Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #37 Merasa Cemas


__ADS_3

Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Pergantian waktu sungguh tidak dapat ditunda.


Setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, kini Baruna sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Walau kondisi fisiknya sudah jauh lebih baik, akan tetapi tubuhnya masih lemah, luka bekas tembakan di kakinya masih membuatnya harus tinggal di rumah dan tidak bisa kemana-mana.


Pagi itu Baruna baru saja terbangun dari tidurnya, sambil menyandarkan punggungnya di tepi atas tempat tidur, Baruna terus memegang telepon seluler dan jarinya pun sangat lincah bermain di layar ponsel itu.


Ting!


Ting!


Ting!


Suara notifikasi pesan singkat terus terdengar dari ponsel itu tanpa henti. Setelah beberapa hari ponsel itu off, pesan beruntun sangat banyak masuk ke aplikasi pesan yang terinstal disana. Pesan-pesan itu diantaranya dikirim oleh teman-teman dekat Baruna yang sekedar bertanya kabar ataupun hal lainnya karena merasa berempati atas kejadian penembakan yang terjadi terhadapnya.


Maklum saja, selama di rumah sakit, Arkha memang menyita dan mematikan ponsel milik Baruna. Bukan tanpa alasan, tentu saja Arkha sengaja melakukan semua itu agar putranya bisa fokus untuk kesembuhannya tanpa gangguan dari siapa saja yang mencoba menghubunginya.


Selain itu, Arkha juga berusaha menutupi kejadian yang menimpa putranya itu agar tidak mejadi konsumsi hal layak ramai. Sebagai orang terpandang di kota itu, tentunya banyak orang yang menyoroti dan selalu ingin tahu akan kehidupan pribadi keluarganya.


Baruna memeriksa satu persatu pesan di ponselnya, perasaan gelisah terpancar jelas dari raut wajahnya. Dari sekian banyak pesan yang masuk di ponselnya, dia tidak menemukan satu pesan pun dari nomor ponsel Flo. Bahkan, ketika dia mencoba mengirim pesan untuk Flo, pesan itu justru hanya bercentang satu yang artinya pesan itu tidak tersampaikan ke nomor itu. Baruna juga berusaha menghubungi nomor kontak Flo. Akan tetapi, nomor itu tidak aktif.


Baruna menautkan kedua ujung alisnya. "Sudah semenjak kejadian itu, Flo tidak ada mengirim pesan untukku dan aku juga tidak bisa menghubunginya. Ponselnya tidak aktif, pesanku pun tidak tersampaikan. Ada apa dengan Flo?" batin Baruna penuh tanda tanya.


"Apa Daniel dan Diaz melakukan suatu hal yang buruk terhadapnya?" Baruna semakin tidak dapat menyembunyikan rasa gelisahnya, tatkala dia teringat akan perkataan orang tuanya.


"Daniel mencoba mencelakaiku karena aku punya hubungan dengan Flo, jangan-jangan sewaktu aku ada di rumah sakit dan tidak bisa berkutik disana, mereka sudah berbuat tidak baik terhadap Flo." Hati Baruna bermonolog, rasa khawatir itu semakin memenuhi perasaannya. Dia sangat takut sesuatu terjadi dengan kekasihnya.


"Bagaimana aku bisa mencari tahu tentang Flo?" Baruna menekan keningnya berusaha berfikir.


"Papa melarang keras aku berhubungan dengan Flo, sekarang papa dan Om Rendy juga mengawasi aku dengan sangat ketat. Sebelum kakiku benar-benar sembuh, papa pasti tidak akan mengizinkan aku keluar dari rumah ini," risaunya.


"Ya, Tuhan! Tolong lindungi Flo! Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya. Jangan biarkan Diaz ataupun Daniel menyakitinya. Aku sangat khawatir akan keselamatan Flo."


Baruna mengusap wajahnya, rasa cemas itu kian memenuhi jiwanya.


Klek!

__ADS_1


Terdengar pintu kamar itu ada yang membuka, dan senyum manis Ardila mengembang kala melihat Baruna sudah bangun dan duduk bersandar di headboard ranjangnya.


"Kamu sudah bangun, Una? Bagaimana kabarmu pagi ini, apa kakimu masih terasa sakit?" tanya Ardila sambil meletakkan sebuah nampan di atas meja nakas di sebelah Baruna.


"Kakak bawakan sarapanmu kesini. Kamu harus segera makan dan minum obat, supaya lukamu lekas sembuh."


Ardila mengangkat gelas yang berisi jus semangka dari nampan itu dan memberikannya kepada Baruna.


"Terima kasih, Kak!" Baruna meraih gelas jus itu dari tangan Ardila dan meneguknya perlahan.


"Kamu kenapa, Una? Kok Kakak lihat kamu sepertinya sedang gelisah?" Ardila mengernyitkan keningnya dan memperhatikan wajah adiknya yang terlihat murung seperti ada kegundahan yang tengah dipendamnya sendiri.


"Kak Dila, apa kakak bersedia membantuku?" Walau ada keraguan, Baruna tahu kalau hanya Ardila lah yang bisa membantunya saat itu.


"Membantumu? Membantu apa, Una?"


"Apa ... a-apa Kakak bisa mengantarku keluar jalan-jalan sebentar?"


"Jalan-jalan?" Ardila membulatkan matanya. "Kamu masih belum sembuh, Una. Kakak rasa jalan-jalan bukan hal yang harus kamu lakukan saat ini. Papa dan Mama pasti tidak akan mengizinkanmu keluar rumah dalam keadaan seperti ini!" tolak Ardila, tidak mau mengikuti permintaan Baruna.


Ardila hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah Baruna.


"Sebenarnya, kamu bukan ingin jalan-jalan kan, Una? Kakak tahu, pasti ada hal lain yang ingin kamu cari tahu di luar sana?" terka Ardila dengan penuh keyakinan.


Baruna menghela nafas dalam. "Iya itu benar, Kak," akunya jujur.


"Aku tidak bisa menghubungi Flo, Kak. Ponselnya tidak aktif dan semenjak aku di rumah sakit, dia tdak ada mengirim pesan atau mencoba menghubungiku. Setelah Daniel dan anak buahnya menyerangku, aku takut Daniel dan juga Diaz bisa saja berusaha menyakitinya," beber Baruna menyampaikan kecemasannya kepada Ardila.


Lagi-lagi Ardila menggelengkan kepala dan menarik nafas perlahan. "Kamu jangan lupa nasehat papa dan mama, Una. Sebaiknya kamu melupakan gadis itu. Seperti Kakak yang terus berusaha keras melupakan Diaz, seperti itu pula seharusnya kamu melupakan, Flo!" tegasnya.


"Tidak, Kak! Situasinya sekarang berbeda. Aku tidak bisa melupakan Flo. Aku juga harus bertanggung jawab atas semua perbuatanku terhadapnya. Tidak mungkin aku akan tega meninggalkannya, Kak!" kilah Baruna.


"Tanggung jawab?" Ardila mengerutkan dahinya. "Tanggung jawab apa, Una?" tanyanya heran.


"A-aku ... a-aku sudah mengambil kegadisan Flo, Kak," ungkap Baruna tanpa rasa canggung terhadap kakaknya.

__ADS_1


Ardila membuang nafas cepat mendengar pengakuan Baruna. "Ini bukan Sydney, Una. Disini kamu tidak bisa seenaknya mempermainkan seorang wanita. Gadis-gadis disini mudah terbawa perasaan, tidak seharusnya kamu melakukan itu terhadap gadis pribumi!" hardik Ardila, menunjukkan ketidaksukaanya terhadap prilaku hidup bebas, yang sudah menjadi kebiasaan adiknya.


"Aku tahu itu, Kak. Karena itulah, aku tidak mau meninggalkan, Flo. Selain itu, aku sangat mencintainya dan Flo juga mencintaiku. Kami berdua melakukannya atas dasar cinta, tanpa ada paksaan, Kak," ujar Baruna berterus terang.


Ardila hanya tesenyum datar, sebagai seorang wanita, nalurinya sedikit terpanggil. Dia menempatkan dirinya ada di posisi Flo saat ini. Karena itu, dia merasa iba dan tidak ingin Flo menyesal setelah apa yang sudah terlalu jauh dilakukannya bersama Baruna.


"Lalu, bagaimana caranya Kakak membantumu, Una?" tanya Ardila sambil menganggukkan kepala tanda dia setuju akan membantu Baruna.


"Antar aku keluar dari rumah ini, Kak. Kita akan sama-sama cari tahu keadaan Flo sekarang," sahut Baruna.


"Papa dan mama pasti tidak akan setuju kalau kita pergi berdua." Ardila terlihat ragu, dia tidak yakin kalau orang tuanya akan memberi izin kepadanya untuk bisa keluar rumah bersama Baruna.


"Kita belum mencobanya kan, Kak? Kalau kita tanya baik-baik sama papa dan mama, pasti mereka tidak akan melarang. Lagi pula, aku kan keluar sama Kakak bukan dengan orang lain," pungkas Baruna, berusaha meyakinkan Ardila.


"Baiklah, kita akan coba, Una," sahut Ardila setuju.


"Terima kasih banyak, Kak! Kak Dila memang kakakku yang paling cantik dan sangat pengertian," sanjung Baruna menggoda Ardila. Dia merasa senang karena kakak tirinya itu selalu mendukungnya.


"Nggak usah lebay!" cetus Ardila seraya mencebikkan bibirnya.


"Sekarang kamu sarapan dulu dan minum obat! Setelah itu, kita akan coba bicara sama papa dan mama. Semoga saja mereka mengizinkan kita keluar berdua," pinta Ardila setengah membujuk. Dia ingin agar Baruna menghabiskan sarapannya dan segera minum obat.


"Kakak juga harus sarapan, supaya nanti kuat menemaniku di jalan," seloroh Baruna menimpali.


Baruna lalu meraih nampan berisi sarapan pagi yang dibawakan Ardila untuknya dan meletakkan nampan itu di hadapannya.


Sambil menggigit multi grain toast kesukaanya, Baruna juga menyuapi Ardila sepotong cinamon raisin danish, dan mereka sama-sama sarapan di kamar Baruna.


...****************...


Buat yang sudah menantikan pengumuman pemenang give away dari Author, mohon bersabar ya! Wekkend besok akan diumumkan. Masih ada kesempatan beberapa hari untuk menambah dukungan untuk karya ini.


Selalu setia tinggalkan jejak dengan like, komen, vote serta hadiah untuk karya ini dan jadilah pemberi dukungan paling konsisten dan terbanyak.


Terimakasih dan selamat menunggu ya.....🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2