
Motor yang dikendarai Baruna bersama Flo terus melaju diantara gerimis hujan. Tidak butuh waktu lama, mereka pun sudah sampai di rumah Flo dan bergegas masuk agar terlindung dari rintik hujan yang masih terus mengalir dari langit.
"Haatchi! Haatchi!" Flo mengucek hidungnya. Rasa dingin akibat kehujanan membuat Flo beberapa kali bersin-bersin dan merasakan gatal di hidungnya.
"Sepertinya kamu terserang flu. Segeralah mandi dan ganti bajumu, Flo," perintah Baruna karena khawatir Flo akan jatuh sakit setelah mereka kehujanan.
"Iya, Bar. Aku mandi dan ganti baju dulu sebentar. Setelah itu aku akan buatkan teh hangat buat kamu," balas Flo tanpa membantah sedikitpun saran dari Baruna. Akan tetapi, di saat bersamaan Flo juga bisa merasakan pakaian yang tengah dikenakan Baruna terlihat basah.
"Baju kamu juga basah kuyup, Bar. Kalau dibiarkan seperti ini kamu juga bisa sakit." Flo menyentuh jaket Baruna yang terasa dingin. Jaket itupun basah akibat terpaan air hujan.
"Ayo lepaskan jaketmu. Aku akan angin-anginkan sebentar supaya kering!" Flo mengusap pundak Baruna lalu memembantunya melepaskan jaket itu.
"Kemeja kamu juga basah, Bar. Kamu bisa masuk angin kalau terus pakai baju basah begini!" seru Flo.
Kencangnya terpaan air hujan sudah menembus jaket Baruna sehingga kemejanya pun turut basah.
"Yah ... mau bagaimana lagi, Flo. Aku nggak bawa baju ganti, aku terpaksa harus tetap pakai baju ini." Baruna hanya menggelengkan kepalanya. Walau merasa sedikit kedinginan akibat bajunya yang basah, mau tidak mau dia tetap harus memakainya karena dia tidak membawa pakaian ganti yang lain.
"Buka saja, ini juga harus diangin-anginkan dulu, dari pada kamu nanti pulang dalam keadaan basah seperti ini," ujar Flo memberi nasehat. Baruna hanya membalas dengan senyum dan menurut saja saat Flo membuka satu persatu kancing kemejanya itu dan melepaskannya dari tubuh Baruna.
Setelah Baruna melepaskan kemejanya, mata Flo terpaku menatap Baruna yang bertelanjang dada. Jantungnya tiba-tiba berdenyut kencang, hatinya bergetar tidak karuan.
"Baruna memang sangat gagah," batin Flo memuji. Secara tidak sadar tangannya mengusap dada bidang itu dan senyum kagum terlukis indah di bibirnya.
Baruna ikut menatap senyum manis Flo. "Kamu kenapa senyum-senyum gitu, Flo? Apa ada yang aneh dari tubuhku ini?" tanya Baruna merasa bingung melihat Flo terpaku menatapnya.
__ADS_1
"A-ahh, nggak apa-apa, Bar. Baru pertama kali aku melihat kamu nggak pakai baju. Kamu itu ternyata sangat gagah, Bar," ungkap Flo sedikit gugup tetapi sangat jujur. Dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kekagumannya memandangi sosok pria yang sangat tampan dan gagah di hadapannya.
"Kamu juga sangat cantik, Flo. Aku sangat tergila-gila padamu," balas Baruna ikut tersenyum menatap wajah Flo yang tiba-tiba bersemu merah saat keempat netra mereka saling beradu pandang.
Baruna lalu mengangkat dagu Flo dengan dua jarinya, sehingga wajah mereka kini begitu dekat tanpa jarak. Debaran jantung yang tidak biasa juga terasa bergejolak di dalam dadanya. Tanpa meminta izin dari Flo, Baruna mendekatkan bibirnya ke bibir Flo dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir seksi yang berwarna pink merona itu. Walau ini adalah ciuman pertama mereka, entah mengapa Flo sama sekali tidak ingin menolak semua perlakuan Baruna saat itu. Dia ikut membalas ciuman Baruna tanpa rasa canggung.
Awalnya hanya sebuah kecupan. Namun, semakin lama Baruna semakin berani mencium Flo lebih intens. Untuk sesaat Flo hanyut dalam hangatnya sentuhan bibir Baruna. Bagai ada sebuah magnet disana, sehingga dia pun tidak ingin lepas dan terus menempelkan bibirnya di bibir Baruna.
Melakukan deep kiss dengan seorang wanita, memang bukan hal baru bagi Baruna. Akan tetapi, perasaan berbeda yang begitu istimewa dia rasakan saat mencium Flo. Sehingga tanpa sadar, cukup lama bibirnya dan bibir Flo beradu manja. Baruna juga terbuai akan kehangatan. Sehingga, dengan penuh kemesraan dia mellumat bibir Flo sangat dalam. Baruna baru melepaskan ciumannya mana kala merasakan Flo mulai tidak leluasa bernafas.
Keduanya kembali saling menatap dan tersenyum. Ciuman pertama mereka terasa begitu hangat, yang menyebabkan jantung mereka pun berdegup semakin kencang.
Meski hanya sebatas berciuman saja, semua itu mampu membuat hubungan mereka terasa semakin dekat dan kian mesra.
"Haatchi! Haatchi!" Flo kembali bersin-bersin dan alhasil tatapan mereka seketika buyar karenanya.
Flo terus tersenyum. Sambil mengucek hidungnya yang terasa makin gatal, dia melangkah ke kamarnya dan meninggalkan Baruna sendiri duduk di sofa itu.
Setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya, Flo segera ke dapur dan membuat dua cangkir teh untuk mereka berdua.
"Diminum tehnya, Bar. Mumpung masih panas!" Flo menyuguhkan teh di meja di hadapan Baruna sambil ikut duduk di sofa panjang di sebelah Baruna.
"Di luar masih hujan. Bagaimana kamu akan pulang, Bar?" tanya Flo dengan nada khawatir, karena sampai saat itu hujan belum juga berhenti dan Baruna juga tidak membawa jas hujan.
"Kalau hujannya tidak kunjung reda, ya ... aku akan menginap disini saja," kelakar Baruna, tersenyum menggoda Flo.
__ADS_1
"Iihh, mana bisa seperti itu! Kita kan belum menikah. Kamu nggak boleh nginap disini!" seringai Flo, tetapi sebuah senyum selalu terulas manis di bibirnya. Candaan Baruna, memancingnya ikut bergurau manja.
"Memangnya kenapa kalau aku nginep disini? Apa kamu takut aku akan memperkosamu?" gurau Baruna lagi.
"Kalau dilakukan suka sama suka, bukan memperkosa dong namanya," balas Flo ikut bercanda.
Keduanya tetap asyik berbincang dan tertawa berdua disana hingga hari semakin gelap dan malam sudah menjelang.
"Haatchi! Haatchi!" Lagi-lagi bersin itu keluar dari mulut Flo.
"Sepertinya kamu benar-benar sudah terserang flu," terka Baruna saat melihat hidung Flo kembali memerah.
"Berbaliklah! Aku akan oleskan minyak hangat ini di punggungmu!" Baruna membalikkan tubuh Flo agar duduk membelakanginya.
Baruna menurunkan sedikit kaos bagian belakang Flo agar ia dapat mengoleskan minyak hangat aromatherapy itu di punggung Flo sambil memberi pijitan ringan disana.
"Terima kasih ya, Bar. Pijatanmu membuatku nyaman," puji Flo merasakan kehangatan dari pijitan tangan Baruna.
Baruna menarik nafas dalam-dalam dan menelan salivanya. Punggung mulus dan leher jenjang milik Flo membuat sesuatu membuncah di dalam sukmanya.
"Flo benar-benar seksi dan menggairahkan." Untuk sesaat pikiran nakal Baruna berkelana. Menyentuh tubuh Flo dengan sangat dekat saat itu, membuat jiwa kelelakiannya sedikit goyah. Jantungnya kembali berdegup tidak beraturan.
Kalau biasanya dia akan sangat mudah membuat seorang wanita takluk dan dengan senang hati diajaknya bercinta, tetapi perasaan berbeda dia rasakan terhadap Flo. Bukan hanya nafsu, namun sesuatu yang tidak biasa selalu terasa memenuhi sanubarinya saat bersama sang kekasih pujaan hatinya.
...****************...
__ADS_1
Hi Readers,
Jangan lupa tinggalkan jejak! Vote, gift, like dan komennya selalu dinantikan.