
Hari kemarin menyisakan berbagai macam kenangan, sedangkan hari esok adalah sebuah hari yang akan menghadirkan harapan baru dan masih menjadi misteri bagi semua orang. Namun, hari ini adalah sebuah realita yang harus semua orang jalani dan pastinya setiap hari pastilah memiliki cerita yang berbeda karena tidak ada hari, berjalan sama persis seperti hari sebelumnya maupun yang akan datang.
Waktu terus berjalan dan hari pun terus berganti. Seperti juga siang dan malam selalu datang silih berganti, duka dan bahagia pastilah senantiasa ada mengiringi kisah perjalanan hidup setiap orang. Tidak selamanya hidup akan dihantui duka dan lara. Kadang kala, kebahagiaan pun datang tanpa terduga. Hanya saja, arti kebahagiaan berbeda bagi setiap individu, tergantung bagaimana cara individu tersebut, mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan kepadanya.
Hal itulah yang kini tengah dirasakan oleh Floretta. Bertahun-tahun hidup menderita dan sebatangkara, membuat hidupnya terasa penuh kehampaan. Namun, keluarga baru yang dia miliki saat ini, sudah mengusir semua kekosongan dalam hidupnya. Menikah dengan pria yang sangat dicintainya adalah anugrah Tuhan yang patut dia syukuri.
Pagi itu, walau hari masih subuh, Floretta nampak sudah berdiri di depan wastafel di kamar mandinya.
Sudah satu bulan dia dan Baruna kembali dari masa bulan madunya dan mereka berdua juga sudah tinggal bersama di rumah besar Kediaman Waradana. Keluarga yang selalu memberi kehangatan dalam hari-harinya.
"Aku harus segera kasih tahu Baruna tentang hal ini!" Flo tersenyum lebar menatap sebuah benda di tangannya dan bergegas keluar dari kamar mandi.
Flo menggelengkan kepalanya serta tersenyum kecut ketika melihat suaminya masih lelap tertidur di atas ranjangnya.
Flo bergegas naik ke atas tempat tidur. "Sayang, bangun! Ini sudah siang," bisik Flo tepat di telinga Baruna.
"Uaaheemm...." Baruna menguap panjang dan sedikit membuka matanya.
"Masih pagi, Sayang. Sebaiknya kita tidur lagi." Baruna kembali menutup matanya dan menarik tangan Flo agar ikut berbaring lagi di sebelahnya.
"Bangun, Baruna! Aku ada surprise buat kamu." Flo menahan tangan Baruna dan menarik selimut yang masih menggulung tubuh suaminya itu.
"Surprise apa, Flo? Aku masih ngantuk. Nanti saja ya!" lirih Baruna sembari meraih bantal untuk menutupi wajahnya. Dia masih sangat enggan untuk membuka matanya.
"Jangan tidur lagi, Sayang! Ayo lihat ini dulu," cegah Flo. Dia lalu menarik bantal itu dari wajah Baruna.
"Yakin kamu nggak ingin mengetahui surprise ini sekarang?" tanya Flo, sedikit menyeringai dan menggoda suaminya.
__ADS_1
"Memangnya kejutan apa yang kamu mau tunjukkan ke aku, Sayang?" Setelah tidak ada lagi bantal di wajahnya, Baruna akhirnya perlahan membuka mata.
Baruna memicingkan matanya karena silau oleh sinar lampu yang masih menyala di kamar itu, tetapi dia bisa melihat dengan jelas istrinya tengah tersenyum manis menatapnya.
"Lihat ini, Sayang!" Flo mengangkat tangannya dan memperlihatkan sebuah benda pipih kecil yang sedari tadi dipegangnya.
"Apa ini?" Baruna bergegas menyambar benda itu dari tangan Flo. Mata Baruna terbelalak ketika memperhatikan benda kecil yang kini sudah berpindah ke tangannya.
"Hah ... dua garis?" Baruna terperanjat. "Apa ini artinya kamu positif hamil, Sayang?" Bibir Baruna seketika melengkung membentuk sebuah senyum. Alat tes kehamilan yang masih dipegangnya, menunjukkan kalau hasil tes yang dilakukan secara mandiri oleh Flo pagi itu, menyatakan istrinya positif hamil.
"Hmmm." Flo hanya mengangguk dan ikut tersenyum menatap wajah suaminya yang masih seolah tidak percaya akan hasil tes itu.
"Hasil tes ini sangat akurat, Bar. Aku sangat yakin kalau aku benar-benar hamil."
Berbeda dengan Baruna yang masih sedikit ragu, Flo justru sangat meyakini hasil tes itu. Semanjak mereka pulang dari berbulan madu, dia sudah sama sekali tidak mengalami datang bulan, sehingga dia menduga kalau dirinya pastilah mengandung benih dari suaminya. Dan hasil tes pagi itu pun menunjukkan hasil sesuai dengan dugaan dan harapannya.
"Sebentar lagi, kita akan punya bayi dan jadi orang tua, Sayang." Baruna mengecup kening dan pipi Flo tanpa henti.
"Terima kasih, Tuhan. Kau sudah melimpahkan begitu banyak kebahagiaan untuk kami. Bayi kami yang sudah Engkau ambil sebelumnya, kini sudah Kau kembalikan kepada kami. Dan aku berjanji akan menjaga dengan baik karunia-Mu ini," ucapnya sangat bersyukur atas semua rahmat Tuhan yang dia terima.
"Iya, Sayang. Aku yakin Mama Mutiara dan Papa Arkha, juga pasti akan sangat senang mendengar kabar ini," balas Flo seraya ikut memeluk Baruna sangat erat.
"Kita akan sampaikan berita bahagia ini pada mereka nanti, pas kita sarapan bersama, Sayang," ujar Baruna, terlihat sudah tidak sabar.
"Iya, Sayang." Flo mengangguk setuju. Kebahagiaan yang sama juga kini mengisi hatinya. Setelah mengalami keguguran, Flo memang sempat merasa khawatir akan kesehatan reproduksinya. Menyadari dia kini tengah mengandung, rasa khawatir itu seketika sirna.
.
__ADS_1
Matahari pun sudah beranjak dari peraduan dan mulai menunjukkan sinarnya dari belahan langit bagian timur.
Di pagi yang penuh kehangatan itu, senyum kebahagiaan juga tampak selalu menghiasi bibir Ardila.
Meski hari itu adalah Hari Sabtu dan dia tidak harus berangkat bekerja, tetapi dia tetap bangun lebih pagi demi membantu Mutiara menyiapkan meja makan untuk mereka sarapan bersama, seperti biasanya.
"Kamu kenapa, Sayang? Dari tadi mama perhatikan kamu senyum-senyum terus?" Diam-diam, Mutiara memperhatikan perbedaan sikap putrinya pagi itu.
"Nggak ada apa-apa, Ma," sahut Ardila berbohong. Tentu saja dia tidak ingin bercerita tentang sebuah kejutan yang akan dia sampaikan kepada semua keluarganya hari itu.
"Kalian berdua, masak apa untuk sarapan kita pagi ini?" Terdengar seseorang datang dan menyela pembicaraan mereka.
Arkha masuk ke ruang makan dengan tubuhnya yang terlihat bermandikan keringat. Dia baru saja selesai berolahraga pagi. Menyadari usianya yang semakin bertambah, Arkha memang selalu menjaga pola makan dan kesehatannya. Berolahraga secara teratur, membuatnya tetap bugar menjalani harinya.
"Bubur ayam kesukaan papa dan green salad favorite-nya Diaz," celetuk Ardila yang membuat Arkha dan Mutiara tersenyum lebar mendengarnya.
"Loh, kamu mengundang Diaz untuk sarapan bareng kita disini, Dila?" tanya Arkha.
"Aku tidak mengundangnya, Pa. Dia sendiri yang minta kesini, karena ada satu hal penting yang dia ingin sampaikan kepada kita semua," terang Ardila.
"Hal penting apa, Sayang?" Mutiara ikut merasa penasaran.
"Tunggu saja kejutannya, Ma!" sahut Ardila sambil terus menunjukkan senyum indah di bibirnya.
Arkha dan Mutiara hanya sejenak saling menatap dan sama-sama tersenyum.
"Ya sudah, papa mau ke kamar dulu. Setelah papa mandi dan ganti baju, papa harap sarapan sudah siap!"
__ADS_1
Arkha beranjak meninggalkan ruang makan menuju ke kamarnya dan Ardila bersama Mutiara kembali melanjutkan kegiatannya menyiapkan sarapan untuk mereka semua.