas Arkha tidak ingin Ardila terus bertanya lagi padanya.
"Rendy!" Arkha memanggil asistennya.
"Ya, Bos!" Rendy mendekati Arkha dan ikut berjongkok di sebelah Arkha.
"Bantu aku membawanya ke mobil! Ini darurat, kita tidak punya waktu menunggu ambulan lagi!" perintah Arkha.
"Tidak perlu, Kha!" tolak Alfin. "Aku tahu nyawaku tidak akan selamat. Sebelum aku mati, aku hanya ingin mendengar Ardila memanggilku papa sekali saja," pintanya.
"Tidak, Pa... kau pasti selamat. Kami akan segera membawamu ke rumah sakit," timpal Ardila dengan isak tangisnya.
"Ardila.... kau anakku. Kau putri kandung papa satu-satunya. Maafkan papa, Nak! Papa sangat menyayangimu" Alfin berusaha tersenyum sambil meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat.
"Papa...." Ardila mengusap wajah Alfin dan ikut menggenggam erat tangannya dengan perasaan haru.
"Terima kasih, Ardila. Papa sangat bahagia. Akhirnya sebelum papa tiada papa masih sempat mendengar kamu memanggilku Papa."
"Jangan berkata seperti itu lagi, Pa. Papa tidak boleh meninggalkan aku!" Ardila memeluk tubuh Alfin dan terus menangis.
"Papaaa..........!" Ardila berteriak ketika merasakan tubuh Alfin tidak lagi bergerak dan matanya tertutup rapat.
"Tidak, Pa. Tidakkk.... Jangan tinggalkan aku!" Ardila menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya berguncang hebat ketika merasakan tubuh Alfin dalam pelukannya kini terasa dingin dan tidak bereaksi lagi.
Di waktu yang sama, raungan sirine ambulan juga terdengar semakin jelas dan kini berhenti di tempat itu. Beberapa orang petugas medis langsung mengeluarkan tandu dari dalam mobil ambulan.
"Sudah, Dila. Alfin harus segera kita bawa ke rumah sakit!" Arkha menyentuh punggung Ardila agar melepaskan pelukannya dari tubuh Alfin yang sudah tidak bergerak.
"Papa....." Ardila tidak dapat menahan isak tangisnya. Dia lalu berhambur ke pelukan Arkha dan hanya mampu memandangi tubuh Alfin yang kini sudah dinaikkan ke atas tandu dan dibawa masuk ke dalam ambulan.
"Sekarang kita antar Alfin ke rumah sakit, Dila. Mudah-mudahan, Alfin masih bisa selamat," ujar Arkha menghibur Ardila yang terlihat sangat sedih dan juga shock mengetahui siapa papa kandungnya yang sebenarnya. Dia merasa sangat iba melihat keadaan Alfin. Namun juga tidak ingin melihat Ardila, gadis yang sudah dianggapnya sebagai putri kandungnya itu kini bersedih.
__ADS_1
"Una, kamu juga ikut papa ke rumah sakit!" perintah Arkha kepada putranya.
Baruna yang sedari tadi hanya mampu diam menyaksikan semua keharuan tadi, sedikit terkejut. "Baik, Pa!" sahutnya seraya ikut mendekati Ardila.
"Una...." Ardila melepaskan pelukan Arkha dan beralih memeluk Baruna.
"Tenanglah, Kak. Semua pasti baik-baik saja." Baruna memeluk Ardila dan turut berusaha menghiburnya.
"Kita sudah menemukan jawaban yang kita cari di tempat ini, Una," ucap Ardila sendu.
"Iya, Kak," balas Baruna singkat.
Tujuan awal mereka mencari tahu siapa sebenarnya Alfin akhirnya terjawab setelah kejadian pilu itu terjadi.
.
Pada saat semua keharuan itu terjadi, diam-diam Diaz mendekati Flo dan membisikkan sesuatu kepada adikknya itu.
Ketika semua fokus teralihkan ke Ardila dan Alfin, Diaz menarik tangan Flo dan membawanya berlari menjauhi tempat itu. Bahkan, perhatian Baruna pun teralihkan darinya. Sehingga, dia tidak menyadari kalau Flo sudah menghilang dari sebelahnya dan kini sudah dibawa menjauh oleh Diaz.
"Kak, kita akan lari kemana lagi? Kenapa kita harus menghindari mereka? Kakak juga terluka. Kakak harusnya ikut ke rumah sakit agar luka kakak bisa diobati!" sergah Flo, tidak paham tujuan Diaz membawanya pergi dari tempat itu.
"Tidak perlu banyak bertanya dulu, Flo. Nanti, aku pasti akan menjelaskan semuanya padamu. Sekarang kau ikuti saja aku. Kita harus pergi dari kota ini," tangkis Diaz sambil terus memegang tangan adiknya dan membawanya berjalan lebih cepat.
"Tapi kita harus pergi kemana, Kak?" Flo sangat kebingungan dengan sikap kakaknya malam itu.
"Kemana saja, Flo. Yang penting kita harus menjauh dari kota ini!"
"Cepatlah, Flo. Jangan sampai orang-orang itu melihat kita!" perintah Diaz sambil menarik tangan Flo dan terus berlari.
Mereka sudah cukup jauh meninggalkan tempat kejadian sebelumnya, dan kini mereka berada di pinggir sebuah jalan besar dan cukup ramai oleh lalu-lalang kendaraan-kendaraan besar, truck-truck container serta mobil-mobil tangki berlogo pertambangan minyak bumi milik negara.
Mata Diaz tertuju kepada sebuah truck yang bermuatan sembako terparkir di pinggir jalan.
__ADS_1
"Truck itu pasti bisa membawa kita meninggalkan kota ini tanpa ada seorangpun yang mengetahui kita, Flo." Diaz tersenyum lebar lalu mendekati truck itu.