
Mengetahui sebuah kebenaran sering kali membawa seseorang dalam nestapa. Duka seperti itulah yang saat ini tengah dirasakan oleh Ardila. Mengetahui kenyataan bahwa dia bukanlah bagian dari Keluarga Waradana, merupakan sebuah pukulan berat baginya.
"Kenapa papa menyembunyikan rahasia sebesar ini kepadaku, Pa?"
Ardila menangis tersedu di pelukan Arkha. Hatinya begitu pilu ketika mengetahui bahwa orang yang dia anggap sebagai papa selama ini ternyata bukanlah ayah kandungnya.
Mereka kini sudah berada di ruang tunggu IGD rumah sakit dan menunggu petugas medis menangani Alfin yang sudah dalam keadaan sangat kritis.
Karena desakan Ardila, Arkha juga baru saja menceritakan semua hal di masa lalu antara dirinya dengan Alfin, hingga dia sampai mengakui bahwa Ardila adalah putri kandungnya.
"Secara biologis, Alfin memang adalah papa kamu, Ardila. Tapi, semenjak masih dalam kandungan mamamu, semua orang sudah mengakui bahwa kau adalah putri papa. Bahkan setelah papa mengetahui kalau kamu ternyata bukan darah daging papa pun, papa tetap menganggap kamu adalah putri kecil papa." Arkha mengusap lembut kepala Ardila penuh kasih sayang. Rahasia yang dia simpan selama puluhan tahun lamanya, akhirnya diketahui juga oleh Ardila, yaitu anak yang sebenarnya lahir dari hasil hubungan gelap antara Alfin dan Livina di masa lalu.
Sampai Ardila kini berusia dua puluh empat tahun, selama itu pula Arkha mampu menutupi semuanya. Apalagi semenjak lahir, Livina yang juga adalah mantan istrinya, secara tertulis memang sudah menyatakan bahwa Ardila adalah putri kandungnya dan mendapatkan nama belakang keluarganya. Semua itu membuat semua orang tidak ada yang mengetahui kalau sejatinya Ardila bukanlah anaknya, kecuali hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu akan hal itu.
"Sekarang aku paham kenapa Oma Yuna selalu membeda-bedakan aku dengan Baruna dan Arnav, Pa. Aku bukan cucu kandungnya, karena itulah Oma Yuna selalu membenciku," keluh Ardila. Dia juga kini menyadari ternyata sikap berbeda Oma Yuna yaitu mama kandung dari Arkha, selama ini adalah karena dia bukanlah keturunan Keluarga Waradana seperti halnya Baruna dan Arnav.
"Tapi papa dan Mama Mutiara tidak pernah membedakanmu, Ardila. Kamu tetap adalah putri di Keluarga Waradana. Dan sampai kapanpun, semua itu tidak akan pernah berubah," tegas Arkha sambil menatap lekat mata putrinya yang basah oleh air matanya yang tidak kunjung berhenti menetes.
"Bagiku, Kak Dila juga tetap adalah kakak kandungku, Kak. Aku sangat menyayangimu." Baruna yang kala itu ada di sebelah Ardila dan Arkha, juga ikut menimpali dan ingin mengurangi kesedihan Ardila.
Selama paramedis bekerja dan melakukan upaya penyelamatan untuk Alfin, Arkha, Baruna dan juga Ardila tetap duduk menunggu disana. Saat itu pulalah Arkha menceritakan semua tentang masa lalunya kepada dua orang anaknya itu.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter yang masih mengenakan jubah berwarna hijau, masker wajah serta penutup kepala keluar dari ruang operasi dan bergegas menghampiri mereka.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan papa saya, Dokter? Apa dia masih bisa diselamatkan?" sergah Ardila bergegas menghampiri dokter itu dan berharap mendengar berita baik darinya.
Dokter itu hanya sekilas menoleh ke arah Ardila, dia bergegas mendekati Arkha yang juga ikut beranjak dari tempat duduknya begitu melihat dia keluar dari ruang operasi.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Pak Arkha. Tapi, keadaan Pak Alfin memang sudah sangat kritis ketika sampai di rumah sakit ini. Maafkan kami tidak bisa menyelamatkan jiwa Pak Alfin. Pak Alfin sudah tiada," ucap dokter itu sambil membuka masker penutup wajahnya dan menunjukkan wajah sedih ke hadapan Arkha.
"Innalillahiwainnailaihirojiun." Arkha mengusap wajahnya dan menghela nafas panjang.
"Tidaakkk.....!" Ardila menjerit histeris dan langsung terduduk lemas di lantai tempatnya berdiri. Air mata kian deras mengalir membasahi pipinya.
"Tidak mungkin, Pa. Papa tidak boleh meninggalkan aku secepat ini," isaknya tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi pada Alfin yang baru saja dia ketahui ternyata adalah ayah kandungnya.
"Kak Dila, Kakak harus kuat, Kak!" Baruna langsung menghampiri Ardila dan ikut berjongkok di sebelah Ardila sambil memeluknya.
"Mengapa Tuhan sungguh tidak adil sama Kakak, Una? Kenapa Kakak harus lahir ke dunia ini karena kesalahan-kesalahan yang dibuat kedua orang tua kandung Kakak sendiri, Una?" Ardila menggeleng. Dengan suaranya yang terdengar serak, dia menumpahkan segala keluh kesahnya terhadap Baruna. "Mama Livina memilih mengakhiri hidupnya di rumah sakit jiwa, dan sekarang Papa Alfin juga sudah tiada. Kakak sudah tidak punya orang tua kandung lagi, Una."
"Kakak tidak boleh berkata seperti itu. Aku, Papa Arkha dan Mama Mutiara tetap adalah keluargamu, Kak. Sampai kapanpun Kakak tetap adalah bagian dari keluarga kami." Baruna terus berusaha menenangkan Ardila.
"Iya, Dila. Jangan pernah menyesali semua yang sudah terjadi. Selama ini, papa selalu mengganggap kamu adalah putri kandung papa. Walau sekarang kamu tahu kebenaran tentang dirimu, selamanya pandangan papa tidak akan berubah terhadapmu." Arkha juga kembali memeluk Ardila dan sambil mengusap air mata di pipi putrinya itu.
"Kuatkan hatimu, Nak!" ucap Arkha seraya membelai rambut di kepala putrinya. "Sekarang, ayo kita temui papamu untuk yang terakhir kalinya!" Arkha berdiri dan mengangkat pundak Ardila.
Ardila hanya mengengguk dan ketiganya lalu masuk untuk menemui Alfin dan melihat jasadnya.
__ADS_1
****
Keesokan harinya di sebuah area pemakaman, suasana haru dan sedih mengiringi upacara pelepasan terakhir Alfin. Tangis haru dari orang-orang terdekat Alfin pecah di antara kerumunan para pelayat terutama Ardila. Mengetahui kebenaran tentang Alfin justru pada saat-saat terakhirnya membuatnya merasa sangat sedih.
Begitu pula dengan Arkha dan Mutiara. Kendati selama hidupnya, Alfin banyak melakukan kesalahan dan selalu menanamkan permusuhan serta kebencian terhadap Arkha, namun sejatinya mereka adalah sahabat karib semenjak kecil. Kematian Alfin yang adalah karena keberaniannya menyelamatkan putrinya, juga membuatnya merasa sangat sedih.
"Relakan kepergian papamu, Dila. Beliau sekarang sudah tenang di alam sana." Mutiara memeluk erat tubuh Ardila dan terus menghiburnya.
"Tuhan sudah memberi hukuman kepada Papa Alfin dan Mama Livina, Ma. Mereka berdua banyak berbuat kesalahan semasa hidupnya. Mungkin karena itu Tuhan memanggil mereka lebih cepat." Ardila membenamkan kepalanya di dada Mutiara dan terus menangis.
"Tidak baik berkata seperti itu, Dila. Papamu Alfin, meninggal karena menyelamatkanmu. Semua itu sudah cukup membuktikan kebesaran hatinya. Dia sangat bertanggung jawab kepadamu, Sayang," ucap Mutiara sambil mengusap wajah Ardila.
"Terima kasih banyak karena Mama dan Papa selalu menyayangiku selama ini. Walau aku adalah anak dari orang-orang yang sudah berbuat jahat terhadap kalian, tetapi kalian juga selalu berbesar hati menerima dan menjagaku penuh kasih sayang." Ardila masih terisak. Setelah mengetahui siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya, dia semakin bisa merasakan kasih sayang Arkha dan Mutiara yang begitu tulus terhadapnya selama ini.
Meskipun suasana pemakaman kini sudah mulai sepi karena para pelayat sudah meninggalkan area pemakaman, akan tetapi Arkha, Mutiara, Ardila dan Baruna masih berada disana.
Mereka terus memandangi gundukan tanah yang masih basah, tempat dimana Alfin beristirahat panjang. Makam itu sengaja dibuat bersebelahan dengan makam Livina.
Setelah cukup lama disana, merekapun meninggalkan tempat itu dan menuju ke mobilnya.
Baruna berjalan paling belakang di antara semuanya. Dalam hati dia juga bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Ardila beserta kedua orang tuanya. Namun, di samping itu dia juga menyimpan kegundahan yang lain.
"Flo dan Diaz menghilang tadi malam tepat sebelum polisi menangkap Daniel. Aku sangat terharu dengan kejadian yang menimpa Om Alfin sehingga aku tidak sempat memperhatikan mereka. Kemana mereka pergi? Dan untuk apa mereka harus lari dan menghindar seperti itu?" pikiran Baruna dipenuhi berbagai pertanyaan karena kini dia menyadari Floretta dan Diaz tiba-tiba menghilang setelah kejadian tadi malam.
__ADS_1
"Aku harus mencari tahu dimana mereka berada." Baruna bergumam sendiri dan menghela nafas dalam-dalam. Ada perasaan yang tidak bisa dia mengerti kini berkecamuk di dalam benaknya.